6 Hal yang Harus Kamu Lakuin Kalau Berkarir Beda Jurusan

13.55 Dea Maesita 4 Comments



Namanya juga maju, kalo nggak dihadepin sama jalan yang bercabang dan arah panah berlainan bukan maju namanya, tapi diem di tempat.

Di antara berbagai macam jenis maju, salah satu maju yang paling berat adalah maju sebagai proses transisi. Saya sendiri pernah bimbang habis-habisan ketika lulus kuliah dan dihadapkan pada tiga jalan yang berbeda:
1.    Kerja jadi pegawai negeri sesuai usulan ortu
2.    Kerja jadi pegawai swasta sesuai passion dan hobi
3.    Lanjut sekolah lagi plus nyusulin Belle and Sebastian ke negeri british impian

Pada akhirnya takdir membawa saya menjalani yang nomor dua. Masih inget banget ketika seorang teman menawari saya pekerjaan yang bertolak belakang dengan jurusan kuliah, yang kemudian saya sambut dengan deretan kata “tapi”. Tapi yang pertama, saya kan engga kuliah di jurusan komunikasi/sastra? Tapi yang ke-dua, saya kan engga ikut UKM jurnalistik/fotografi atau apapun itu yang berkaitan sama kerjaan ini? Lalu tapi yang ke-tiga, tapi kan saya engga bisa photoshop sama sekali?

Pada akhirnya semua tapi-tapi saya itu terbantahkan oleh beberapa tapi lainnya yang disampaikan oleh teman saya itu. “Tapi kamu hobi nulis kan, Dek? Tapi kamu suka online kan? Tapi kamu masih mau belajar buat sesuatu yang kamu belom ngerti kan?” Dan disinilah saya, 2,4 tahun menjalani pekerjaan di bidang ini dengan beragam suka dan dukanya (lebih banyak sukanya sih :p). Mulai dari itu saya juga sadar, saya membutuhkan teman-teman dan orang-orang tercinta yang mau membantah semua tapi-tapian saya, yang mau menguatkan semua kepositifan yang ada di dalam diri saya. Ehem, baper dikit.

Sementara hidup terus berjalan, makin ke sini makin sering juga ketemu orang yang memilih jalan hidup berlawanan. Misalnya, Mas Yogi yang kuliah di jurusan Teknik Sipil tapi malah kerja di salah satu perusahaan recruitment yang tugasnya ngeinterpretasiin tulisan tangan seseorang alias grafologi. Ada juga Kak Mizan, lulusan akuntansi di salah satu universitas di Padang yang malahan sekarang jadi UI/UX Designer di sebuah kantor di bilangan Mangga Dua. Ada juga Bontor, mantan teman sekantor yang kuliah di IPB jurusan pertanian spesialis hama, yang justru kerja sebagai Back End Developer alias anak IT. Duh, hidup ini penuh surprise bukan?

Atas dasar itulah saya terinspirasi membagikan beberapa tips, barangkali banyak juga teman-teman di luar sana yang pernah/sedang mengalami kegalauan semacam ini. Well then, selamat menyimak! Oya, artikelnya juga bisa dibaca di: https://www.creasi.co.id/readings/117/6-hal-yang-harus-kamu-lakuin-kalau-berkarir-beda-jurusan

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 6 Hal yang Harus Kamu Lakuin Kalau Berkarir Beda Jurusan

True story, lulusan Teknik Sipil bisa kerja jadi Human Resource karena punya kemampuan ngebaca tulisan tangan atau ilmu grafologi. Ada lulusan Administasi Publik yang kerja jadi Social Media Specialist karena dia hobi online dan nulis. Ada lulusan Fakultas Pertanian yang jadi Back End Developer alias anak IT. Dan ada juga lulusan Akuntansi yang jadi UI/UX Designergara-gara hobi ngedesain. Hal ini completely normal dan banyak terjadi kok, kalau kamu udah masuk ke dunia kerja.

Apa? Kamu sendiri juga salah satunya? Kalau gitu kamu harus baca artikel ini nih. Berikut enam hal yang harus kamu lakuin kalau berkarir beda jurusan:

1.       Komitmen Sama Jalan yang Kamu Tempuh
Orang yang “nggak sejalur” biasanya punya dua pilihan hidup dalam berkarir. Yang pertama berkarir sesuai sama gelar sarjananya, dan yang ke-dua berkarir sesuai sama skill yang dia punya. Kalau udah kayak gini, sarannya cuma bisa mantepin aja sih. Mengutip salah satu isi dari buku yang berjudul Change, Rhenald Kasali menuliskan “Tak peduli berapa panjang jalan salah yang kau tempuh, segera putar arah sekarang juga”. Jadi, kalau kamu udah terlanjur kerja yang “sejalur sama jurusan” tapi pengen mantepin berkarir yang sesuai sama passion, puter arah aja. Begitu juga dengan hal yang sebaliknya. 

2.       Tunjukin Skill Kamu yang Transfer-able
Jangan remehin skill-skill sepele yang kamu punya, misalnya fotografi, nulis, videografi, dan lain-lain. Kamu boleh aja lulusan dari jurusan Teknik Sipil, Biologi, dan lain-lain. Tapi kalau punya skill-skill memotret, kamu bisa aja kerja lintas jurusan jadi seorang fotografer atau videografer.

3.       Perbagus Portofolio
Oke, dari segi akademik kamu udah kalah dari jobseeker yang lain. Nah, kamu bisa nutupin kekalahan kamu itu dengan memperbagus portofolio (dalam artian memperbanyak pengalaman). Kalau kamu jadi perekrut di salah satu perusahaan, kamu bakal milih yang mana? Yang jurusannya related tapi nggak pernah ngehasilin karya apa-apa. ATAU yang jurusannya nggak related tapi karya-karyanya seabrek dan kece-kece? Kamu pasti milih yang ke-dua kan? So, buktiin kalau skill kamu bisa lebih dilirik sama perekrut daripada gelar sarjana kamu.

4.       Percaya Bahwa Nggak Ada Ilmu yang Sia-sia
Udah capek-capek kuliah empat tahun, tapi di dunia kerja ilmunya nggak kepake. Kata siapa?
Coba inget-inget deh. Meskipun kecil banget, tapi pasti ada kok ilmu yang kepake. Contohnya kalau kamu kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen tapi kerjanya jadi Digital Strategist di advertising agency. Di mana letak kenyambungan ilmunya? Ada kok. Waktu kuliah dulu kamu pasti pernah diajarin tentang analisis SWOT (Strenght, weakness, oportunity, dan threatness) kan? Nah, seorang Digital Strategist juga dituntut buat punya pemikiran kayak gitu. So,nggak cuma lulusan jurusan Advertising yang bisa kerja di agency.

5.       Pede Sama Kemampuan yang Kamu Punya
Salah satu hal yang sering bikin seseorang yang “nggak sejalur” adalah minder. Apalagi kalau di kantor kamu ada beberapa orang yang bekerja dengan posisi yang sama. Misalnya: “Ah, Si A sih enak lulusan jurnalistik. Pas kuliah pasti diajarin teknik-teknik nulis yang bener. Coba kalo aku dulu kuliahnya di jurusan itu, pasti sekarang jadi lebih jago nulisnya.”

Yuk buang jauh-jauh pemikiran itu. Temen “yang sejalur” belum tentu lebih jago dari kamu lho. Siapa tau waktu kuliah dia sering nggak dengerin dosen, sering bolos, atau ilmunya menguap gitu aja. Kamu yang punya bakat alami justru harusnya lebih pede, karena kamu “yang nggak sejalur” aja bisa ngerebutin posisi itu kok.

6.       Yakinin Ortu dan Orang-orang Tercinta
“Udah susah-susah nyekolahin di fakultas kedokteran, eh ujung-ujungnya cuma jadi pegawai di kantor media.” Mungkin itu yang ada di benak ortu ketika kamu mutusin buat kerja yang “nggak sejalur”. Kalau ortu kamu kayak gitu, itu jadi challenge kamu buat ngeyakinin mereka kalau kerja itu nggak cuma jadi pegawai di rumah sakit, instansi pemerintahan, bank, dsb. “Dunia kerja itu luas, Bu, Pak. Kalau ngga ada kantor media, repot juga kehidupan kita nantinya.”

Tapi nggak semua ortu punya pemikiran kayak gitu sih. Ada juga kok ortu-ortu yang punya pemikiran terbuka. Asal anaknya enjoy ngejalaninnya, mereka bakalan full ngesupport. Beruntung banget kalau ortu kamu termasuk tipe yang kayak gini!

4 comments:

Bermain Korelasi (Part 1)

22.28 Dea Maesita 4 Comments


Layaknya sebuah film, hidup ini penuh sama korelasi-korelasi yang diciptakan sedemikian rupa hingga seringnya kita lewati tanpa disadari. Saya sendiri termasuk tipe yang kadang-peka dan kadang-nggak sama hal semacam itu. Terkadang kepikiran dari hasil lamunan dan renungan sih, tapi kalau lagi “bodo amat” mau dikasih kode sekeras apapun dari semesta juga nggak bakal kegubris.

Contoh korelasi yang saya dapetin dari hasil lamunan adalah dua film yang saya tonton di bulan Februari. Hmm cukup lama juga ya, perlu dua bulan berselang hingga saya baru ngeh hal-hal yang bisa ditarik jadi benang merah. Di bulan itu saya menonton film festival “Like Someone in Love” dan “Lovely Man” yang punya pesan yang sama “Terkadang terlalu dalam mengetahui kehidupan seseorang bisa membuat dirimu terluka”.



Like Someone in Love

Film Jepang yang berhasil masuk seleksi Cannes, Toronto International Film Festival, dan New York Film Festival ini saya tonton pada 11 Februari di event Plaza Indonesia Film Festival. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika menonton film ini adalah: “Berasa ngeliat foto-fotonya Hamada Hideaki di Instagram tapi versi bergerak!”

Filmnya diawali dengan adegan wanita penghibur (Akiko) yang ogah-ogahan ketika bosnya menawari proyek untuk bertemu sosok penting yang masih dirahasiakan. Taksi pun membawa Akiko menuju ke rumah sosok misterius itu yang ternyata adalah seorang Professor Sosiologi di universitas dan jurusan yang sama seperti yang Akiko ambil. Sungguh, awalnya saya berfikir bahwa Sang Professor memanggil Akiko untuk menemaninya tidur, tapi ternyata dugaan saya salah. Sang Professor (Takashi) ternyata hanya menginginkan makan malam bersama karena Akiko mirip sekali dengan mantan istrinya.

Besok paginya Professor mengantarkan Akiko ke kampus. Na’asnya, Noriyaki (pacar Akiko yang posesifnya minta ampun) sudah menunggu di gerbang. Noriyaki yang memang sudah berhari-hari tidak mendapatkan kabar dari pacarnya langsung marah-marah di depan banyak orang. Ketika Akiko masuk ke kelas, Noriyaki memberanikan diri untuk masuk ke mobil Professor untuk berkenalan. Professor akhirnya berbohong dan mengenalkan dirinya sebagai kakek Akiko. Lagipula, siapa orang yang berani mengaku bahwa ia telah menyewa wanita semalaman kepada pacarnya langsung?

Noriyaki pun bersikap baik kepada Professor karena ia percaya bahwa ia adalah Kakek Akiko. Ia bahkan menawari Professor memperbaiki mobilnya secara gratis di bengkelnya. Ketika sudah sampai di rumah dan siap beristirahat, Professor mendapatkan telepon genting dari Akiko. Di scene ini lah saya sudah punya firasat buruk terhadap nasib Professor. Ternyata betul. Noriyaki telah mengetahui bahwa pacarnya itu berprofesi sebagai wanita penghibur dan Professor adalah salah satu pelanggannya. Akiko yang terduduk lemas di parkiran mobil dengan bibir yang berdarah pun dijemput Professor untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, pintu digedor dengan keras. Professor sibuk mengunci pintu dan mengintipi jendela. Akiko panik sambil terus menangis. Terdengar suara Noriyaki membentak-bentak menyuruh mereka berdua keluar dari rumah. Tetangga ribut melerai. Suara mobil dihancurkan, alarm meraung-raung. Lalu praaang! Batu terlempar menembus kaca jendela, professor terantuk dan jatuh di lantai. Betapa pertemuan 24 jam dan terlibat dalam kehidupan seseorang yang baru dikenal bisa mengubah jalan hidup seseorang dengan drastis.

Lovely Man

Ini film pertama dari Triloginya Teddy Soeriaatmadja yang saya tonton di Goethe Haus Menteng pada Februari kemarin. Filmnya berkisah tentang Cahaya (diperankan oleh Raihanun) yang nekat datang dari kampung menuju Jakarta demi bertemu ayah kandungnya, Ipuy (diperankan oleh Donny Damara). Berbekal alamat yang dicatatnya di secarik kertas, Cahaya menyusuri gelapnya malam Jakarta menuju apartemen tempat Ipuy tinggal. Sayangnya Ipuy sedang tidak ada di tempat. Cahaya dengan jilbab dan rok panjangnya pun berjalan lagi menuju jembatan tempat Ipuy bekerja. Scene dimana Cahaya akhirnya mengetahui jati diri ayahnya ini berhasil membuat saya terharu-biru ketika menontonnya. Salah satu hal yang juga membuat Cahaya kecewa adalah ketika ia mengetahui bahwa bapaknya itu ingin operasi transgender agar bisa menjadi wanita seutuhnya, menikah dengan laki-laki yang menjadi pacarnya, dan pindah ke Surabaya.

Namun bagaimanapun juga Ipuy adalah Bapak yang lovely. Sekesal apapun dia terhadap anaknya yang nekat mengunjunginya ini, Ipuy tetap memperlakukan Cahaya dengan baik. Pada malam menuju pagi itu ia mentraktir anaknya makan nasi padang dan mengobrol ke sana ke mari. Di sepanjang jalanan ibukota yang sepi, mereka berdua saling bercerita tentang kehidupan satu sama lain; kehidupan Cahaya di kampung, dan kehidupan Ipuy sebagai banci penghibur. Dari sesi curhat itulah akhirnya terungkap alasan lain mengapa Cahaya datang ke Jakarta. Ternyata ia tengah hamil di luar nikah dan ingin kabur sejenak dari pacar yang telah menghamilinya.

Duh, sayangnya saya lupa bagaimana bunyi dialog yang jadi poin utama dalam film ini. Yang jelas dialognya adalah ketika Cahaya dan Ipuy duduk berdua di trotoar dengan berlatar belakang halte TransJakarta. Ipuy yang merasa terganggu karena akhirnya Cahaya mengetahui profesi dan jatidirinya ini menasehati bahwa terkadang mengetahui kehidupan dan fakta seseorang bisa menyebabkan sakit hati kalau tak sesuai dengan ekspektasi. #Jleb banget ya? Oya, sama dengan Like Someone in Love, film Lovely Man ini juga menceritakan pertemuan dalam jangka waktu yang singkat.

See, korelatifnya dapet banget kan? :”)
Ini baru yang edisi Februari. Di bulan Maret, saya juga nemuin dua korelasi lagi berdasarkan film dan buku yang saya baca. Tunggu ceritanya di postingan selanjutnya ya! *wink* 

4 comments: