Pesona di Balik Ketenangan Nusa Penida

10.30 Dea Maesita 2 Comments

Beberapa dari kamu mungkin ada yang satu tipikal dengan saya – jarang pergi traveling ke tempat-tempat jauh karena datang ke tempat-tempat seru di dalam kota saja sudah bisa menghilangkan kepenatan yang ada. Namun ketika coffee shops, galleries, toko buku, dan taman-taman di dalam kota sudah tidak bisa lagi menampung jenuh, tak ada salahnya kan, bepergian ke tempat yang jauh?

Bali, menurut kami (Saya dan Tia), pun bukan tempat yang terlalu jauh. Setidaknya hampir setiap orang pernah ke sana. Terhitung empat tahun yang lalu saya juga pernah menyambangi Bali, namun bersama tour darma wisata yang hanya mengunjungi tempat-tempat mainstream seperti rombongan wisata pada umumnya. Sedangkan saya dan Tia ingin menyambangi tempat-tempat yang agak berbeda. 

Cuma berdua? Iya. Rencana kami yang bisa dibilang cukup dadakan ini membuat teman-teman yang lain tidak bisa bergabung karena sudah mempunyai rencana yang lain. Kami baru mempersiapkan segala sesuatu (itinerary, memutuskan tempat menginap, transportasi yang akan digunakan, dll) pada tanggal 9 Maret 2016. Sedangkan rencana kami berangkat adalah 26 Maret 2016. Saya yang penat dengan pekerjaan kantor dan Tia yang galau gara-gara ujian IELTS dan aplikasi beasiswanya membuat kami nekat berangkat dalam rencana traveling yang hanya butuh waktu dua minggu untuk merencanakannya.

Oya, beberapa part dari perjalanan ini juga sudah pernah saya share ceritanya di instagram. Namun, tentu saja ada the untold stories yang terlalu panjang jika saya menceritakannya di sana. Mari kita mulai cerita perjalanan yang lebih lengkapnya!

Keberangkatan dari Tangerang ke Bali
Karena flight yang cukup pagi, maka saya memutuskan menginap di rumah Tia agar subuhnya bisa berangkat ke airport bersama-sama. Setelah salat subuh, kami langsung memesan taksi dan berangkat dari Ciledug menuju Soekarno Hatta dengan ongkos Rp. 150.000 (argo taksi plus karcis masuk tol). Tak terlalu jauh ternyata, jalanan juga masih sepi sekali. Setelah itu kami naik pesawat Lion Air menuju Bandara Ngurah Rai. Banyak teman yang menyangka kalau biaya pesawat kami mahal sekali karena jadwal kami pergi liburan adalah ketika liburan panjang Paskah. Kami punya trik untuk menyiasatinya. Ketika orang kebayanyakan berangkat bepergian pada Jumat dan pulang pada Minggunya, kami memundurkan jadwal satu hari saja agar tidak mendapatkan harga tinggi pada tiket pesawatnya, yaitu berangkat pada Sabtu, lalu pulang pada Selasa siangnya. Memang, kami harus mengambil tambahan cuti kantor dua hari. Namun kami bisa mendapatkan harga Rp. 800.000 untuk pulang-pergi Jakarta-Bali & Bali-Jakarta!

Sesampainya di Bali
Kami tiba tepat waktu dan siap menuju tempat tujuan pertama kami yaitu pelabuhan Sanur. Kami memutuskan menggunakan jasa taksi resmi bandara dengan fixed price sebesar Rp. 150.000. Sebelumnya kami mendapatkan info bahwa taksi resmi inilah satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan menuju Sanur karena Grab, Uber, dan taksi-taksi lainnya tidak diperkenankan memasuki bandara. Kalau ingin mencari moda transportasi lainnya, kita harus berjalan kaki keluar bandara. Sedangkan pada saat itu kami terburu-buru ingin mengejar penyebarangan pagi di pelabuhan Sanur.

Menyeberang dari Pelabuhan Sanur ke Pelabuhan Nyuh Nusa Penida 
Kami diantarkan oleh supir taksi kami ke loket langganannya. Namun sayang, ternyata perahunya sudah lebih dahulu menyeberang sebelum kami tiba. Setelah Bapak Supir Taksi pergi, kami pun bengong berdua dan ketika itulah calo itu mendatangi kami. Bapak-bapak berperawakan tinggi besar yang jari-jarinya dipenuhi batu akik itu memaksa kami menggunakan jasanya, padahal kami sudah mengatakan tidak usah. Pada awalnya dia menawarkan tiket Maruti Express seharga Rp. 150.000 per tiketnya, namun akhirnya dia melepas dengan harga Rp. 100.000 per tiket. FYI, harga sebenarnya adalah Rp. 75.000, jadi kami rugi Rp. 25.000. Namun tidak apa-apa, hal ini menjadi pelajaran bagi kami agar tak mudah percaya dengan sembarang orang nantinya. Bagaimanapun juga, perjalanan kami ini barulah permulaan.

Maruti Express (Sanur - Nusa Penida)
Sesampainya di Pelabuhan Nyuh Nusa Penida
Dalam bayangan kami, di Pelabuhan Nyuh ini bakalan ada banyak orang yang mengerubuti kami menawarkan jasa sewa sepeda motor. Tapi kenyataannya, hanya ada satu orang bapak yang mendatangi kami. Dia menawarkan harga sebesar Rp. 100.000 lalu kami tawar menjadi Rp. 75.000. Si Bapak menyerahkan motornya kepada kami.

"Lah, spionnya mana, Pak?", tanya saya yang sok tertib padahal kalo di Jakarta nggak tertib-tertib amat; masih sering nebeng nggak pake helm dan kadang melawan arus. Akhirnya Si Bapak mengeluarkan spionnya dari dalam jok, itupun cuma dipasang satu di sebelah kanan.

Beberapa menit kemudian saya protes lagi. "Helmnya mana, Pak?"
"Nggak usah pakai helm nggak apa-apa, Mbak. Nanti kalau dimarahin polisi, bilang saja kalau nyewanya di Pak xxx. Semua polisi di sini juga kenal".

Berkeliling Nusa Penida dengan Motor Sewaan
Setelah motor sudah di tangan, barulah kita sadar di sepanjang perjalanan nggak ada yang pake helm! Pantas saja Pak xxx berani bilang seperti itu. Boro-boro liat polisi nilang, mobil yang lewat saja bisa diitung pake tangan :")

Menginap di Full Moon Inn Nusa Penida
Kami tiba dengan tenang di Nusa Penida karena pada jauh-jauh hari sebelumnya sudah memesan penginapan melalui booking.com. Namun ternyata setelah sampai di penginapannya, ownernya tidak ada di tempat dan sepertinya kami akan disuruh menunggu lama. Karena belum melakukan pembayaran sama sekali, akhirnya kami membatalkan pemesanan penginapan itu, lalu mencari penginapan lain secara on the spot. Akhirnya kami memutuskan menginap di Full Moon, bungallow di tengah-tengah kebun kelapa Banjar Ped yang teduh dengan harga Rp. 200.000 per malamnya. Pada saat kami tiba, ada banyak sekali perempuan & pemuda sebaya yang membawa papan surfing. Ternyata kami baru tahu bahwa penginapan kami juga menyediakan jasa tour keliling Nusa Penida. Mereka juga sempat menawari jasanya kepada kami. Namun saya dan Tia memutuskan untuk mengelilingi pulau ini hanya berdua, tanpa menggunakan jasa dari mereka. 

Istirahat Siang di Full Moon Bungalow Nusa Penida

Berangkat Menuju Pasih U’ug dan Angels’ Billabong
Berbekal peta manual yang digambar dengan tangan oleh Bli Arcana, resepsionis yang ada di penginapan, kami berangkat menuju Pasih U’ug dan Angel’s Billabong. Kami cukup was-was karena cuaca cukup mendung dan kami berangkat pukul 15.30 WITA, sangat sore untuk memulai sebuah adventure hanya dengan berbekal sebuah peta. Layaknya sebuah team, kami bagi-bagi tugas. Tia yang menyetir selama perjalanan dan saya yang menjadi pemandu arahnya. Tak jarang kami nyasar, namun kami bisa menemukan warung/petani/rumah-rumah penduduk yang masih bisa ditanya. Untungnya juga, di pulau ini saya masih bisa membedakan mana arah utara, timur, barat, dan selatan tanpa bantuan kompas.

"Siaul Lo, De!", ekspresi Tia waktu saya sibuk ngejepret dia padahal do'i lagi konsen-konsennya nyetir di jalanan yang berpasir kemudian melihat saya ngacir. Jalanan yang naik-turun, berpasir, dan menembus hutan ini membuat perjalanan kami ke Pasih U'ug dan Angel's Billabong menjadi terhambat. Saya pun harus rela turun dari motor, membiarkan Tia nyetir motornya sendirian, saya jalan kaki sampe ke tempat yang aspalnya normal, lalu naik ke motor lagi sampai beberapa kali. Buat yang penasaran, cek tracknya di google streetmap deh. Pertama kali liat tracknya di google saja saya sudah merinding. 

Jalanan Berpasir dan Tidak Rata Menuju Pasih U'ug
Awalnya sempat tergesa-gesa karena kami baru sampai di lokasi hampir jam lima sore setelah 1,5 jam perjalanan menggunakan motor. Tapi ternyata banyak juga orang yang masih di sana, suasananya juga belum gelap sama sekali. 

Menikmati Angel’s Billabong, Pasih U’ug dan Tebing-tebing
Alam bawah sadar lah yang membawa saya jauh ke sini, Pasih U'ug a.k.a Pasih Uwug. Jadi begini ceritanya... Di kantor ada kalender meja yang tiap hari saya hadapi dan saya bolak-balik karena pekerjaan saya berkaitan dengan schedule men-schedule. Kalender di masing-masing bulannya ada foto obyek wisata dari seluruh Indonesia, dan Pasih U’ug merupakan salah satunya. Saya baru sadar ketika H-2 mau berangkat, ternyata foto di kalender bulan Maret adalah Pasih U’ug yang memang ada di list itinerary kami! Begitu nyampe lokasinya langsung histeris "Ini nih yang ada di kalender meja gue!". Lubang yang ada di tengah-tengah yang seakan membentuk jembatan ini merupakan akibat dari penggerusan air laut. Tak hanya sibuk foto-foto, kami juga sempat mengobrol dengan travelers yang lain, termasuk pasangan suami-istri yang dua-duanya merupakan fotografer. Oya, kalau ke sini, jangan takut juga untuk menengok kubangan yang ada di dalam Pasih U’ug ini. Airnya jernih dan ikannya banyak sekali!

Pasih U'ug. Can you see me right there?:p
Angel's Billabong a.k.a Kolam Bidadari ini letaknya cuma beberapa ratus meter setelah Pasih U'ug. Untuk menuju ke situ tidak ada papan petunjuk jalannya, jadi jangan harap menemukan lokasinya secara mandiri, at least pake nanya sama tourist lainnya deh. Infinity pool yang di bawah itu terbentuk alami karena air pasang yang mengisi cekungan. Dasar kolamnya bening sekali, cocok buat berenang dan ngambang-ngambang. Sayangnya saya nggak bisa berenang plus males harus turun dari tebing sedalam 3-5 meter dari tempat saya duduk ini.

Angels' Billabong a.k.a Kolam Bidadari
Tebing yang tidak ada namanya ini kami temukan tak jauh dari Angels’ Billabong. Betul-betul ngawur karena cuma kami berdua yang ada di sana sore tadi, mungkin kayak gitu kali ya sewaktu Columbus menemukan Benua Amerika :p Warnanya mengingatkan kami dengan milkshake warna biru, membuat kagum sekaligus haus di saat yang bersamaan. Setelah lega mendapatkan 3 objek wisata dalam waktu yang bersamaan, kami memutuskan untuk pulang. Kami cabut dari lokasi pukul enam enam sore lebih, tapi say whaat? Masih lumayan terang lho! Sampai sekarang kami masih tidak percaya sudah melewati pengalaman itu semua padahal cuma berdua dan cewe-cewe. Meskipun merasakan hal-hal yang agak ganjil selama perjalanan pulang, beruntungnya nggak ada hal yang buruk menimpa kami, cuma keesokan paginya ban motor kami bocor sih. Jeng jeng!

Tebing (Yang entah apa namanya) tapi bagus

Sarapan di The Gallery
Akhirnya kami menemukan tempat sarapan yang nyaman dan ternyata hanya berjarak satu meter dari tempat kami menginap. Untuk perihal makan, saya kompakan dengan Tia “Nggak doyan makan!”. Pada hari pertama sampai di Nusa Penida, kami hanya makan siang dengan beberapa keping biskuit yang kami beli dari swalayan kecil di dekat pasar. Untuk makan malamnya, saya hanya makan dengan omelet yang sudah pasti halal. Dan di hari ke-dua di Nusa Penida ini, saya sarapan dengan Banana Pancake dan Rosella Tea hangat di The Gallery.

Sarapan di The Gallery

Pemilik tempat sekaligus kokinya adalah Pak Mike, bule yang kemampuan Bahasa Indonesianya udah lancar sekali. Bunga Rosella dan beberapa bahan yang tersaji di rumah makan ini beliau tanam sendiri di kebun belakang rumah. Fix, setiap kali meminum teh rosella saya akan teringat dengan tempat ini. Ternyata bukan hanya local people yang level sincerity-nya tingkat dewa. Atau karena udah kelamaan tinggal di situ jadi sifatnya mengikuti local peoplenya kali ya? Beliau bahkan mengingatkan saya untuk cepat-cepat makan. "Nanti kalau lembek, pancakenya tidak enak”.

Gagal ke Bukit Atuh dan Tanglad (Bukit Teletubbies)
Pada hari ke-dua di Nusa Penida, seharusnya masih ada dua tempat tujuan lagi yang ingin kami capai yaitu Bukit Atuh (yang pemandangannya terkenal nggak beda jauh dengan Raja Ampat) dan Tanglad (Bukit Teletubbies). Namun ada tiga alasan yang membuat kami tak jadi pergi:
1. Ban motor kami masih bocor dan tambal ban baru buka pukul delapan pagi
2. Hujan
3. Tia sudah tidak sanggup menyetir di medan berat seperti perjalanan kemarin

Akhirnya kami merelakan dua tempat tujuan itu, lalu bergegas mengepak barang bawaan dan mencari tiket menyeberang ke Bali. 

Menyeberang dari Pelabuhan Buyuk Nusa Penida ke Pelabuhan Pesinggahan
Karena ingin melanjutkan perjalanan ke Bali Timur, kami tidak menyeberang ke Sanur, melainkan ke Pelabuhan Pesinggahan. Kami menaiki perahu Caspla Boat seharga Rp. 55.000 per orangnya. Sebetulnya kami bisa-bisa saja menyeberang ke Padang Bai dari pelabuhan Buyuk ini. Namun menurut saran dari Ibu-ibu di tempat kami menambal ban, kami disarankan menyeberang ke Pesinggahan saja daripada ke Padang Bai. “Dari pelabuhan Padang Bai, kamu harus naik ojek dulu ke luar pelabuhannya, baru kemudian bisa mencari transport. Tapi kalau di Pesinggahan, kamu hanya perlu jalan kaki 5 menit untuk bisa mencari transport”. Berbekal dari tips ibu itu lah akhirnya kami memutuskan menuju Pelabuhan Pesinggahan. Bersambung.

Caspla Boat (Buyuk - Pesinggahan)

P.S. Di postingan blog berikutnya saya akan menceritakan perjalanan selama di Bali Timur. Menyinggahi pantai yang masih tak banyak orang tahu dan Desa Adat Tenganan. Tunggu yaa! ;) 

Catatan Pengeluaran untuk 2 orang:
Taksi Ciledug – Bandara Soetta: Rp. 150.000
Pesawat Jakarta-Bali: Rp. 800.000
Taksi Ngurah Rai – Pelabuhan Sanur: Rp. 150.000
Maruti Express (Pelabuhan Sanur – Pelabuhan Nyuh): Rp. 200.000
Sewa motor + ongkos ojek bapaknya: Rp. 100.000
Bensin: Rp. 100.000
Penginapan Full Moon: Rp. 200.000
Makan 2x: Rp. 120.000
Tambal ban: Rp. 10.000
Caspla Boat (Pelabuhan Buyuk – Pelabuhan Pesinggahan: Rp. 110.000

TOTAL: Rp. 1.940.000 untuk 2 orang



You Might Also Like

2 komentar:

  1. yang billabong's angeal pernah ada di MTMA juga. bagus banget ya mbakkkk, nggak nyangka ternyata medannya berat jg. maklum kalo di tv biasanya ngasi liatnya hasil akhir aja, beda kalo di blog yang diceritakan prosesnya :D

    seru banget! bikin makin kangen Bali :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa bagus. Bahkan pantai-pantai di pinggiran (yg bukan tempat wisatanya) pun bagus!

      Aku juga pengen ke sana lagi, masih penasaran sm yg sisi timur pulaunya :"D Ngga cukup kalo cuma sehari

      Hapus