Empat Keriaan di Erasmus Huis

14.13 Dea Maesita 2 Comments


Bagi saya, menonton (apapun embel-embel kata di belakangnya), merupakan sebuah perayaan yang sebaiknya dinikmati bersama. Tapi hari itu lain. Pada hari itu untuk pertama kalinya saya menonton film sendirian gara-gara partner yang jauh-jauh hari sudah berjanjian, mendadak harus masuk kerja. Mencoba ikhtiar dengan mengajak teman yang lain lagi, ternyata dia juga punya kepentingan yang sama; mendadak masuk kerja. Karena memang sudah niat sepenuh hati ingin menonton Europe on Screen dan listrik di daerah kosan saya mati pada hari itu, akhirnya saya nekat berangkat nonton sendiri. Inilah salah satu bukti bagaimana semesta mendukung.

EoS 2016 ini adalah Europe on Screen tahun ke-dua saya. Cukup newbie memang, jika dibandingkan dengan Mbak Afid yang sudah tahun ke-delapan menyaksikan event tahunan ini.  Saya yang memang sewaktu tinggal di Semarang tak terlalu mengikuti event-event festival film, akhirnya perlahan-lahan menanti-nanti kedatangan bulan April-Mei dari tahun ke tahun semenjak tinggal di Ibukota kejam kesayangan.

Untuk menuju ke Erasmus Huis, saya cukup berjalan kaki dari kos menuju halte Trans Jakarta – Naik Trans Jakarta lalu turun di Halte Kuningan Barat – Berjalan kaki dari Halte Kuningan Barat ke Kuningan Timur – Lalu berjalan kaki kurang lebih 5 menit menuju Erasmus Huis (dengan kecepatan jalan kaki standar saya, yang kata teman-teman tergolong cepat :p). Jalanan Slipi menuju Rasuna Said yang lengang pada hari itu membuat saya cukup menghabiskan waktu 30 menit di perjalanan. Saya pun tiba tepat waktu, akan tetapi panitianya malah masih sibuk bersiap-siap sehingga booth dibuka 15 menit lebih telat daripada waktu yang seharusnya.

Setelah selesai melakukan registrasi, saya memutuskan untuk berkeliling karena ini merupakan pengalaman pertama saya ke Erasmus Huis. Setidaknya ada empat keriaan yang bisa saya dapatkan ketika berada di situ. Keempat hal itu akan saya rangkum dalam postingan ini :)

1.       Membawa Pulang Banyak Booklet
Ini adalah hobi baru saya semenjak tinggal di Jakarta. Yup! Mengoleksi booklet dari berbagai macam acara, pameran, maupun tempat wisata adalah salah satu hal sederhana yang membuat saya girang. Mungkin sebagian orang berpendapat, “Ngapain sih ngumpulin gitu-gituan? Menuh-menuhin rumah doang”. Tapi ternyata saya nggak sendirian. Fariz, salah satu teman saya dari Jogja yang heboh ketika menelisik isi kamar saya pernah bilang, “Kok kamu sama persis kayak temenku sih, De? Hobinya ngumpulin kartu pos, booklet perjalanan, dll”. Sepulang dari Europe on Screen, rak booklet saya langsung penuh dan nggak ada ruang lagi untuk booklet-booklet yang lain!

Rak booklet yang semakin penuh
2.       Pameran UtarakanJakarta

Terletak di Amphitheater Erasmus Huis, pameran ini saya temukan ketika hendak shalat Dzuhur di Musholla. Pameran yang dijalankan oleh Cynthia Boll, seorang fotografer Belanda ini cukup unik dan sarat akan kritik. Selama 12 bulan, Cynthia mendokumentasikan keseharian penduduk dan banjir di Jakarta. Isu akan “Tenggelamnya Jakarta” bisa membuat penikmat karyanya menjadi meringis miris. Berikut adalah beberapa gambar yang sempat saya abadikan. Oya, saya juga sempat menuliskan quote opini pada dinding besar yang ada di pameran ini. Sewaktu menempelkan stikernya di wall, mbak-mbak yang ada di sebelah saya langsung mengamini. “Amin ya, Mbak", katanya sambil tersenyum.


Instalasi-instalasi pada pameran #UtarakanJakarta

3D Visual Art -  #UtarakanJakarta

Beberapa pengunjung sedang sibuk menuliskan opininya pada dinding yang tersedia

Stiker-stiker yang meminta ditulisi

My big wish :") 

3.       Berkunjung ke Perpustakaan Erasmus Huis

Perpustakaan ini saya temukan berkat info dari Pak Satpam. Ada 15.000 koleksi buku, termasuk karya sastra Belanda, buku tentang Sejarah Indonesia, dan buku anak-anak di perpustakaan ini. Selain itu, ada juga sekitar 900 buah CD koleksi musik dari berbagai genre. What a treasure!

Jam buka:
Senin-Kamis: 09.00-16.00 WIB
Jumat: 14.00
Sabtu: 10.00-13.00 WIB

Biaya Keanggotaan:

·         Warga Indonesia: biaya keanggotaan tahunan Rp. 30.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 60.000,-.
·         Mahasiswa Indonesia: biaya keanggotaan tahunan Rp. 15.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 30.000,-.
·         Warga asing: biaya keanggotaan tahunan Rp. 60.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 120.000,-.
·         Mahasiswa asing: biaya keanggotaan tahunan Rp. 40.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 80.000,-. (Sumber: web resmi erasmus huis).
Anyway murah banget sih cuma biaya keanggotaannya. Tapi karena saya baru beli beberapa buku yang masih teronggok di kamar kosan, jadi saya memutuskan untuk tak impulsif membuat kartu keanggotaan dulu.
4.       Menonton Film di Europe on Screen
Berbeda dengan tiga keriaan sebelumnya yang saya dapatkan secara spontan di Erasmus Huis, keriaan yang ke-empat ini merupakan keriaan utama yang menjadi tujuan saya. Di film pertama saya duduk di sebelah ibu-ibu yang juga datang sendirian. Beruntungnya saya mendapat tempat favorit saya untuk menonton festival film: di row paling pinggir, dekat dengan jalan, tepat di tengah-tengah layar. Satu-satunya alasan mengapa saya menyukai row dekat jalan adalah agar pandangan tidak terlalu terhalang oleh penonton lain.

Karena film yang saya tonton ini adalah film keluarga, cukup banyak yang datang membawa anak-anaknya. Saya sendiri cukup iri dengan ibu-ibu dan anak-anaknya yang duduk di belakang saya. Sejak sebelum film diputar, mereka membicarakan tentang event-event kebudayaan yang ada di IFI, Goethe, dll. Oke fix, nambahin #Lifegoal: punya keluarga indie yang lebih suka menghabiskan waktu menonton event-event kebudayaan/festival ketimbang nge-mall.

Pada film yang ke-dua, saya juga duduk diapit oleh mas-mas yang dua-duanya datang sendirian. Sayangnya saya nggak dapet tempat duduk yang dekat dengan jalan. Jadi mau tak mau saya harus mendongokkan kepala ke kiri dan kanan ketika layar terhalang oleh penonton lain.

By the way, saya juga ingin membagikan cerita tentang dua film ini buat kamu yang belum sempat menonton. Dua-duanya worth to watch karena bisa memberikan nilai positif buat diri kita.

Two tickets of mine :)

·         Italo Barocco
Italia, 2014, Biography-Comedy, 104 menit
Film keluarga ini dibuat berdasarkan kisah nyata oleh sutradara Alessia Scarso, yang pada siang itu juga hadir saat pemutaran filmnya. Sejak awal membaca reviewnya di website Europe On Screen, saya yang memang memang paling nggak tahan buat menangis kalau menonton film/berita tentang hewan, punya firasat bahwa saya akan menangis ketika menonton filmnya. Endingnya, hal itu beneran kejadian. Saya bahkan masih sesenggukan ketika sutradaranya maju ke podium untuk menyelenggarakan sesi Q&A.

Pada siang itu, saya tidak melihat Italo hanya sebagai seekor anjing, tapi lebih sebagai malaikat. Anjing yang selalu bergegas ke gereja setiap mendengar bunyi lonceng, anjing yang dengan setia menemani pegawai bar pulang kerja setiap tengah malam agar tak diganggu preman, anjing yang dengan mulianya menghadiri setiap acara pernikahan/pemakaman, anjing yang selalu bersabar menemani kakek tua menunggu istrinya di stasiun, serta anjing yang dengan on time-nya menunggu Meno (anak walikota) setiap pulang sekolah. Betapa anjing liar yang tadinya dipermasalahkan oleh warga dusun di Sisilia kini menjadi pahlawan bagi warganya. Berkat Italo pula, Meno (anak walikota yang pendiam dan tak suka berteman) kini menjadi lebih terbuka dan memperoleh banyak kawan.

·         Two Days, One Night
Belgium, 2014, Comedy-Drama, 95 menit
Film ini bercerita tenang Sandra, wanita yang telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Selama cuti sakit, mayoritas rekan kerjanya memilih agar Sandra diberhentikan kerja agar mereka mendapatkan bonus tahunan. Penonton pun disajikan petualangan Sandra yang mendatangi rumah setiap rekan-rekan kerjanya selama dua hari.

Melihat ekspresi Sandra yang tabah menghadapi setiap penolakan teman-temannya, dan rasa bahagia ketika tetap ada beberapa rekan kerjanya mendukung, setidaknya memberikan hikmah positif bagi saya atau mungkin juga penonton yang ada di ruangan. Saya jadi sadar bahwa kerja tidak hanya melulu soal bekerja dan mendapatkan uang untuk kepentingan pribadi. Ada baiknya kita juga menjadi makhluk sosial di dalam kantor. Jika saya menjadi Sandra, saya akan sangat bersyukur karena memiliki anak-anak, suami, dan teman-teman yang sangat suportif. Sandra yang sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan menelan berpuluh-puluh butir Xanax pada akhirnya memperoleh kebahagiannya kembali dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Itu dia rangkuman empat keriaan yang saya dapatkan selama berkunjung ke Erasmus Huis. Semoga bisa menjadi bahan referensi buat kamu-kamu yang haus akan kunjungan-kunjungan kebudayaan. Semoga kita masih bisa bertemu dengan event Europe on Screen tahun depan!

You Might Also Like

2 komentar: