Memperbaiki Minat Baca Kita

09.21 Dea Maesita 10 Comments


Dari sekian banyak berita duka yang muncul belakangan ini, berita ini lah yang paling membuat hati saya remuk redam dan harga diri serasa diinjak-injak. Saya sendiri menemukan berita ini melalui Twitter beberapa minggu yang lalu. Ternyata bukan cuma saya yang sedih, banyak juga tokoh (yang entah mereka suka baca juga atau enggak) berkoar-koar me-retweet twitpic di bawah ini. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga ikutan geram ketika mendengar berita ini (menurut berita yang saya baca di sebuah portal online).

Ranking Buruk Indonesia pada “The Most Literate Nations in the World”

Ya, ini adalah ranking “The Most Literate Nations in the World” yang diterbitkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu. Di tabel ini bisa dilihat bahwa Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Coba deh bayangin kalau kamu punya anak, terus dia dapet ranking ke-99 dari seratus orang murid. Bisa ngerasain nggak, gimana nyeseknya? :”)

Saya yang selalu berusaha bawa buku dan membaca di mana-mana, jadi berasa nggak berguna dan nggak ngasih andil apa-apa buat negeri ini karena banyak orang lain di luar sana yang mungkin lebih memilih menyimak internet, menonton TV, berleha-leha, atau ngegosip ketimbang meluangkan waktunya untuk membaca. Saya akui saya sendiri memang nggak bisa lepas dari internet dan social media, tapi sebisa mungkin saya selalu membaca setiap harinya. Di angkot ketika berangkat/pulang kantor, ketika menunggu teman di mall/cafe, bahkan di stasiun/bandara/terminal yang riuh. Nggak jarang saya mengutuk diri saya sendiri ketika saya bisa-bisanya kelupaan membawa buku.

Berapa Persen Teman/Keluarga Kita yang Hobi Membaca?
Pertanyaan ini baru saja terlintas di pikiran saya ketika ada bazaar Big Bad Wolf yang digelar di ICE BSD. Saya yang emang orangnya nggak enakan, sempat kebingungan ingin mengajak siapa buat ke bazaar buku yang katanya surga dunia banget buat yang hobi baca. Saya bisa aja ngajakin regular friends buat pergi ke sana, tapi masalahnya saya nggak enak kalau ngajakin mereka yang nggak terlalu suka baca, terus mereka jadi bete nungguin saya berlama-lama memilih buku di sana. Dari situlah saya sadar bahwa teman yang punya hobi/passion yang sama itu adalah harta yang sangat berharga.

Antara Hobi Baca dengan Dilematika

Beberapa hari setelah berita itu terbit, majalah kesayangan saya (Sebut saja Majalah B) berulang tahun dan salah satu redaksinya diundang ke sebuah talkshow. Ketika sesi telepon interaktif berlangsung, ada salah satu ibu yang curhat bahwa gara-gara ketiga anaknya sering baca majalah B ketika masih kecil, sekarang mereka semua tumbuh menjadi jurnalis. Iya, ketiga-tiganya! Uwuwu~ saya langsung ikutan terharu karena saya pun mengalami hal yang sama; hobi membaca Majalah B di waktu kecil dan sekarang bekerja menjadi semi-semi penulis walaupun bukan murni jurnalis.

Tapi bukan cuma itu, Si Ibu juga protes melalui telepon karena hobi membaca membuat anak-anaknya males gerak, nggak suka bersosialisasi, dan lain-lain. Duh, rontok lagi hati saya. Mba Tyka Bisono (psikolog) langsung menjawab bahwa itu adalah tugas orang tua untuk membuat kegiatan sehari-hari anaknya jadi seimbang. Baca buku iya, main-main di luar juga iya. Tentukan kapan jam-jamnya harus baca buku dan kapan jam-jamnya harus main.

Pendapat Haruki Murakami Tentang Bergerak

Setelah menyaksikan talkshow di salah satu televisi swasta itu, saya langsung gatel pengen beli bukunya Haruki Murakami yang baru diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Judulnya What I Talk About When I Talk About Running yang baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia walaupun buku aslinya sudah terbit semenjak tahun 2007.

Di halaman 108, Murakami menuliskan bahwa “Sejak awal, aktivitas kreatif mengandung elemen yang tidak sehat dan antisosial. Aku akan mengakui hal ini. Karena itulah, tak sedikit di antara para penulis dan pekerja seni lainnya yang hidup di luar batas keumuman atau memakai atribut yang berbeda. Aku pun bisa memahami hal ini. Atau lebih tepatnya aku tidak perlu menolak fenomena ini”.  Memang pendapat Murakami tersebut lebih kepada proses menulis, bukan membaca. Tapi rada-rada mirip lah yaa..

---

Semoga setelah kejadian ini ranking Indonesia di bidang literacy semakin baik. Semoga makin banyak yang suka baca dan juga berolahraga biar seimbang. Semoga makin banyak perpustakaan gratis dengan fasilitas lengkap beserta pengunjungnya. Semoga harga buku semakin terjangkau buat kita. Semoga penulis-penulis semakin dimakmurkan supaya makin giat juga dalam berkarya. Daaan semoga keinginan Dea sejak kecil (bikin perpustakaan umum di rumah) terwujudkan juga. :D

You Might Also Like

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Percaya kok percaya.

      Nge-freedom yok! *nungguin freedom buka lagi*

      Hapus
  2. Emang sih, saya juga belakangan yang suka nulis, malas baca kalau bukan bacaan yang menarik buat saya. Tapi biar minat baca meningkat, paling ngebangun mood baca tuh di tempat yang cozy. Kayak di cafe-cafe yang menyediakan rak buku untuk dibaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh tapi boros juga kalo tiap mau baca musti ke cafe :")

      Mending bikin suasana rumah biar serasa di cafe aja #hasek

      Hapus
  3. "Saya bisa aja ngajakin regular friends buat pergi ke sana, tapi masalahnya saya nggak enak kalau ngajakin mereka yang nggak terlalu suka baca, terus mereka jadi bete nungguin saya berlama-lama memilih buku di sana. Dari situlah saya sadar bahwa teman yang punya hobi/passion yang sama itu adalah harta yang sangat berharga."

    Setuju sekali :3 Kadang gak tegaan juga membuat orang menunggu selagi kita asyikmasyuk membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss* berasa ditungguin satpam sih yaa :"D

      Hapus
  4. Wah dua terakhir miris sekali.

    Sama kaya kamu, saya jadi ikut-ikutan gatel pengen beli bukunya Haruki Murakami. Nguehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi lagi ngehits banget emang tu buku ya :"D

      Hapus
  5. Dulu, aku pun begitu. Suka banget baca, satu novel yang limaratus-tujuhratus lembar sehari aja bisa tamat... Kalo lagi ga ada kerjaan. Karena dulu di sekolah asrama, banyak yang punya buku dan tuker-tukeran. Perpusnya juga lumayan lengkap buku. Sekarang baca karena dapet bukunya susah, beli tiap bulan masih belum mampu, ada prioritas lain. /nangis/ Tapi aku langganan majalah, kok~

    BTW.. sama. Aku juga suka baca majalah B dari TK. Dan aku dari dulu pengen jadi penulis gara-gara baca majalah itu... huahahahahaha.

    Jadi penasaran sama buku aslinya Haruki Murakami. Belum pernah baca. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss* Semoga nanti pas kita jadi buk ibuk, majalah B masih ada yaa :P

      Bukunya Murakami masih baru banget kok. Belum telat-telat banget kalo mau baca

      Hapus