Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti, Album Terbaru Banda Neira (Music Review)

19.09 Dea Maesita 2 Comments

Album terbaru Banda Neira (kiri) dan Lirik favorit saya di album ini dalam versi aksara Jawa (Kanan)

Setelah melalui fase penyesalan karena nggak sempet hadir di Pesta Rilis Kecil-kecilannya di PGP Cafe pada akhir Januari kemarin, akhirnya saya melunasi kekecewaan dengan membeli album baru duo nelangsa riang pada 16 Februari 2016, hari pertama penjualan rilisan fisiknya. Album precious ini tiba di kantor pada hari Jumat berkat kesabaran menunggu kiriman selama empat hari dari @sorgerecords. Beruntung banget, karena saya yang berencana weekend nggak mau kemana-mana berarti bisa ngedengerin album mereka sampai puas.

Hal yang pertama kali yang terpikirkan pas ngeliat album ini adalah: case-nya instagramable, dengan ilustrasi bunga dan typografi “Banda Neira” yang sederhana tapi cantik. Sekilas font ini mengingatkan saya pada typografi pada sampul “Hujan Bulan Juni”-nya Sapardi Djoko Damono. Tapi ternyata saya salah. Logo Banda Neira tersebut dibuat dengan mengedit jenis huruf yang digunakan pada judul buku “Di Bawah Jendela Revolusi”. Sedangkan jenis huruf yang digunakan pada semua judul lagu dibuat dengan mengedit tulisan tangan Ir. Soekarno yang ada di internet. Konsep yang matang sekali!

Mengenai lagu-lagunya, saya sendiri sudah mulai jatuh cinta pada tiga buah lagu yang mereka sajikan sebagai teaser sejak bulan Januari kemarin, diantaranya “Pelukis Langit”, “Sampai Jadi Debu”, dan “Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti”. Di luar teaser, saya juga suka dengan lagu “Langit dan Laut” yang seakan membawa suasana seakan-akan sedang berada di pantai selatan. Selain itu lagu “Utarakan” yang lirik maupun komposisinya diciptakan oleh Ananda Badudu juga jadi favorit saya! Psst, lagunya bisa dipake buat kode-kodean juga kalo kamu punya gebetan yang tak kunjung mengutarakan, atau jadi motivasi buat diri sendiri kalo kamu juga nggak pandai mengutarakan. :P  

Lirik-liriknya yang puitis dan melodinya yang mendayu-dayu khas Banda Neira diperkuat lagi dengan kolaborasinya dengan beberapa musisi seperti Gardika Gigih, Jeremia Kimosabe, Suta Suma Pangekshi, Dwi Ari Ramlan, Layur, dan lain-lain. Saya yang memang sejak lama menggemari karya-karya Gardika Gigih dan Layur via Soundcloud langsung excited ketika Banda Neira mengajak mereka untuk berkolaborasi bersama di album ini.

Albumnya sendiri dipatok dengan harga Rp. 60.000, normal banget karena album ini berisi dua keping CD: “Yang Patah Tumbuh” sebagai CD pertama yang berisi delapan lagu, dan “Yang Hilang Berganti” yang berisi delapan lagu (tujuh lagu kalau ternyata “Langit dan Laut” dan “re: Langit dan Laut” digabungkan).

Disc 1: Yang Patah Tumbuh

Yang Patah Tumbuh:
-          Matahari Pagi
-          Sebagai Kawan
-          Pangeran Kecil
-          Pelukis Langit
-          Utarakan
-          Biru
-          Bunga
-          Sampai jadi Debu

Disc 1: Yang Hilang Berganti

Yang Hilang Berganti:
-          Langit dan Laut
-          Re: Langit dan Laut
-          Mewangi
-           Derai-derai Cemara (1949)
-          Musikalisasi Puisi Chairil Anwar
-          Tini dan Yanti
-          Benderang
-          Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti


Lirik favorit saya di album ini dalam versi aksara Jawa (atas) dan Album terbaru Banda Neira (bawah) dan 

Oya, ada yang bisa nebak apa tulisan yang ada di foto ini? :P
Kaligrafi aksara Jawa ini iseng-iseng saya buat berdasarkan lirik yang saya suka di album Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti.

You Might Also Like

2 komentar:

  1. tulisan jawanya itu lirik
    yang patah tumbuh yang hilang berganti
    yang hancur lebur akan terobati
    yang sia sia (akan jadi makna?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak 100! :D
      Alhamdulillah ya, masih ada yg bisa baca. Itu aja aku nulisnya pake contekan :P

      Hapus