Perjalanan Elok dan Berkelok di Bali Timur

09.58 Dea Maesita 1 Comments


Pernah ngerasa patah hati karena harus meninggalkan tempat tertentu untuk melanjutkan perjalanan/kehidupan yang selanjutnya? Itulah yang kami rasakan ketika harus meninggalkan Nusa Penida saat baru mulai menikmati keelokannya. Setelah satu hari berada di pulau ini, mau tidak mau kami harus menyeberang ke Pulau Bali (Pulau utama). 

Perjalanan dari Nusa Penida ke Pesinggahan
Kami menyeberang dari Pelabuhan Buyuk (Nusa Penida) menuju Pelabuhan Pesinggahan (Bali Timur), seperti yang sudah saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Kami berangkat menggunakan Caspla Boat dengan biaya Rp. 50.000. Ternyata kami berangkat bersama rombongan calon pengantin wanita yang kami tebak akan melangsungkan upacara adat. Mereka menggunakan baju adat lengkap dengan riasan rapi, plus barang-barang yang ditaruh di dalam keranjang bambu. Praktis, saya dan Tia menjadi satu-satunya turis di dalam perahu boat itu.

Perjalanan dari Pesinggahan ke Candidasa
Sesampainya di Pelabuhan Pesinggahan, Klungkung, Bali. Kami cukup berjalan kaki +- 5 menit untuk menuju jalan raya, di sebuah pertigaan besar dekat Goa Lawah. Tia langsung sigap memesan Grab Car. Namun pemesanan tersebut tidak berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang kami bayangkan. Ternyata armada Grab di Bali tidak sebanyak di Jakarta, sehingga kami harus menunggu lamaaa sekali. Masih untung kalau menunggu lama tapi drivernya tau jalan. Nah ini, kami harus menunggu lama tapi drivernya masih pake nyasar ketika ingin menjemput kami. Akhirnya kami sepakat membatalkan pesanan dan sepakat untuk naik angkot. Apa? Iya. Kami jalan-jalan di Bali naik angkot! :p 

Di dalam angkot menuju Candidasa, Bali Timur
Beruntungnya kami sempat mengobrol dengan warga asli Klungkung ketika di atas perahu boat. Jadi, kami sudah mempunyai gambaran beberapa alternatif transportasi selain Grab/Gojek yang bisa digunakan untuk sampai ke Candidasa, tujuan perjalanan kami selanjutnya. Saya dan Tia naik angkot (lupa jurusan apa, namanya susah euy) di kursi paling depan bersama Pak Supir. Syukurlah kami mendapatkan supir yang baik dan tahu letak hotel yang akan kami tuju. Beliau juga sempat kaget karena mengetahui bahwa kami hanya pergi ngebolang berdua, mana cewe-cewe pula.

“Ooh. The Natia Seaside Hotel? Iya bapak tau. Itu dekat sekali dengan rumah bapak. Jangan khawatir, nanti bapak turunkan di depan hotelnya persis”

Ternyata jarak menuju Candidasa lumayan jauh juga. Tapi karena pemandangannya yang indaaah sekali, perjalanan jadi nggak kerasa. Kami disuguhi pemandangan pantai + perbukitan + tebing dalam satu waktu. Nggak heran kalau sinyal handphone + sinyal di sini buruk sekali. Akhirnya kami turun persis di depan hotel dengan membayar Rp. 20.000 untuk 2 orang. Ngga tau biaya aslinya berapa, tapi kami menyodorkan uang Rp. 20.000 dan bapaknya menerima-menerima saja. Kalau tidak salah biaya menggunakan Grab pada saat itu sekitar Rp. 50.000, setidaknya kami hemat ongkos Rp. 30.000 karena tidak jadi naik Grab dan memilih untuk menggunakan angkot. 

Fyi harga hotel di Candidasa ini mahal-mahal sekali. Beruntunglah kami menemukan hotel The Natia dengan harga Rp. 320.000 semalam (sudah termasuk sarapan). Begitu sampai, saya dan Tia langsung jatuh cinta karena pemandangannya yang indah (langsung menghadap laut) dan kamarnya yang luas. Kasurnya bahkan muat untuk bertiga, karena ada Rofida yang datang dari Bali Utara untuk menemui kami dan ikut menginap. Rofida adalah sahabat pena asal Yogyakarta yang saya kenal melalui komunitas Cardtopost. Pada waktu itu dia sedang bekerja di Bali Utara dan dengan senang hati menyusul kami ke Bali Timur untuk menjadi teman perjalanan. 
Pertama kali bertemu Rofida (Lokasi: Resto Pizza di Candidasa)
Selepas ashar, kami singgah sebentar di resto pizza tepi pantai yang ternyata zonk. Kami pikir restonya ramai karena ada banyak sekali motor. Ternyata ketika masuk, kami menjadi satu-satunya grup yang makan di sana. Baru setelah itu kami tau bahwa motor-motor di depan resto adalah motor milik karyawan mereka yang bejibun! 

Berwisata Budaya Menuju Desa Adat Tenganan
Setelah kenyang, kami sepakat menuju Desa Adat Tenganan dengan menggunakan motor sewaan seharga Rp. 50.000 sehari. Ternyata lokasinya tak jauh, hanya sekitar 15 menit dari pusat Candidasa. Untuk masuknya tidak dikenakan tiket. Kami hanya perlu memberi donasi sebagai penggantinya. Rofida yang memang bekerja sebagai arsitek, dengan tekun memotret dan mengamati setiap bangunan yang ada di desa ini. Sedangkan saya dan Tia sibuk melihat-lihat sepintas dan lebih menikmati suasana yang cerah sekali pada sore itu, sambil sesekali selfie tentunya. Hehehe.

Pintu Masuk Desa Adat Tenganan
Sore hari menjadi pilihan yang pas untuk bertandang ke sana karena pada waktu-waktu itulah pemilik-pemilik rumah banyak yang bersantai sore di depan rumah mereka. Hampir semua warga di sana menggantungkan hidup dengan membuat kerajinan tangan. Di kanan-kiri jalan setapak, ada beberapa rumah warga yang bahkan disulap sekaligus menjadi toko suvenir. Saking artsy-nya, aya-ayam di sini juga diwarna-warnai biar makin cantik! :p 

Melepas Sore di Pantai Bugbug
Karena jalan-jalan ke Desa Adat saja kami rasa belum cukup, akhirnya kami bertiga pergi ke Pantai Bugbug sesuai panduan Rofida. Perjalanan menuju pantai ini ternyata unpredictable, karena kami harus melewati jalanan berkelok tajam dan naik-turun seperti hendak menuju gunung. Sesampainya di sana, pantainya memang ramai sekali, tapi bukan ramai dengan turis. Melainkan ramai dengan warga setempat yang beraktivitas, anak-anak yang bermain layang-layang, dan bapak-bapak nelayan. 

Saya dan Rofida menikmati sepanjang pantai berdua, sedangkan Tia memilih menunggui motor saja. Alasannya, ia tak ingin mengotori sepatunya dengan pasir pantai karena pada saat itu dia memang menggunakan sepatu yang air free (ada lubang udara di samping/bawahnya). Pada saat itu kurang lebih pukul setengah enam sore, langit masih cerah dan masih banyak sekali warga yang menikmati pantai. Saya dan Rofida berjalan semakin ke ujung untuk berfoto-foto hingga kami tak sadar bahwa langit mulai gelap. Anehnya ketika kami berbalik, pantai sudah sangat sepi. Kami pun cepat-cepat berjalan menuju tempat awal agar Tia tidak kelewat shalat maghrib (Pada saat itu saya dan Rofida sedang berhalangan). Apa yang terjadi setelah ini adalah pengalaman yang sebenarnya takut untuk saya ingat-ingat kembali. Iya, ini pertama kalinya saya mengalami kejadian aneh ketika sedang travelling!

Saya dan Rofida tidak bisa menemukan tempat parkir, padahal pantai itu bentuknya hanya sederet, dari ujung kiri ke ujung kanannya bisa dilihat hanya dengan pandangan mata biasa. Di ujung kiri ada beberapa batu (pulau kecil) di tengah laut dan di ujung kanannya juga ada penanda serupa. Hari semakin gelap, saya dan Rofida semakin panik karena tak ada penerangan sama sekali di pantai itu. Akhirnya kami bertemu dengan satu-satunya ibu penambang batu. Akhirnya kami memberanikan diri bertanya...

“Permisi.. Ibu tahu di mana letak tempat parkir motor?”

“Parkir motor apa ya, Mbak? Di sini tidak ada parkir motor”

Saya dan Rofida bertambah curiga. “Perasaan tadi kita nggak ngelewatin jalan berbatu kayak gini deh?”

“Iya betul. Tapi kita masih di pantai ini kan? Nggak pindah ke dimensi yang lain kan? Tuh, kita masih ada di antara pulau batu di ujung kiri dan pulau batu di ujung kanan”, kata saya sambil menunjuk ujung kiri dan ujung kanan pantai. Sambil mengingat film horror yang pernah saya tonton, Keramat.

Batu penanda ujung kiri pantai
Batu penanda ujung kanan pantai

Akhirnya kami menghampiri dua orang lelaki dan menanyakan hal serupa: di mana letak parkir motor. Tapi menyebalkan sekali! Di tengah kondisi panik dan bingung seperti itu, mereka berdua justru menertawai kami. Akhirnya kami meninggalkan mereka berdua sambil tetap hopeless. Di saat itulah saya memutuskan berdoa, menenangkan diri untuk bisa berpikir jernih. Saya berjalan menggenggam tangan Rofida. Kata Rofida, saya sempat menggenggam tangan Rofida sangat kuat, lalu kembali melemah. Padahal seingat saya, saya menggenggam dengan biasa saja. Jeng jeng!

Beberapa menit setelah kejadian itulah kami mendapatkan petunjuk. Kami menemukan sederetan rumah warga dan memutuskan untuk bertanya kepada seorang ibu denganmenanyakan hal yang masih sama: di mana letak parkiran motor. Akhirnya ibu itu tersenyum, mengetahui bahwa kami telah melalui kejadian yang sulit. Beliau juga bercerita hal serupa. Katanya, beberapa minggu yang lalu beliau juga pernah ditanya oleh turis India yang juga tersesat. Persis seperti kejadian yang Rofida dan saya alami. 

“Ayuk, ibu antarkan. Nggak apa-apa, mungkin mbak-mbak ini cuma pangling sama jalannya”, kata beliau menghibur kami.

Akhirnya kami tiba di parkir motor dengan selamat. Di sana kami bertemu dengan Tia kembali sambil meminta maaf karena sudah membiarkan dia menunggu sendirian di atas motor dalam waktu yang sangat lama. 

“Aku sebenernya tadi tuh ngeliat kalian. Kalian nggak belok ke parkiran sini, eh justru ngeloyor aja ke ujung pantai sana”, kata Tia setengah marah

“Kok nggak dipanggil?”, balas saya sambil masih meratapi nasib.

Akhirnya kami mengakhiri perdebatan dengan pulang menuju hotel. Sesampainya di hotel, Tia menyuruh saya untuk langsung masuk ke kamar mandi untuk keramas dan berwudhu. Bagaimanapun juga, saya merasa dan dirasa menjadi penyebab utama peristiwa aneh ini karena saya sedang menstruasi pada saat itu. Padahal saya tidak melakukan hal yang aneh-aneh sih.

Malam itu kami bertiga tidur berdempet-dempetan, masih agak parno dengan kejadian yang kami alami sesorean. Saya bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan Tia tak bisa tidur. Entah, Rofida...

Paginya Rofida izin pulang ke Bali Utara untuk kembali bekerja. Sementara saya dan Tia menikmati sunrise di invisible pool yang tersedia di hotel kami menginap. Rasanya sia-sia jika pergi ke Bali Timur tanpa menikmati matahari terbit. Kami yang pada saat itu bangun jam enam pagi pun langsung bergegas menuju tepi kolam. Ternyata matahari belum nampak dan langit belum terang-terang sekali. 
Catching the sunrise di Candidasa
Begitulah cerita unforgettable yang kami alami di Bali Timur. Di pagi itu, kami bersiap meninggalkan Candidasa untuk menuju tujuan terakhir kami yaitu Ubud. Simak postingan selanjutnya ya! 

Biaya perjalanan (untuk 2 orang):
Angkot (Pesinggahan-Candidasa): Rp. 20.000
Sewa motor (termasuk bensin): Rp. 50.000
Tiket masuk desa adat: Rp. xxx (donasi)
Hotel The Natia Seaside: Rp. 320.000

TOTAL: Rp. +- Rp. 400.000 sekian



You Might Also Like

1 komentar:

  1. njir serem amat de nyasar gitu, untung ga dibawa tukang odong odong khayangan.

    BalasHapus