What We Think About When The People Talk About Our Life

22.32 Dea Maesita 2 Comments



Time pass, people change. Sounds cliche but, darn it’s true!

Dulu-dulu kalau ngeliat jendela kamar kebuka atau lampu nyala, janjian hanya sesederhana mengetuk pintu dan memanggil nama sang empunya. Sekarang beda, mau janjian buat curhat aja harus buka notifikasi whatsapp dengan serentetan pertanyaan:
"Mbak, pulang ke kosan jam berapa?"
"Lagi banyak kerjaan engga?"
"Capek ngga?"

Saya sampai terlanjur hafal. Kalau udah kayak gini, sahabat kesayangan saya yang satu itu pasti sedang sekarat. Sekarat ingin menumpahkan rasa gelisahnya ke saya sampai-sampai nggak bisa menunggu. 

Beberapa jam kemudian percakapannya menghiasi kamar. Dia bilang kalau beberapa tetangga di sekitar kosan sering penasaran. Mempertanyakan teman saya ini kerja di mana, udah jam segini kok belom berangkat kerja, dan dicurigai yang enggak-enggak (If you know what i mean). Tentu saja dia tersinggung, apalagi ketika tetangga-tetangga sampai menanyakan hal itu kepada pembantu di kosan. 

Sayangnya nggak semua orang tau kalau di dunia ini ada kerjaan yang namanya freelancer. Sahabat saya yang bekerja di salah satu perusahaan kontraktor ini jam kerjanya memang nggak tentu. Bahkan seringnya siang di kosan dan tengah malemnya baru berangkat kerja karena proyeknya baru bisa dikerjakan ketika mall/kantor itu tutup. Nggak bisa dipungkiri bahwa kosan kami yang dekat dengan pangkalan ojek dan pos ronda, menjadi lahan yang subur untuk... saya nggak bisa menuduh mereka bergunjing. Tapi bukankah masuk akal?

Beberapa hari kemudian sahabat saya datang lagi, yang kali ini langsung mengetuk pintu. Dia menceritakan kalau beberapa tetangga juga mengkhawatirkan kosan kami yang penghuninya sering membawa laki-laki ke dalam kamar. Oh well, how do they know? Pager yang tinggi item dan gagah yang melindungi kosan pun langsung jadi berasa transparan waktu saya ngedengerin kabar ini. Kocak memang.

Di mana-mana yang namanya tetangga sama aja ya? Nggak di kampung nggak di Jakarta, kok nggak ada bedanya”, tanya saya (sekaligus protes) tetep pake muka polos.
Saya jadi ikut-ikutan berkobar-kobar, padahal saya nggak pernah sekali pun ngebawa cowok masuk ke dalem kamar. Paling-paling mentok di taman, itupun saya inget banget baru dua kali dan cuma karena mau ngopy stok film. Alasannya sederhana, saya cuma pengen kadar kemisteriusan saya tetap terjaga. Halah, you know lah, tipikal anak Pisces. :p

Beberapa hari kemudian Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan cara yang unik. Ya, melalui film Europe on Screen 2016 yang saya tonton di Erasmus Huis. Judulnya Italo Barocco, bercerita tentang seekor anjing dan kisahnya di tengah-tengah masyarakat yang riuh. Jawaban ini sendiri saya dapatkan di tengah-tengah sampai di akhir film;

Pertama: ketika sekelompok ibu melihat guru muda sering keluar-masuk kantor walikota. Guru yang sebenarnya ingin berbicara perihal sekolah kepada walikota, justru dituduh sebagai pacarnya!

Ke-dua: ketika walikota bersedih karena Italo sakit. Ibu-ibu itu justru mengira bahwa walikota bersedih gara-gara menang di pemilu selanjutnya!

Bahkan di Italia pun bergosip yang kebenarannya belum tentu jelas juga kejadian. Tetap menjalar dan terombang-ambing dengan cepat ke delapan penjuru mata angin. Seberapa hati-hatinya kita dalam hidup, seberapa “nggak ikut campurnya” kita terhadap perihal sepele yang ada di sekitar, yang namanya gosip ya tetep gosip. Walaupun nggak ikut jadi subyek, kadang kita juga bisa jadi obyek tanpa kita tau dan tanpa pernah kita sadari.


Sometimes people are just the people. You do not have to always understand them.

Judul postingan ini terinspirasi dari salah satu judul buku Murakami yang saat ini sedang saya habiskan.

You Might Also Like

2 komentar:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Tulisan yang menarik dan mendalam.

    Tema tulisannya sangat mengena dengan kondisi sosial saat ini :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, thank you.

      #jleb banget ya? :p Duh

      Hapus