Empat Keriaan di Erasmus Huis

14.13 Dea Maesita 2 Comments


Bagi saya, menonton (apapun embel-embel kata di belakangnya), merupakan sebuah perayaan yang sebaiknya dinikmati bersama. Tapi hari itu lain. Pada hari itu untuk pertama kalinya saya menonton film sendirian gara-gara partner yang jauh-jauh hari sudah berjanjian, mendadak harus masuk kerja. Mencoba ikhtiar dengan mengajak teman yang lain lagi, ternyata dia juga punya kepentingan yang sama; mendadak masuk kerja. Karena memang sudah niat sepenuh hati ingin menonton Europe on Screen dan listrik di daerah kosan saya mati pada hari itu, akhirnya saya nekat berangkat nonton sendiri. Inilah salah satu bukti bagaimana semesta mendukung.

EoS 2016 ini adalah Europe on Screen tahun ke-dua saya. Cukup newbie memang, jika dibandingkan dengan Mbak Afid yang sudah tahun ke-delapan menyaksikan event tahunan ini.  Saya yang memang sewaktu tinggal di Semarang tak terlalu mengikuti event-event festival film, akhirnya perlahan-lahan menanti-nanti kedatangan bulan April-Mei dari tahun ke tahun semenjak tinggal di Ibukota kejam kesayangan.

Untuk menuju ke Erasmus Huis, saya cukup berjalan kaki dari kos menuju halte Trans Jakarta – Naik Trans Jakarta lalu turun di Halte Kuningan Barat – Berjalan kaki dari Halte Kuningan Barat ke Kuningan Timur – Lalu berjalan kaki kurang lebih 5 menit menuju Erasmus Huis (dengan kecepatan jalan kaki standar saya, yang kata teman-teman tergolong cepat :p). Jalanan Slipi menuju Rasuna Said yang lengang pada hari itu membuat saya cukup menghabiskan waktu 30 menit di perjalanan. Saya pun tiba tepat waktu, akan tetapi panitianya malah masih sibuk bersiap-siap sehingga booth dibuka 15 menit lebih telat daripada waktu yang seharusnya.

Setelah selesai melakukan registrasi, saya memutuskan untuk berkeliling karena ini merupakan pengalaman pertama saya ke Erasmus Huis. Setidaknya ada empat keriaan yang bisa saya dapatkan ketika berada di situ. Keempat hal itu akan saya rangkum dalam postingan ini :)

1.       Membawa Pulang Banyak Booklet
Ini adalah hobi baru saya semenjak tinggal di Jakarta. Yup! Mengoleksi booklet dari berbagai macam acara, pameran, maupun tempat wisata adalah salah satu hal sederhana yang membuat saya girang. Mungkin sebagian orang berpendapat, “Ngapain sih ngumpulin gitu-gituan? Menuh-menuhin rumah doang”. Tapi ternyata saya nggak sendirian. Fariz, salah satu teman saya dari Jogja yang heboh ketika menelisik isi kamar saya pernah bilang, “Kok kamu sama persis kayak temenku sih, De? Hobinya ngumpulin kartu pos, booklet perjalanan, dll”. Sepulang dari Europe on Screen, rak booklet saya langsung penuh dan nggak ada ruang lagi untuk booklet-booklet yang lain!

Rak booklet yang semakin penuh
2.       Pameran UtarakanJakarta

Terletak di Amphitheater Erasmus Huis, pameran ini saya temukan ketika hendak shalat Dzuhur di Musholla. Pameran yang dijalankan oleh Cynthia Boll, seorang fotografer Belanda ini cukup unik dan sarat akan kritik. Selama 12 bulan, Cynthia mendokumentasikan keseharian penduduk dan banjir di Jakarta. Isu akan “Tenggelamnya Jakarta” bisa membuat penikmat karyanya menjadi meringis miris. Berikut adalah beberapa gambar yang sempat saya abadikan. Oya, saya juga sempat menuliskan quote opini pada dinding besar yang ada di pameran ini. Sewaktu menempelkan stikernya di wall, mbak-mbak yang ada di sebelah saya langsung mengamini. “Amin ya, Mbak", katanya sambil tersenyum.


Instalasi-instalasi pada pameran #UtarakanJakarta

3D Visual Art -  #UtarakanJakarta

Beberapa pengunjung sedang sibuk menuliskan opininya pada dinding yang tersedia

Stiker-stiker yang meminta ditulisi

My big wish :") 

3.       Berkunjung ke Perpustakaan Erasmus Huis

Perpustakaan ini saya temukan berkat info dari Pak Satpam. Ada 15.000 koleksi buku, termasuk karya sastra Belanda, buku tentang Sejarah Indonesia, dan buku anak-anak di perpustakaan ini. Selain itu, ada juga sekitar 900 buah CD koleksi musik dari berbagai genre. What a treasure!

Jam buka:
Senin-Kamis: 09.00-16.00 WIB
Jumat: 14.00
Sabtu: 10.00-13.00 WIB

Biaya Keanggotaan:

·         Warga Indonesia: biaya keanggotaan tahunan Rp. 30.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 60.000,-.
·         Mahasiswa Indonesia: biaya keanggotaan tahunan Rp. 15.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 30.000,-.
·         Warga asing: biaya keanggotaan tahunan Rp. 60.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 120.000,-.
·         Mahasiswa asing: biaya keanggotaan tahunan Rp. 40.000,-. Setiap anggota diperbolehkan pinjam buku maksimum 3 buah eksemplar dengan waktu peminjaman 3 minggu. Jika ingin meminjam 5 buku sekaligus, maka biaya keanggotaan tahunan berjumlah Rp. 80.000,-. (Sumber: web resmi erasmus huis).
Anyway murah banget sih cuma biaya keanggotaannya. Tapi karena saya baru beli beberapa buku yang masih teronggok di kamar kosan, jadi saya memutuskan untuk tak impulsif membuat kartu keanggotaan dulu.
4.       Menonton Film di Europe on Screen
Berbeda dengan tiga keriaan sebelumnya yang saya dapatkan secara spontan di Erasmus Huis, keriaan yang ke-empat ini merupakan keriaan utama yang menjadi tujuan saya. Di film pertama saya duduk di sebelah ibu-ibu yang juga datang sendirian. Beruntungnya saya mendapat tempat favorit saya untuk menonton festival film: di row paling pinggir, dekat dengan jalan, tepat di tengah-tengah layar. Satu-satunya alasan mengapa saya menyukai row dekat jalan adalah agar pandangan tidak terlalu terhalang oleh penonton lain.

Karena film yang saya tonton ini adalah film keluarga, cukup banyak yang datang membawa anak-anaknya. Saya sendiri cukup iri dengan ibu-ibu dan anak-anaknya yang duduk di belakang saya. Sejak sebelum film diputar, mereka membicarakan tentang event-event kebudayaan yang ada di IFI, Goethe, dll. Oke fix, nambahin #Lifegoal: punya keluarga indie yang lebih suka menghabiskan waktu menonton event-event kebudayaan/festival ketimbang nge-mall.

Pada film yang ke-dua, saya juga duduk diapit oleh mas-mas yang dua-duanya datang sendirian. Sayangnya saya nggak dapet tempat duduk yang dekat dengan jalan. Jadi mau tak mau saya harus mendongokkan kepala ke kiri dan kanan ketika layar terhalang oleh penonton lain.

By the way, saya juga ingin membagikan cerita tentang dua film ini buat kamu yang belum sempat menonton. Dua-duanya worth to watch karena bisa memberikan nilai positif buat diri kita.

Two tickets of mine :)

·         Italo Barocco
Italia, 2014, Biography-Comedy, 104 menit
Film keluarga ini dibuat berdasarkan kisah nyata oleh sutradara Alessia Scarso, yang pada siang itu juga hadir saat pemutaran filmnya. Sejak awal membaca reviewnya di website Europe On Screen, saya yang memang memang paling nggak tahan buat menangis kalau menonton film/berita tentang hewan, punya firasat bahwa saya akan menangis ketika menonton filmnya. Endingnya, hal itu beneran kejadian. Saya bahkan masih sesenggukan ketika sutradaranya maju ke podium untuk menyelenggarakan sesi Q&A.

Pada siang itu, saya tidak melihat Italo hanya sebagai seekor anjing, tapi lebih sebagai malaikat. Anjing yang selalu bergegas ke gereja setiap mendengar bunyi lonceng, anjing yang dengan setia menemani pegawai bar pulang kerja setiap tengah malam agar tak diganggu preman, anjing yang dengan mulianya menghadiri setiap acara pernikahan/pemakaman, anjing yang selalu bersabar menemani kakek tua menunggu istrinya di stasiun, serta anjing yang dengan on time-nya menunggu Meno (anak walikota) setiap pulang sekolah. Betapa anjing liar yang tadinya dipermasalahkan oleh warga dusun di Sisilia kini menjadi pahlawan bagi warganya. Berkat Italo pula, Meno (anak walikota yang pendiam dan tak suka berteman) kini menjadi lebih terbuka dan memperoleh banyak kawan.

·         Two Days, One Night
Belgium, 2014, Comedy-Drama, 95 menit
Film ini bercerita tenang Sandra, wanita yang telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Selama cuti sakit, mayoritas rekan kerjanya memilih agar Sandra diberhentikan kerja agar mereka mendapatkan bonus tahunan. Penonton pun disajikan petualangan Sandra yang mendatangi rumah setiap rekan-rekan kerjanya selama dua hari.

Melihat ekspresi Sandra yang tabah menghadapi setiap penolakan teman-temannya, dan rasa bahagia ketika tetap ada beberapa rekan kerjanya mendukung, setidaknya memberikan hikmah positif bagi saya atau mungkin juga penonton yang ada di ruangan. Saya jadi sadar bahwa kerja tidak hanya melulu soal bekerja dan mendapatkan uang untuk kepentingan pribadi. Ada baiknya kita juga menjadi makhluk sosial di dalam kantor. Jika saya menjadi Sandra, saya akan sangat bersyukur karena memiliki anak-anak, suami, dan teman-teman yang sangat suportif. Sandra yang sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan menelan berpuluh-puluh butir Xanax pada akhirnya memperoleh kebahagiannya kembali dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Itu dia rangkuman empat keriaan yang saya dapatkan selama berkunjung ke Erasmus Huis. Semoga bisa menjadi bahan referensi buat kamu-kamu yang haus akan kunjungan-kunjungan kebudayaan. Semoga kita masih bisa bertemu dengan event Europe on Screen tahun depan!

2 comments:

Memperbaiki Minat Baca Kita

09.21 Dea Maesita 10 Comments


Dari sekian banyak berita duka yang muncul belakangan ini, berita ini lah yang paling membuat hati saya remuk redam dan harga diri serasa diinjak-injak. Saya sendiri menemukan berita ini melalui Twitter beberapa minggu yang lalu. Ternyata bukan cuma saya yang sedih, banyak juga tokoh (yang entah mereka suka baca juga atau enggak) berkoar-koar me-retweet twitpic di bawah ini. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga ikutan geram ketika mendengar berita ini (menurut berita yang saya baca di sebuah portal online).

Ranking Buruk Indonesia pada “The Most Literate Nations in the World”

Ya, ini adalah ranking “The Most Literate Nations in the World” yang diterbitkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu. Di tabel ini bisa dilihat bahwa Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Coba deh bayangin kalau kamu punya anak, terus dia dapet ranking ke-99 dari seratus orang murid. Bisa ngerasain nggak, gimana nyeseknya? :”)

Saya yang selalu berusaha bawa buku dan membaca di mana-mana, jadi berasa nggak berguna dan nggak ngasih andil apa-apa buat negeri ini karena banyak orang lain di luar sana yang mungkin lebih memilih menyimak internet, menonton TV, berleha-leha, atau ngegosip ketimbang meluangkan waktunya untuk membaca. Saya akui saya sendiri memang nggak bisa lepas dari internet dan social media, tapi sebisa mungkin saya selalu membaca setiap harinya. Di angkot ketika berangkat/pulang kantor, ketika menunggu teman di mall/cafe, bahkan di stasiun/bandara/terminal yang riuh. Nggak jarang saya mengutuk diri saya sendiri ketika saya bisa-bisanya kelupaan membawa buku.

Berapa Persen Teman/Keluarga Kita yang Hobi Membaca?
Pertanyaan ini baru saja terlintas di pikiran saya ketika ada bazaar Big Bad Wolf yang digelar di ICE BSD. Saya yang emang orangnya nggak enakan, sempat kebingungan ingin mengajak siapa buat ke bazaar buku yang katanya surga dunia banget buat yang hobi baca. Saya bisa aja ngajakin regular friends buat pergi ke sana, tapi masalahnya saya nggak enak kalau ngajakin mereka yang nggak terlalu suka baca, terus mereka jadi bete nungguin saya berlama-lama memilih buku di sana. Dari situlah saya sadar bahwa teman yang punya hobi/passion yang sama itu adalah harta yang sangat berharga.

Antara Hobi Baca dengan Dilematika

Beberapa hari setelah berita itu terbit, majalah kesayangan saya (Sebut saja Majalah B) berulang tahun dan salah satu redaksinya diundang ke sebuah talkshow. Ketika sesi telepon interaktif berlangsung, ada salah satu ibu yang curhat bahwa gara-gara ketiga anaknya sering baca majalah B ketika masih kecil, sekarang mereka semua tumbuh menjadi jurnalis. Iya, ketiga-tiganya! Uwuwu~ saya langsung ikutan terharu karena saya pun mengalami hal yang sama; hobi membaca Majalah B di waktu kecil dan sekarang bekerja menjadi semi-semi penulis walaupun bukan murni jurnalis.

Tapi bukan cuma itu, Si Ibu juga protes melalui telepon karena hobi membaca membuat anak-anaknya males gerak, nggak suka bersosialisasi, dan lain-lain. Duh, rontok lagi hati saya. Mba Tyka Bisono (psikolog) langsung menjawab bahwa itu adalah tugas orang tua untuk membuat kegiatan sehari-hari anaknya jadi seimbang. Baca buku iya, main-main di luar juga iya. Tentukan kapan jam-jamnya harus baca buku dan kapan jam-jamnya harus main.

Pendapat Haruki Murakami Tentang Bergerak

Setelah menyaksikan talkshow di salah satu televisi swasta itu, saya langsung gatel pengen beli bukunya Haruki Murakami yang baru diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Judulnya What I Talk About When I Talk About Running yang baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia walaupun buku aslinya sudah terbit semenjak tahun 2007.

Di halaman 108, Murakami menuliskan bahwa “Sejak awal, aktivitas kreatif mengandung elemen yang tidak sehat dan antisosial. Aku akan mengakui hal ini. Karena itulah, tak sedikit di antara para penulis dan pekerja seni lainnya yang hidup di luar batas keumuman atau memakai atribut yang berbeda. Aku pun bisa memahami hal ini. Atau lebih tepatnya aku tidak perlu menolak fenomena ini”.  Memang pendapat Murakami tersebut lebih kepada proses menulis, bukan membaca. Tapi rada-rada mirip lah yaa..

---

Semoga setelah kejadian ini ranking Indonesia di bidang literacy semakin baik. Semoga makin banyak yang suka baca dan juga berolahraga biar seimbang. Semoga makin banyak perpustakaan gratis dengan fasilitas lengkap beserta pengunjungnya. Semoga harga buku semakin terjangkau buat kita. Semoga penulis-penulis semakin dimakmurkan supaya makin giat juga dalam berkarya. Daaan semoga keinginan Dea sejak kecil (bikin perpustakaan umum di rumah) terwujudkan juga. :D

10 comments:

Bermain Korelasi (Part 2)

22.16 Dea Maesita 0 Comments


Di postingan sebelumnya saya pernah bilang mau bercerita tentang dua korelasi. Tapi ternyata saya baru nyadar kalau ada tiga dooong~
Mari disimak postingan penting ga penting ini!

Gerimis yang Sederhana
Cerpen sejumlah 12 halaman ini merupakan cerita pembuka di kumcer “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi” yang saya baca pada awal Maret lalu. Cerpen karya Eka Kurniawan ini berkisah tentang Mei dan Efendi, seorang perempuan dan laki-laki yang akan bertemu untuk pertama kalinya setelah dikenalkan oleh teman mereka.

Saking nervousnya, Mei sampai mengelilingi restoran Jack in the Box tiga kali sambil terus memperhatikan Efendi yang sudah duduk di dalam sana sambil menikmati burger. Sementara itu ketika Efendi menunggu di restoran, seorang pengemis datang kepadanya untuk meminta recehan. Sekonyong-konyong dia menyerahkan semua recehan kepada pengemis itu dan menyisakan dua koin quarter untuk membeli koran.

Mei dan Efendi akhirnya bertemu. Setelah sibuk berbasa-basi di dalam mobil, mereka berdua membicarakan tentang pengemis yang ada di dalam restoran tadi. Efendi memberanikan diri untuk mengajak Mei mencari pengemis itu. Namun Mei yang trauma dengan pengemis akhirnya mengelak. Ia juga menanyakan apa pentingnya mencari pengemis ketika sedang jalan berdua? Ternyata oh ternyata, selain memberikan recehan, Efendi juga tak sengaja memberikan cincin kawin yang disimpannya di saku celana kepada Sang Pengemis! Part yang paling jleb itu ketika Mei bilang, “Ya ya, aku tahu. Aku juga pernah kenal seorang lelaki yang selalu mencopot cincin kawinnya setiap bertemu perempuan baru”. Jeng jeng!

Abis baca cerpen ini saya langsung berdoa biar ngga dapet pasangan (nantinya) yang kelakuannya kayak Efendi. Entah perempuan yang cuek sekaligus posesif dalam satu waktu itu namanya apa. 

Film Pendek Joko Anwar
Masih di bulan yang sama, saya pergi ke XXI Short Film Festival di Epicentrum Walk yang ditonton dadakan karena tadinya cuma pengen ke Gramedia. Pada event ini ada beberapa film pendek karya Joko Anwar yang saya tonton. Yang paling saya ingat adalah film pembukanya karena saya sadar bahwa ceritanya ada korelasi dengan Gerimis yang Sederhana.

Filmnya sendiri merupakan film komersil untuk produk Blackberry. Joko Anwar bilang kalau film ini ia rekam secara spontan ketika ia masih punya sisa waktu sebelum boarding pesawat di Eropa. Film berjudul La Promese ini berkisah tentang seorang perempuan yang marah kepada kekasihnya karena nggak jadi dateng ke rumah padahal udah ditunggu-tunggu.
Si Lelaki mengarang cerita bahwa dompet dan ponselnya dijambret ketika hendak pergi ke rumah Si Perempuan. Pada awalnya Si Perempuan nggak percaya begitu saja. Tapi karena Si Lelaki pandai mengambil hati, Si Perempuan akhirnya luluh dan memaafkannya begitu saja. Apalagi ketika Si Lelaki menyodorkan sekotak cincin dan berlutut di depannya. Gara-gara cincin, Si Lelaki dan Si Perempuan memang akhirnya jadi sepasang kekasih kembali. But, wait a minute, this is not the ending of the story!

Film ini diakhiri dengan adegan Si Lelaki yang selingkuh dengan perempuan lain. Ternyata Si Lelaki cuma mengincar harta karena Si Perempuan lebih mapan! Scene yang paling jleb adalah ketika selingkuhan Si Lelaki mengejek Si Perempuan karena menjadi wanita yang terlalu baik. Oh well!


How I Met Your Mother – Season 1 Episode 3
Entah untuk yang ke-berapa kalinya saya menonton ulang sitkom kesayangan, lalu nggak sengaja episodenya muterin yang masih berkorelasi sama dua kisah di atas. Episode berjudul Sweet Taste of Liberty ini bercerita tentang Lily dan Robin, dua teman wanita yang hangout di bar Mc’Larens. Ini adalah kali pertama mereka menghabiskan waktu berdua karena biasanya ada Ted, Barney, dan Marshall. Marshall (tunangan Lily) sedang menuju Philadelphia sehingga tak bisa menemani mereka.

Di Mc’Larens, Robin dihampiri oleh banyak lelaki sedangkan hal yang sebaliknya terjadi pada Lily. Ternyata “ring effect” alias cincin yang melekat di tangan kanan Lily lah yang menjadi penyebabnya. Lily yang merasa iri dengan kesuksesan Robin yang digaet banyak pria, plus karena sudah sembilan tahun tidak merasakan sensasi seperti itu akhirnya membuat Lily penasaran lalu melepas cincin dari tangannya. Dengan agak ragu, ia meminta izin kepada Marshall melalui telepon dan langsung di-iya-kan oleh tunangannya itu.

Pada awalnya Marshall nggak jealous sama sekali, tapi lama-lama dia penasaran dan akhirnya menyusul Lily dan Robin di Mc’Larens. Di sana ia mendapati Lily bersama seorang lelaki. Di scene ini lah akhirnya ketahuan bahwa Marshall ternyata bisa jealous juga dan takut kalau tunangannya diambil lelaki lain. Dia nggak mau Lily ngelepas cincinnya lagi apapun itu alasannya.

One of the sweetest couple on earth! #imho

----

Well then, ada yang bisa jawab apa korelasi dari tiga kisah yang saya ceritain di atas?
Feel free to tell me your opinion :)

0 comments:

What We Think About When The People Talk About Our Life

22.32 Dea Maesita 2 Comments



Time pass, people change. Sounds cliche but, darn it’s true!

Dulu-dulu kalau ngeliat jendela kamar kebuka atau lampu nyala, janjian hanya sesederhana mengetuk pintu dan memanggil nama sang empunya. Sekarang beda, mau janjian buat curhat aja harus buka notifikasi whatsapp dengan serentetan pertanyaan:
"Mbak, pulang ke kosan jam berapa?"
"Lagi banyak kerjaan engga?"
"Capek ngga?"

Saya sampai terlanjur hafal. Kalau udah kayak gini, sahabat kesayangan saya yang satu itu pasti sedang sekarat. Sekarat ingin menumpahkan rasa gelisahnya ke saya sampai-sampai nggak bisa menunggu. 

Beberapa jam kemudian percakapannya menghiasi kamar. Dia bilang kalau beberapa tetangga di sekitar kosan sering penasaran. Mempertanyakan teman saya ini kerja di mana, udah jam segini kok belom berangkat kerja, dan dicurigai yang enggak-enggak (If you know what i mean). Tentu saja dia tersinggung, apalagi ketika tetangga-tetangga sampai menanyakan hal itu kepada pembantu di kosan. 

Sayangnya nggak semua orang tau kalau di dunia ini ada kerjaan yang namanya freelancer. Sahabat saya yang bekerja di salah satu perusahaan kontraktor ini jam kerjanya memang nggak tentu. Bahkan seringnya siang di kosan dan tengah malemnya baru berangkat kerja karena proyeknya baru bisa dikerjakan ketika mall/kantor itu tutup. Nggak bisa dipungkiri bahwa kosan kami yang dekat dengan pangkalan ojek dan pos ronda, menjadi lahan yang subur untuk... saya nggak bisa menuduh mereka bergunjing. Tapi bukankah masuk akal?

Beberapa hari kemudian sahabat saya datang lagi, yang kali ini langsung mengetuk pintu. Dia menceritakan kalau beberapa tetangga juga mengkhawatirkan kosan kami yang penghuninya sering membawa laki-laki ke dalam kamar. Oh well, how do they know? Pager yang tinggi item dan gagah yang melindungi kosan pun langsung jadi berasa transparan waktu saya ngedengerin kabar ini. Kocak memang.

Di mana-mana yang namanya tetangga sama aja ya? Nggak di kampung nggak di Jakarta, kok nggak ada bedanya”, tanya saya (sekaligus protes) tetep pake muka polos.
Saya jadi ikut-ikutan berkobar-kobar, padahal saya nggak pernah sekali pun ngebawa cowok masuk ke dalem kamar. Paling-paling mentok di taman, itupun saya inget banget baru dua kali dan cuma karena mau ngopy stok film. Alasannya sederhana, saya cuma pengen kadar kemisteriusan saya tetap terjaga. Halah, you know lah, tipikal anak Pisces. :p

Beberapa hari kemudian Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan cara yang unik. Ya, melalui film Europe on Screen 2016 yang saya tonton di Erasmus Huis. Judulnya Italo Barocco, bercerita tentang seekor anjing dan kisahnya di tengah-tengah masyarakat yang riuh. Jawaban ini sendiri saya dapatkan di tengah-tengah sampai di akhir film;

Pertama: ketika sekelompok ibu melihat guru muda sering keluar-masuk kantor walikota. Guru yang sebenarnya ingin berbicara perihal sekolah kepada walikota, justru dituduh sebagai pacarnya!

Ke-dua: ketika walikota bersedih karena Italo sakit. Ibu-ibu itu justru mengira bahwa walikota bersedih gara-gara menang di pemilu selanjutnya!

Bahkan di Italia pun bergosip yang kebenarannya belum tentu jelas juga kejadian. Tetap menjalar dan terombang-ambing dengan cepat ke delapan penjuru mata angin. Seberapa hati-hatinya kita dalam hidup, seberapa “nggak ikut campurnya” kita terhadap perihal sepele yang ada di sekitar, yang namanya gosip ya tetep gosip. Walaupun nggak ikut jadi subyek, kadang kita juga bisa jadi obyek tanpa kita tau dan tanpa pernah kita sadari.


Sometimes people are just the people. You do not have to always understand them.

Judul postingan ini terinspirasi dari salah satu judul buku Murakami yang saat ini sedang saya habiskan.

2 comments: