Hitam di Jingga

02.34 Dea Maesita 0 Comments



Lelaki bermata coklat itu menatap bayangannya pada tornado legam yang diciptakannya sendiri di pantry. Kopi hitam pukul sebelas, satu-satunya teman yang memaksanya terjaga untuk menyelesaikan tenggat pada malam keempat. Bagaimanapun juga, berita yang dibacanya di surat kabar tadi siang cukup membuat keningnya pening. “Seorang Copy Writer tewas akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman bersuplemen dan lembur selama tiga malam.” Maut masih menjadi takdir orang lain, belum giliranku. Ia meneguk kopinya dalam satu tegukan. Menjilati ampasnya sampai ke pelipiran.

Copy Writer yang belum juga menyelesaikan tenggatnya pada malam keempat itu bernama Raga. Ia bekerja di salah satu kantor digital agency di kawasan Blok M, tempat di mana kreativitas dipuja-puja, kantor yang dipenuhi pekerja dengan otak-otak kanan yang lebih dominan jika dibandingkan dengan bagian otak lainnya. Di kantor itu, Raga mendapatkan julukan Pangeran Kopi. Bukan hanya karena jabatannya sebagai anak copy (baca: kopi), tapi karena ia juga sangat mencintai kopi lebih dari apapun. 

Anehnya, meskipun dapur di kantornya penuh dengan susu, teh, es krim, vodka, bir, dan beraneka minuman lainnya, hanya ada satu jenis minuman yang selama belasan tahun ini telah dengan setia disesap Raga; Kopi Gayo dari Aceh. Ia tak pernah mengungkap perihal keterikatan batin ini kepada siapapun, bahkan kepada Pongki, sahabatnya sendiri. Pernah pada suatu hari, Pongki yang bekerja sebagai travel writer membawakannya kopi dari tempat yang baru dikunjunginya. Dengan wajah berbinar-binar sepulang kerja (alias liburan), Pongki mendatangi Raga. 

“Nih, Bro. Gue bawain kopi dari Mandailing, Belitong, dan satu lagi dari Lampung. Gimana, Bro? Lo pasti seneng banget kan? Saking senengnya Lo pasti mau meluk gue kan?”

Raga betulan memeluk Pongki. Namun sampai sekarang, kopi-kopi itu hanya mendiami toples yang tak pernah ia sentuh. 

Pengalaman mencicipi kopi yang membuatnya hidup itu dimulai ketika Raga masih duduk di kelas 5 SD. Pada saat itu pamannya pulang dinas dari Takengon. Pergi meriset penyakit yang menyerang tanaman kopi organik, katanya. Raga sendiri baru tahu bahwa tanaman juga bisa sakit. Maklum, di sekolah, ia memang lebih menyukai pelajaran Bahasa Indonesia ketimbang IPA. 

Dari semua oleh-oleh yang dibawakan paman untuk keluarganya, ada satu benda yang paling menarik perhatian Raga; satu bungkus Kopi Gayo asli, yang sebetulnya dibawakan paman untuk Ayah Raga. Ia sendiri mendapatkan oleh-oleh peci bordir khas Aceh, namun wangi dan serbuk-serbuk kopi itu lebih membuatnya jatuh cinta ketimbang sulaman-sulaman benang putih yang menghiasi kain beludru hitam. Namun sayang, hati kecilnya harus patah ketika ibu membawa bungkusan itu ke dapur. Selama ini ibunya memang tak pernah mengizinkan Raga minum kopi. Alasannya, ia belum cukup dewasa untuk hal ini. 

Namun rasa penasaran Raga ternyata mengalahkan segalanya. Setelah mengintip ayah dan ibunya tertidur pulas, dengan hati-hati ia mengendap-endap ke dapur. Ia merasakan ada sesuatu magis yang menembus jiwanya. Mungkin dewa kopi telah merestuiku malam ini, batinnya dalam hati. Semenjak saat itu Raga tak pernah absen berlangganan Kopi Gayo dari kiriman rekan pamannya, tentu saja dengan dibumbui sedikit kucing-kucingan agar tak ketahuan.

Pemilik kebun kopi sendiri itu bernama Abduh, penduduk asli Takengon, Aceh Tengah, yang sudah berbisnis komoditi kopi secara turun-temurun. Ia tinggal berdua dengan satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya bernama Jingga. Sebagai gadis yang tinggal di daerah perbatasan negara, ia menerima banyak sekali tawaran beasiswa dari sekolahnya. Ia tak hanya selalu mendapatkan ranking pertama di kelas, ia juga memenangkan berbagai macam lomba baik di tingkat daerah maupun provinsi. Namun tekad Jingga selalu bulat. Ia memilih untuk membantu ayahnya berkebun dibandingkan meneruskan pendidikan ke Pulau Jawa. 

Pada awalnya banyak pihak yang menyayangkan hal tersebut, termasuk guru-guru, tetangga, dan tentu juga ayahnya. Bagaimanapun juga, mereka menginginkan Jingga untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, tidak seperti ayahnya yang hanya lulusan SMA dan berbisnis dengan kemampuan yang seadanya. Namun lambat laun, mereka semua akhirnya bisa menerima hal tersebut. Terlebih ketika bisnis ayahnya melaju lebih pesat semenjak keterlibatan Jingga di dalamnya. Dengan kemampuan bahasa inggris dan berrelasi yang baik, Jingga berhasil mengembangkan bisnis ayahnya dengan mengekspor berton-ton kopi ke Amerika setiap musim panen. Sebuah rekor baru dalam bidang komoditi kopi di Takengon karena sebelumnya tak pernah ada yang berhasil menembus pasar Amerika. 

Gadis berrambut ikal ini punya kebiasaan unik tiap pagi yaitu menyiumi pohon kopi yang terletak paling dekat dari teras rumahnya. Jingga tumbuh bersama pohon itu. Ketika masih duduk di bangku TK, ayahnya menanam pohon itu dari sebuah batang berukuran 15 senti. Kini sang pohon sudah berukuran 2-3 meter, cukup matang untuk melahirkan biji-biji kopi terbaik setelah dirawat dengan penuh kasih. Tidak lupa, ia juga selalu menyisakan stok 200 gram Kopi Gayo setiap bulannya kepada pelanggan tetap ayahnya yang ada di Jakarta.

“Yah, kenapa kopi kita tidak diekspor semua saja? Toh kalau dihitung-hitung harganya jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan harga yang ayah berikan kepada pelanggan ayah itu”, protes Jingga pada suatu senja.

“Tak bisa, Nak. Pelanggan kita ini orang yang spesial, keponakan dari Oom Ajun yang telah berjasa menyelamatkan kebun kita dari hama penyakit berpuluh-puluh tahun yang lalu. Lagipula, masa’ kita membiarkan orang dari negara lain mencicipi kenikmatan dari apa yang kita tanam di negeri sendiri, sedangkan kita tak membiarkan masyarakat di bumi pertiwi untuk menikmatinya? Kita tak boleh serakah, Nak. Atau kita akan mati dengan sia-sia.”

Jawaban ayahnya membuat Jingga tersenyum. Entah mana alasan yang lebih berpengaruh, mengetahui kalau ternyata yang menjadi pelanggannya adalah keponakan Oom Ajun, atau karena pernyataan penuh nasionalisme yang dilontarkan oleh Ayahnya.

“Seperti apa orangnya, Yah? Apakah mirip dengan Oom Ajun? Putih, tinggi, dan punya tawa yang juga ramah?”, tanya Jingga penuh selidik kepada ayahnya. Sepertinya alasan pertama lebih berpengaruh.

Berminggu-minggu kemudian Jingga tak pernah absen membayangkan bagaimana kopi ini menemani pria itu sehari-hari. Menebak-nebak, apakah jauh di Ibukota sana, ia meramu kopinya sendiri, mungkin pembantunya, atau malah istrinya? Pikiran-pikiran kecil itu membuat Jingga sedih, hingga pada suatu hari ia mendapatkan mimpi. Ia bermimpi bertemu dengan pria itu di kebun belakang sungai. Pria itu menjabat tangannya, hangat. Tak ada cincin yang melekat pada sepuluh jari pria itu. Semenjak saat itu, secercah harapan muncul di benak Jingga. 

Jarum jam menunjukkan pukul delapan ketika Jihan selesai berkeliling untuk memastikan tak ada pemetik kopi yang tak datang. Sambil termenung, ia membayangkan lelaki itu yang mungkin sedang mengutuk macetnya jalanan Jakarta. 

“Yah, siapapun dia, kenapa bisa sesetia itu dengan kopi hasil kebun kita ya?”, tanya Jingga sambil berpura-pura membolak-balik majalah dengan cepat. Gugup. 

“Pas sekali kamu menanyakan hal itu, Nak. Kemarin pagi ketika ayah hendak pergi ke masjid, ada nomor panggilan tak dikenal yang muncul di layar ponsel ayah. Ternyata ia adalah Raga, keponakan Oom Ajun yang menjadi pelanggan kita. Dia juga persis menanyakan hal seperti apa yang kamu tanyakan ke ayah. Ia bilang, ia tak tahu mengapa bisa dengan setianya ia meminum kopi kita selama berbelas-belas tahun. Oya, prediksimu juga benar, ia mempunyai tawa yang juga ramah.”

“Benarkah? Ayah, bagaimana kalau Jingga saja yang mengantarkan kopi ini ke Jakarta? Ayah punya alamat lengkapnya kan?”  

“Tentu saja. Tapi Ayah pikir kamu tak pernah ingin meninggalkan kebun ini, Nak. Boleh saja, kalau itu baik untukmu”, jawab Ayah Jingga sambil tersenyum. Bagaimanapun, ia juga pernah muda. Dan pancaran di mata Jingga saat ini mengingatkannya pada tatapan istrinya ketika mereka berdua sedang jatuh cinta. 

Sebuah gedung di Blok M lantai 12. Raga masih terjebak di ruangan meeting ketika perempuan itu tiba di meja resepsionis. Sudah pukul lima sore lebih, tapi belum juga ada tanda kapan briefing itu selesai. 

“Kenapa nggak ditaruh di meja gue aja sih paketnya?”, kata Raga ketika Office Boy mengingatkannya tentang tamu tak dikenal yang masih setia menunggunya di lobby untuk mengantarkan kopi. Bagaimanapun juga Raga tak enak hati karena telah membiarkan orang itu menunggu lama. Selain benci menunggu, ia juga tak pernah suka ditunggu. 

“Saya ingin bertemu langsung dengan orang yang sangat setia meminum kopi dari kebun saya”, jawab Jingga dengan lantang. Raga merasa semakin berdosa karena telah membiarkan omelan yang ditujukannya ke OB malah sampai ke telinga tamunya sendiri. 

“Jadi kamu jauh-jauh ke sini untuk mengantarkan ini? Untuk menebus rasa nggak enak hati saya, bagaimana kalau saya ajak kamu berkelilng Jakarta? Di dekat sini ada tempat makan yang asyik, namanya Gultik.” Briefing selama lima jam telah membuatnya lapar maksimal.

“Gultik? Gulai Itik? Terima kasih, tapi saya tidak makan itik.” 
Jawaban Jingga membuat Raga terpingkal-pingkal. 

“Kamu kebanyakan dengerin musik dangdut sih. Gultik itu bukan Gulai Itik, tapi singkatan dari Gulai Tikungan. Letaknya ada di situ tuh, tepat di dekat belokan.” 
Penjelasan Raga langsung disambut dengan bunyi “Oooh” yang panjang dari mulut Jingga. 

Mereka bercanda sepanjang malam, menyusuri liku jalanan Jakarta sambil tak berhenti menebar tawa. Namun seperti kehidupan yang juga fana, kebahagiaan itu hanya berlangsung sekejap. Seperti sapu lidi yang sudah berusaha disusun dengan rapi sekali, lalu ambyar ketika tali terputus dari ikatan.

“Bulan depan tidak usah mengirim kopi-kopi lagi ya. Saya mau stop dikirimi kopi” 

Satu kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Raga. Jingga tak bertanya mengapa. Ia hanya tersenyum sambil menarik koper menjauh dari pria yang diidamkannya, mengutuki dirinya sendiri mengapa hatinya bisa sebodoh itu dicandui oleh seorang pecandu kopi yang baru ia kenal kurang dari sehari. Namun sama halnya dengan kebahagiaan, kesedihan Jingga juga tak terjadi berlarut-larut lamanya. Jingga sedang sibuk mengurus panen raya di awal April ketika lelaki itu datang. 

“Kenapa tak bilang kalau saya sedang tidak bisa diganggu saja? Biar ia datang bertamu di lain hari”, omel Jingga kepada anak buahnya yang memberitahukan bahwa ada tamu yang memaksa ingin bertemu.

“Saya datang untuk bertemu dengan orang yang dengan rela mempercayakan kopi-kopinya kepada saya. Nggak boleh?, jawab Raga dengan lantang. Rupanya omelan Jingga terdengar nyaring di telinga Raga.

“Jadi ini alasan kamu bilang ingin stop dikirimi kopi? Agar bisa datang untuk mengambil kopinya sendiri?”

Raga tak menjawab, tapi kedua tangannya spontan merentang dan kemudian memeluk Jingga. Di sini, di perbukitan Amor, Takengon, Aceh Tengah, buih-buih cinta semakin meriah. Jingga mempersilakan Raga duduk di teras sambil menceritakan kebun kopi yang dibanggakannya. Kabut dingin menyeruap kulit. Jingga pamit masuk ke rumah untuk membuatkannya secangkir kopi yang baru matang dari mesin gilingan. Tak lama kemudian ia datang sambil membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul.

“Cara minum kopi di sini berbeda dengan Jakarta. Kopinya harus langsung diminum agar hawa panasnya tak menguap dikalahkan oleh dinginnya cuaca”, kata Jingga menasehati, yang kemudian diikuti dengan anggukan Raga.

“Mungkin itu juga sebuah metafora bahwa saya juga tak boleh lama-lama mengungkapkan cinta agar orang yang saya suka tak kecewa menunggu saya”, goda Raga sambil menatap dalam mata Jingga.
Terkadang kita tak tahu siapa dan di mana orang yang menikmati sesuatu yang kita hasilkan dengan penuh cinta. Tapi percayalah, semua akan tiba pada waktu yang tepat ketika kita sudah memiliki hak untuk mengetahuinya. 

TAMAT


(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com)

You Might Also Like

0 comments: