When Life Gives You Rujak Serut

21.10 Dea Maesita 4 Comments


Kadang saya iri sama Mamah yang begitu nempel kursi kendaraan bisa langsung tidur sampe lupa daratan. Saya sendiri nurun tipikalnya Papah, yang nggak pernah bisa tidur di perjalanan kecuali kalo capeknya udah kebangetan. Maka dari itu di setiap agenda bepergian, saya harus bawa/dapet “partner” entah itu temen ngobrol, musik dari handphone, atau buku. Nggak ada salah satu ataupun ketiganya? Nggak kebayang deh kayak gimana sedihnya, sampe suatu ketika hal itu terjadi sama saya seminggu yang lalu.

Waktu itu  Minggu pagi di kos. Saya udah siap mau nganterin temen dari Jogja buat jalan-jalan keliling Jakarta, sampe akhirnya ada panggilan di telepon dari Mamah. Agak ragu-ragu sih mau ngangkatnya karena sering banget saya udah ngangkat telepon dari Mamah, tapi ternyata cuma kepencet dari saku/tas. ZONK. Tapi telepon yang ini lain. Mamah emang beneran nelpon plus membawa kabar duka. Budhe yang ngerawat saya sejak kecil sakit parah, masuk ICU, dan tingkat kesadarannya udah menurun drastis. BOOM, saya nangis. Saya emang nggak pernah tega kalo ngedenger orang lain apalagi keluarga sendiri sakit parah. Yang kepikiran cuma satu: perpisahan.

Setelah bilang “Gimana ya, Mah? Gimana ya, Mah?” berkali-kali, akhirnya Mamah cuma bisa nenangin. “Hidup emang kayak gitu. Coba dipikirin pake logika, jangan dipikir pake perasaan”. Sembilan puluh menit kemudian saya udah sampe bandara Halim Perdana Kusuma. Daaan the worst things are: Satu, saya lupa bawa buku! (Padahal lagi seru-serunya baca novel O-nya Eka Kurniawan). Dua, saya nggak bisa dengerin musik karena hape lowbatt (Bisa pesen Gojek sampe Bandara dan bisa ngabarin orang rumah aja udah bersyukur). Daan tiga, saya nggak punya partner ngobrol karena di sebelah saya Mas-mas Arab (ehem, sepantaran pula) sama Bapaknya yang sepanjang perjalanan udah asyik ngobrol berdua ngalor ngidul. Untungnya langit hari itu cerah dan beruntungnya saya dapet window-seat padahal saya enggak request ke Mbak petugas check-in di bandara. When life doesn’t give you a warning.

Setelah urusan di Rumah Sakit beres, saya menyempatkan diri mampir ke toko buku di Mall Ciputra Semarang sebelum ke Bandara Ahmad Yani buat pulang kembali ke Jakarta. Niatnya sih mau beli buku sastra yang tebel sekalian, tapi kecewa banget. Stok buku sastranya beda jauh sama di Jakarta. Setelah mondar-mandir menyisir rak buku fiksi sampe dua kali, akhirnya saya nemuin kumcer-nya Eka Kurniawan “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cintanya Melalui Mimpi”. Sempet heran sih, soalnya pas nyisir rak buku yang pertama saya nggak nemuin buku ini. Eh setelah penyisiran ke-dua, saya bisa nemuin buku ini di rak nomor dua dari bawah. Itu pun tinggal satu eksemplar! When life gives you a miracle.

Seminggu setelahnya (which is hari ini) Mamah nyampein kabar duka lagi. Bedanya, saya nggak nangis di telepon. Bukannya gampang move on, saya tipikal orang yang gampang mengikhlaskan sesuatu kalo emang itu buat kebaikan. When you can accept the reality, you are mature enough to go and grow. Semoga surga jadi milik siapapun yang berbaik hati. Semoga yang patah hati kembali menemukan cintanya melalui mimpi.

4 comments:

Pasung Jiwa - Okky Madasari (Resensi Buku)

12.32 Dea Maesita 2 Comments



“Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua hal adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengkungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku”. (Halaman 293)

Berbeda dengan novel “Pulang” yang khusus saya baca ketika naik angkot M11, novel Okky Madasari berjudul “Pasung Jiwa” ini saya baca ketika naik angkot M11, angkot M24, di kamar kos, bahkan ketika menunggu di kafe. Bisa dibilang saya membaca novel ini di momen yang pas, ketika isu LGBT sedang menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Memang isinya tidak sepenuhnya mengangkat isu LGBT, tapi beberapa part tentang Sasana (tokoh utama laki-laki di novel ini yang berjiwa perempuan) cukup membuat saya tau lebih dalam tentang kebimbangan yang terjadi.

Novel ini sendiri merupakan karya ke-dua dari Okky Madasari yang saya baca setelah novel “86”.  Tak jauh beda dengan 86, Pasung Jiwa juga bercerita tentang permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat, seperti isu transgender, PHK buruh pabrik, kehidupan pekerja seks di lokalisasi, bahkan tentang agama yang membahas tentang laskar-laskar an. Saya agak ngeri ketika membaca part itu. Kalau saya menjadi penulis novel, saya mungkin nggak seberani Okky yang menyinggung permasalahan agama.

Jika dirangkum, ada dua tokoh utama yang menonjol di cerita ini, yakni Sasana dan Cak Jek. Sasana, seperti yang telah saya singgung sebelumnya, merupakan seorang laki-laki yang terbelenggu jiwanya akibat tekanan orang tua. Part di awal novel ini menjelaskan tentang Sasana kecil yang menjalani kehidupan normal layaknya anak kecil yang taat. Selalu mendapat ranking bagus di kelas, ikut les piano, tak pernah keluar rumah, dan lain-lain. Bahkan dalam hal selera musik pun ia harus menaati selera kedua orang tuanya yang menyukai musik klasik, padahal Sasana sendiri sangat menggemari musik dangdut.

Titik awal ketika Sasana menyadari bahwa ia ingin menjadi seorang perempuan adalah ketika ia memiliki adik kecil bernama Melati. Semua ambisinya itu disimpannya sendiri hingga akhirnya terbongkar bebas ketika kuliah, ketika jarak antara Jakarta-Malang memisahkan ia dari belenggu kedua orang tua. Sasana berubah menjadi Sasa, yang selalu menikmati penampilannya di depan orang-orang, yang tak canggung menggunakan pakaian dan sepatu milik perempuan. Tokoh ke-dua bernama Cak Jek. Pria yang pandai bicara dan selalu optimistis ini adalah partner ngamen Sasa selama di Malang. Cak Jek bisa dibilang menjadi manajer yang mengatur pertunjukan Sasa. Kedua rekan itu menjadi sahabat lekat yang kemudian terpisahkan ketika mereka pergi berdemo di Sidoarjo.

Sasa tertangkap aparat dan sempat diperkosa selama tinggal di bui. Pada suatu hari, ia berhasil kabur ke Jakarta untuk pulang. Namun sayang, traumanya selama mengalami pelecehan seksual yang amat keji di penjara membuatnya tak tertolong dan mendekami Rumah Sakit Jiwa. Sementara itu Cak Jek juga mengambil jalan lain. Seusai kabur dari lokasi demo, ia pergi ke Batam, menjadi buruh pabrik televisi dan tinggal di mess perusahaan.

Di fase kehidupan yang selanjutnya, Sasana yang sudah keluar dari RS Jiwa kemudian kuliah lagi serta menjadi artis panggung dimanajeri oleh sang mama. Cak Jek yang tak betah dengan problematika hidup di Batam memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, mencari sesuap bekal sebelum kemudian pulang lagi ke Malang. Pengembaraannya di ibukota mempertemukan ia dengan “Laskar Jakarta”, sebuah kelompok beratasnamakan agama yang berjuang untuk membela kebenaran. Setelah sukses menjadi anggota Laskar Jakarta, Cak Jek dengan bakat alamiah yakni menjadi pemimpin dan pandai berbicara membuatnya menjadi pemimpin Laskar ketika berada di Malang.

Di kota kelahirannya itulah ia mulai menjalani hidupnya kembali sebagai penegak kebenaran. Tugasnya adalah melakukan inspeksi ke cafe, hotel, maupun tempat-tempat lainnya yang dianggap menyeleweng dari ketentuan agama. Siapa sangka, pekerjaan inilah yang kemudian mempertemukannya dengan Sasa, sahabat lamanya, namun dengan cara yang amat tragis. Part ketika Cak Jek (beserta rombongan) menggerebek Sasa (yang manggung di kafe ditemani dengan mamanya) merupakan salah satu bagian yang paling tak terlupakan di novel ini menurut saya. Tapi untungnya kisah ini berakhir dengan happy ending. Jadi saya jadi tak berlama-lama terlarut dalam cerita gelap di novel ini. :)

Overall yang paling saya suka dari novel ini adalah plotnya yang nggak ketebak, alurnya yang rapi, dan permasalahannya yang kompleks namun tak membingungkan. Isu-isu sosialnya juga dapet banget. Tapi mengenai gaya bahasa, bisa dibilang I’m not really in to it. Entahlah apa mungkin karena saya terlalu terbiasa membaca kalimat yang panjang-panjang ya? Sehingga saya jadi agak jengah kalau baca kalimat yang pendek-pendek. Itu masalah selera juga sih :P

2 comments:

Oleh-oleh dari Social Media Week Jakarta 2016

21.55 Dea Maesita 11 Comments


Kalau boleh dikenang, salah satu pertanyaan yang sering saya dapet di bulan kemarin adalah “Kamu nggak ke Social Media Week, De?”. Dan saya yang udah ilfeel duluan sama harga tiketnya pun menjawab dengan malas “Engga”.

Beberapa hari kemudian which is H-3 acaranya, Si Bos nge-mention di instagram, minta saya ngepropose mau ikutan kelas yang mana di Social Media Week 2016. Saya pun mendadak seneng dan langsung nge-propose empat kelas (dua kelas berbayar, dan dua kelas yang lainnya gratis):
- Masterclass: Membuat Infographic dari Social Data by SMW 
- Masterclass: Social Media Measurement Metric by SMW 
- How Digital Helps Marketing Efforts by Bakmi Mewah, sama 
- Validity Speaks by Kompas Daily

Sayangnya kelas yang berbayar (per kelasnya Rp. 600.000) udah sold out dari H-7 acara. Jadinya saya ikutan kelas yang gratisan, itupun seat-nya udah sisa-sisa. Tapi seneng sih bisa dapet ilmu baru, bisa keluar dari kantor sore-sore, dan dapet support dari kantor. JUGA sedih karena harus ngejar deadline yang setumpuk sebelum ninggalin kantor buat dateng ke Social Media Week 2016. Walaupun akhirnya kekejar dan bisa ikutan seminarnya dengan tenang tanpa email dan whatsapp dari client :p

Ini juga salah satu bukti enaknya kerja di kantor Start-up. Bosnya suportif buat karyawannya yang pengen mau terus belajar, ngebiarin kita buat bereksplorasi sama bidangnya, serta bereksperimen sama hal-hal baru. Pas awal sebelum masuk kantor, di kontrak kerjanya emang udah ada tulisan tentang “workshop/seminar support” sih. Tapi giliran ada seminar bagus dan mau dibiayain sama kantor, eh malah keabisan tiket.

Kelas yang pertama saya ikuti adalah “How Digital Helps Marketing Efforts” dengan pengisi acaranya yaitu perwakilan digital agency yang nanganin brandnya dan marketing manager Bakmi Mewah. Kesimpulan yang saya dapet dari sesi ini adalah: brandnya berani ngeluarin budget gede, bok! Pertama kemunculannya aja mereka udah ngesponsorin Insert Award dan Panasonic Award. Abis itu mereka juga pake buzzernya yang artis-artis berkelas. Kalo kata Marketing Managernya: “Brand kita kan mewah, makanya kita pake cara yang mewah juga”, well said anyway. Nggak cuma itu, beberapa minggu yang lalu mereka juga ngebikin iklan gede-gedean di harian Kompas (satu halaman full) dan bikin activation di akun instagramnya Kompas. Sayangnya mereka ngga berani nyebut budget, "Yang jelas gede!", katanya.

Cukup dengan yang berbayar, di pertengahan sesi mereka mulai ngejelasin bahwa brand Bakmi Mewah juga nyebar dengan cara yang organik. Brand makanan emang gampang banget yah nyebar viralnya? Apalagi dengan era foodies-foodiesan di mana banyak food-blogger yang selalu nyari materi buat ngereview makanan. Salah duanya yang ngereview Bakmi Mewah tanpa dibayar adalah Sogi (komedian) yang ngereview di twitter dan salah satu food blogger KokikuTV yang ngereview via youtube. Mereka berdua juga diundang untuk kemudian sharing kenapa bisa sampe ngereview karena kehendak hati tanpa dibayar sepeser pun. Alasannya simpel, karena mereka suka sama produknya.



Setelah satu jam bercuap-cuap, kelas pun ditutup dengan bagi-bagi bakmi (Cuma ada 50 porsi dan aku nggak kebagian :( ). Tapi begitu keluar dari kelasnya, langsung nggak jadi kecewa karena panitia ngebagiin satu paket bakmi yang isinya empat karton. Uwuwu lumayan banget buat stok akhir bulan.

Done sama kelasnya Bakmi Mewah, saya pun ngelanjutin kelas yang ke-dua yakni “Validity Speaks” by Mas Wisnu Nugroho dari Harian Kompas. Sebenernya kelas ini nggak terlalu related sama kerjaan saya yang sekarang karena lebih ke dunia jurnalistik sih. Tapi karena penasaran sama dunia jurnalistik alias kewartawanan, akhirnya saya rela pulang malem dan mengikuti kelasnya sampai selesai.


Di sesi ini, Mas Wisnu membahas tentang studi kasus pemberitaan Bom Sarinah pada Januari 2016 lalu. Beberapa berita hoax yang menyebar cepat di portal berita online merupakan sebuah tantangan jurnalistik tersendiri di era digital. Mau nggak mau para jurnalis harus dihadapkan dengan dua tantangan: 1. Menulis berita dengan cepat agar tidak basi, tapi dengan sumber yang belum tentu valid, ATAU 2. Menulis berita dengan akurat, tapi membutuhkan waktu untuk mengkonfirmasi narasumbernya satu per satu.

Saya pun semakin excited ketika slide presentasinya memperlihatkan foto rapat redaksi yang berisi Pimred beserta timnya. Kata Mas Wisnu, di foto tersebut mereka sedang memilih foto-foto mana yang layak menjadi headline berita. Foto yang terkumpul banyak sekali, namun tentu saja banyak juga yang tidak pantas untuk disebarluaskan apalagi di tragedi berdarah semacam itu. Kebayang banget perjuangan di balik redaksi di momen penting seperti Tragedi Bom Sarinah. Betapa di balik sebuah berita, ada kerja keras para kuli tinta untuk diapresiasi keberadaannya.

Menjelang akhir acara, Mas Wisnu pun memberi sedikit bocoran tentang program barunya Kompas yakni vik.kompas.com, sebuah portal online yang merupakan kolaborasi antara Harian Kompas, Kompas TV, dan Kompas.com. Katanya sih, ini merupakan terobosan Kompas buat mengikuti perkembangan jaman di era digital. Berbeda sama berita-berita lainnya, artikel yang ada di portal ini proses pengerjaannya serius banget, bok. Satu artikel bahkan mencapai waktu tiga minggu atau lebih pengerjaannya.

Terus keinget obrolan berempat sama Kiram, Jeanett, sama Irul sepulang dari meet-up #30HariBercerita. “Kompas itu visioner sekali ya”, kata Jeanett yang menyimpulkan diskusi kami tentang program-program kantor mereka dalam rangka persaingan di era digital (Saya jadi satu-satunya orang yang bukan pegawai Kompas di diskusi itu anyway :p). Tapi selalu salut sih sama brand/perusahaan yang selalu mengikuti perubahan jaman dan selera pasar. Hidup itu keras, maka stagnansi sebaiknya jadi oposisi.

11 comments: