Oleh-oleh dari Social Media Week Jakarta 2016

21.55 Dea Maesita 11 Comments


Kalau boleh dikenang, salah satu pertanyaan yang sering saya dapet di bulan kemarin adalah “Kamu nggak ke Social Media Week, De?”. Dan saya yang udah ilfeel duluan sama harga tiketnya pun menjawab dengan malas “Engga”.

Beberapa hari kemudian which is H-3 acaranya, Si Bos nge-mention di instagram, minta saya ngepropose mau ikutan kelas yang mana di Social Media Week 2016. Saya pun mendadak seneng dan langsung nge-propose empat kelas (dua kelas berbayar, dan dua kelas yang lainnya gratis):
- Masterclass: Membuat Infographic dari Social Data by SMW 
- Masterclass: Social Media Measurement Metric by SMW 
- How Digital Helps Marketing Efforts by Bakmi Mewah, sama 
- Validity Speaks by Kompas Daily

Sayangnya kelas yang berbayar (per kelasnya Rp. 600.000) udah sold out dari H-7 acara. Jadinya saya ikutan kelas yang gratisan, itupun seat-nya udah sisa-sisa. Tapi seneng sih bisa dapet ilmu baru, bisa keluar dari kantor sore-sore, dan dapet support dari kantor. JUGA sedih karena harus ngejar deadline yang setumpuk sebelum ninggalin kantor buat dateng ke Social Media Week 2016. Walaupun akhirnya kekejar dan bisa ikutan seminarnya dengan tenang tanpa email dan whatsapp dari client :p

Ini juga salah satu bukti enaknya kerja di kantor Start-up. Bosnya suportif buat karyawannya yang pengen mau terus belajar, ngebiarin kita buat bereksplorasi sama bidangnya, serta bereksperimen sama hal-hal baru. Pas awal sebelum masuk kantor, di kontrak kerjanya emang udah ada tulisan tentang “workshop/seminar support” sih. Tapi giliran ada seminar bagus dan mau dibiayain sama kantor, eh malah keabisan tiket.

Kelas yang pertama saya ikuti adalah “How Digital Helps Marketing Efforts” dengan pengisi acaranya yaitu perwakilan digital agency yang nanganin brandnya dan marketing manager Bakmi Mewah. Kesimpulan yang saya dapet dari sesi ini adalah: brandnya berani ngeluarin budget gede, bok! Pertama kemunculannya aja mereka udah ngesponsorin Insert Award dan Panasonic Award. Abis itu mereka juga pake buzzernya yang artis-artis berkelas. Kalo kata Marketing Managernya: “Brand kita kan mewah, makanya kita pake cara yang mewah juga”, well said anyway. Nggak cuma itu, beberapa minggu yang lalu mereka juga ngebikin iklan gede-gedean di harian Kompas (satu halaman full) dan bikin activation di akun instagramnya Kompas. Sayangnya mereka ngga berani nyebut budget, "Yang jelas gede!", katanya.

Cukup dengan yang berbayar, di pertengahan sesi mereka mulai ngejelasin bahwa brand Bakmi Mewah juga nyebar dengan cara yang organik. Brand makanan emang gampang banget yah nyebar viralnya? Apalagi dengan era foodies-foodiesan di mana banyak food-blogger yang selalu nyari materi buat ngereview makanan. Salah duanya yang ngereview Bakmi Mewah tanpa dibayar adalah Sogi (komedian) yang ngereview di twitter dan salah satu food blogger KokikuTV yang ngereview via youtube. Mereka berdua juga diundang untuk kemudian sharing kenapa bisa sampe ngereview karena kehendak hati tanpa dibayar sepeser pun. Alasannya simpel, karena mereka suka sama produknya.



Setelah satu jam bercuap-cuap, kelas pun ditutup dengan bagi-bagi bakmi (Cuma ada 50 porsi dan aku nggak kebagian :( ). Tapi begitu keluar dari kelasnya, langsung nggak jadi kecewa karena panitia ngebagiin satu paket bakmi yang isinya empat karton. Uwuwu lumayan banget buat stok akhir bulan.

Done sama kelasnya Bakmi Mewah, saya pun ngelanjutin kelas yang ke-dua yakni “Validity Speaks” by Mas Wisnu Nugroho dari Harian Kompas. Sebenernya kelas ini nggak terlalu related sama kerjaan saya yang sekarang karena lebih ke dunia jurnalistik sih. Tapi karena penasaran sama dunia jurnalistik alias kewartawanan, akhirnya saya rela pulang malem dan mengikuti kelasnya sampai selesai.


Di sesi ini, Mas Wisnu membahas tentang studi kasus pemberitaan Bom Sarinah pada Januari 2016 lalu. Beberapa berita hoax yang menyebar cepat di portal berita online merupakan sebuah tantangan jurnalistik tersendiri di era digital. Mau nggak mau para jurnalis harus dihadapkan dengan dua tantangan: 1. Menulis berita dengan cepat agar tidak basi, tapi dengan sumber yang belum tentu valid, ATAU 2. Menulis berita dengan akurat, tapi membutuhkan waktu untuk mengkonfirmasi narasumbernya satu per satu.

Saya pun semakin excited ketika slide presentasinya memperlihatkan foto rapat redaksi yang berisi Pimred beserta timnya. Kata Mas Wisnu, di foto tersebut mereka sedang memilih foto-foto mana yang layak menjadi headline berita. Foto yang terkumpul banyak sekali, namun tentu saja banyak juga yang tidak pantas untuk disebarluaskan apalagi di tragedi berdarah semacam itu. Kebayang banget perjuangan di balik redaksi di momen penting seperti Tragedi Bom Sarinah. Betapa di balik sebuah berita, ada kerja keras para kuli tinta untuk diapresiasi keberadaannya.

Menjelang akhir acara, Mas Wisnu pun memberi sedikit bocoran tentang program barunya Kompas yakni vik.kompas.com, sebuah portal online yang merupakan kolaborasi antara Harian Kompas, Kompas TV, dan Kompas.com. Katanya sih, ini merupakan terobosan Kompas buat mengikuti perkembangan jaman di era digital. Berbeda sama berita-berita lainnya, artikel yang ada di portal ini proses pengerjaannya serius banget, bok. Satu artikel bahkan mencapai waktu tiga minggu atau lebih pengerjaannya.

Terus keinget obrolan berempat sama Kiram, Jeanett, sama Irul sepulang dari meet-up #30HariBercerita. “Kompas itu visioner sekali ya”, kata Jeanett yang menyimpulkan diskusi kami tentang program-program kantor mereka dalam rangka persaingan di era digital (Saya jadi satu-satunya orang yang bukan pegawai Kompas di diskusi itu anyway :p). Tapi selalu salut sih sama brand/perusahaan yang selalu mengikuti perubahan jaman dan selera pasar. Hidup itu keras, maka stagnansi sebaiknya jadi oposisi.

You Might Also Like

11 komentar:

  1. Wah keren ya event even di jakarta, jadi nambah ilmu. jadi ngiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pindah sini ajah.. Pasti makin heitz deh. Secara gitu kan, Si Wel :3

      Hapus
    2. pengen sih, tapi.. ah... siapalah saya ini kak.

      Hapus
  2. Acaranya keren ya. Sayang disini nggak ada acara-acara semacam itu. :)

    Salam kenal mbak Dea, ini kunjungan pertama saya di mari loh, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah posisinya di mana emang Mas? Masnya aja yang inisiatif bikin kayak gini. Belom ada kan? Hehe
      Thank youu udah berkunjung :D

      Hapus
  3. Omg kelas berbayar mahal amat udah melebihi kelas makeup bersertifikat dan dapet goodies :')
    Ngomong-ngomong bakmi mewah, aku baru tau akhir-akhir ini karena liat di tv, sih. Sebelomnya ga pernah denger xD
    Dan belom pernah coba bakminya juga. Bagi dong kak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. LOL, iya mahal emang. Soalnya ini event internasional dan ada di beberapa negara.

      Sekarang udah ada di minimarket-minimarket katanyah #malahpromosi

      Hapus
  4. wahh ada namaku, hahahaaa.. btw kolaborasi VIK yg bener itu ada Kompas.com, Kompas TV, sama Harian Kompas *ceritanya protes* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah Kompasiana engga ya? *salim ke developernya* :p
      Betewe keren banget loh VIK nyaa

      Hapus
  5. ada yah event begini, keren yah pembahasannya dan nambah ilmu pastinya terutama buat blogger-blogger muda kek kita gini hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangettt (T-nya tiga) :P
      Next year tungguin lagi ajaa

      Hapus