Bermain Korelasi (Part 1)

22.28 Dea Maesita 4 Comments


Layaknya sebuah film, hidup ini penuh sama korelasi-korelasi yang diciptakan sedemikian rupa hingga seringnya kita lewati tanpa disadari. Saya sendiri termasuk tipe yang kadang-peka dan kadang-nggak sama hal semacam itu. Terkadang kepikiran dari hasil lamunan dan renungan sih, tapi kalau lagi “bodo amat” mau dikasih kode sekeras apapun dari semesta juga nggak bakal kegubris.

Contoh korelasi yang saya dapetin dari hasil lamunan adalah dua film yang saya tonton di bulan Februari. Hmm cukup lama juga ya, perlu dua bulan berselang hingga saya baru ngeh hal-hal yang bisa ditarik jadi benang merah. Di bulan itu saya menonton film festival “Like Someone in Love” dan “Lovely Man” yang punya pesan yang sama “Terkadang terlalu dalam mengetahui kehidupan seseorang bisa membuat dirimu terluka”.



Like Someone in Love

Film Jepang yang berhasil masuk seleksi Cannes, Toronto International Film Festival, dan New York Film Festival ini saya tonton pada 11 Februari di event Plaza Indonesia Film Festival. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika menonton film ini adalah: “Berasa ngeliat foto-fotonya Hamada Hideaki di Instagram tapi versi bergerak!”

Filmnya diawali dengan adegan wanita penghibur (Akiko) yang ogah-ogahan ketika bosnya menawari proyek untuk bertemu sosok penting yang masih dirahasiakan. Taksi pun membawa Akiko menuju ke rumah sosok misterius itu yang ternyata adalah seorang Professor Sosiologi di universitas dan jurusan yang sama seperti yang Akiko ambil. Sungguh, awalnya saya berfikir bahwa Sang Professor memanggil Akiko untuk menemaninya tidur, tapi ternyata dugaan saya salah. Sang Professor (Takashi) ternyata hanya menginginkan makan malam bersama karena Akiko mirip sekali dengan mantan istrinya.

Besok paginya Professor mengantarkan Akiko ke kampus. Na’asnya, Noriyaki (pacar Akiko yang posesifnya minta ampun) sudah menunggu di gerbang. Noriyaki yang memang sudah berhari-hari tidak mendapatkan kabar dari pacarnya langsung marah-marah di depan banyak orang. Ketika Akiko masuk ke kelas, Noriyaki memberanikan diri untuk masuk ke mobil Professor untuk berkenalan. Professor akhirnya berbohong dan mengenalkan dirinya sebagai kakek Akiko. Lagipula, siapa orang yang berani mengaku bahwa ia telah menyewa wanita semalaman kepada pacarnya langsung?

Noriyaki pun bersikap baik kepada Professor karena ia percaya bahwa ia adalah Kakek Akiko. Ia bahkan menawari Professor memperbaiki mobilnya secara gratis di bengkelnya. Ketika sudah sampai di rumah dan siap beristirahat, Professor mendapatkan telepon genting dari Akiko. Di scene ini lah saya sudah punya firasat buruk terhadap nasib Professor. Ternyata betul. Noriyaki telah mengetahui bahwa pacarnya itu berprofesi sebagai wanita penghibur dan Professor adalah salah satu pelanggannya. Akiko yang terduduk lemas di parkiran mobil dengan bibir yang berdarah pun dijemput Professor untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, pintu digedor dengan keras. Professor sibuk mengunci pintu dan mengintipi jendela. Akiko panik sambil terus menangis. Terdengar suara Noriyaki membentak-bentak menyuruh mereka berdua keluar dari rumah. Tetangga ribut melerai. Suara mobil dihancurkan, alarm meraung-raung. Lalu praaang! Batu terlempar menembus kaca jendela, professor terantuk dan jatuh di lantai. Betapa pertemuan 24 jam dan terlibat dalam kehidupan seseorang yang baru dikenal bisa mengubah jalan hidup seseorang dengan drastis.

Lovely Man

Ini film pertama dari Triloginya Teddy Soeriaatmadja yang saya tonton di Goethe Haus Menteng pada Februari kemarin. Filmnya berkisah tentang Cahaya (diperankan oleh Raihanun) yang nekat datang dari kampung menuju Jakarta demi bertemu ayah kandungnya, Ipuy (diperankan oleh Donny Damara). Berbekal alamat yang dicatatnya di secarik kertas, Cahaya menyusuri gelapnya malam Jakarta menuju apartemen tempat Ipuy tinggal. Sayangnya Ipuy sedang tidak ada di tempat. Cahaya dengan jilbab dan rok panjangnya pun berjalan lagi menuju jembatan tempat Ipuy bekerja. Scene dimana Cahaya akhirnya mengetahui jati diri ayahnya ini berhasil membuat saya terharu-biru ketika menontonnya. Salah satu hal yang juga membuat Cahaya kecewa adalah ketika ia mengetahui bahwa bapaknya itu ingin operasi transgender agar bisa menjadi wanita seutuhnya, menikah dengan laki-laki yang menjadi pacarnya, dan pindah ke Surabaya.

Namun bagaimanapun juga Ipuy adalah Bapak yang lovely. Sekesal apapun dia terhadap anaknya yang nekat mengunjunginya ini, Ipuy tetap memperlakukan Cahaya dengan baik. Pada malam menuju pagi itu ia mentraktir anaknya makan nasi padang dan mengobrol ke sana ke mari. Di sepanjang jalanan ibukota yang sepi, mereka berdua saling bercerita tentang kehidupan satu sama lain; kehidupan Cahaya di kampung, dan kehidupan Ipuy sebagai banci penghibur. Dari sesi curhat itulah akhirnya terungkap alasan lain mengapa Cahaya datang ke Jakarta. Ternyata ia tengah hamil di luar nikah dan ingin kabur sejenak dari pacar yang telah menghamilinya.

Duh, sayangnya saya lupa bagaimana bunyi dialog yang jadi poin utama dalam film ini. Yang jelas dialognya adalah ketika Cahaya dan Ipuy duduk berdua di trotoar dengan berlatar belakang halte TransJakarta. Ipuy yang merasa terganggu karena akhirnya Cahaya mengetahui profesi dan jatidirinya ini menasehati bahwa terkadang mengetahui kehidupan dan fakta seseorang bisa menyebabkan sakit hati kalau tak sesuai dengan ekspektasi. #Jleb banget ya? Oya, sama dengan Like Someone in Love, film Lovely Man ini juga menceritakan pertemuan dalam jangka waktu yang singkat.

See, korelatifnya dapet banget kan? :”)
Ini baru yang edisi Februari. Di bulan Maret, saya juga nemuin dua korelasi lagi berdasarkan film dan buku yang saya baca. Tunggu ceritanya di postingan selanjutnya ya! *wink* 

You Might Also Like

4 komentar:

  1. ditunggu postingan selanjutnya! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aww thank you Zulaikha!
      *brb ngumpulin tenaga buat nulis kelanjutannya*

      Hapus
  2. Langsung donlot Like Someone in Love. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's kinda weird, Ki :p

      Tapi artistiknya dapet banget sih. Jadi bikin pengen jalan siang-siang di Jepang!

      Hapus