Siti, Gambaran Ketegaran Sekaligus Kerapuhan Seorang Perempuan (Review Film)

18.28 Dea Maesita 3 Comments


Jenis film: Drama
Produser : Ifa Isfansyah
Sutradara : Eddie Cahyono
Penulis : Eddie Cahyono
Produksi : Fourcolours Films
Pemain: Sekar Sari, Bintang Timur Widodo, Titi Dibyo, Ibnu Widodo, Haydar Saliz.

Siti, entah kenapa begitu mendengar judul film ini saya langsung terbayang seorang tokoh perempuan Jawa dengan berbagai kisah yang akan menggetarkan jiwa. Lagi-lagi feeling saya betul. Berawal dari tawaran teman saya di 30haribercerita, terlalurisky, yang punya tiket gratis pertunjukan premiere-nya, saya bersama kerisirek dan sulyzulfinaen langsung meng-iya-kan untuk menyaksikan penayangan filmnya di sebuah mall kawasan Pondok Indah. Untung jarak dari kantor tidak terlalu jauh, sehingga sepulang kantor kami langsung tiba dalam waktu 20 menit untuk sampai di bioskopnya. 


Berdurasi selama 88 menit, film dengan kategori D17+ ini bercerita tentang kehidupan Siti, seorang perempuan asli Parangtrirtis Yogyakarta yang dihadapkan dengan problematika finansial, cinta, dan keluarga. Di awal film, diceritakan bahwa Bagus (Suami Siti) mengalami kecelakaan saat melaut sehingga tubuhnya mengalami kelumpuhan sehingga ia hanya bisa terbaring di atas ranjang. Tragis, kapal yang baru dibelinya dengan uang pinjaman pun ikut hilang terbawa ombak. Siti sebagai istri yang kondisi fisiknya jauh lebih sehat dibanding suaminya mau tak mau harus berjuang untuk menghidupi ibu mertua, anak, dan suaminya, serta membayar hutang kepada pak Karyo yang sudah menunggak selama beberapa waktu.

Siti terpaksa bekerja siang dan malam. Ia berjualan Peyek Jingking di Parangtritis bersama ibu mertuanya di siang hari, serta menjadi pemandu karaoke di sebuah kelab malam di penghujung hari. Pekerjaan ke-duanya itu sangat ditentang oleh suaminya dan membuat Bagus menjadi bungkam, tak mau berbicara satu kata pun kepada Siti maupun orang lain. Di saat itulah, Siti dihadapkan dengan dilematika antara tetap bekerja sebagai pemandu karaoke untuk menghasilkan uang, atau memilih anjuran suaminya untuk tak lagi bekerja di sana dan mencari pekerjaan lain.

Di saat masa-masa sulit tersebut, Siti juga dihadapkan dengan dilematika percintaan, dengan hadirnya Mas Gatot (salah satu pelanggan setianya di tempat karaoke) yang dari segi finansial jauh lebih mapan ketimbang suaminya. Mas Gatot yang berprofesi sebagai polisi bahkan sampai dalam tahap ingin meminang Siti dan menyuruhnya menceraikan Bagas. Ia pun memberikan Siti segepok uang untuk membayar hutang kapal suaminya kepada Pak Karyo.

Dengan membawa uang dari Mas Gatot, Siti pulang dari tempat karaoke dengan kondisi mabuk berat. Sesampainya di rumah, Siti menceritakan keinginan dari Mas Gatot tersebut kepada suaminya. Bagus yang tak lagi tega melihat penderitaan Siti kemudian akhirnya mau berbicara setelah bertahun-tahun membungkam mulut. “Lungo’o kowe Ti, lungo’o”. Sungguh adegan ini membuat saya langsung menitikkan air mata. Betapa sang suami bisa legowo untuk mengikhlaskan istrinya agar hidup lebih layak dan bahagia dengan lelaki lain adalah hal yang patut diapresiasi. Siti, yang tentu masih mencintai suaminya pun kecewa mendengar jawaban dari Bagas. “Kowe ki ncen asu kok Mas!”.

Di tengah kekecewaan tersebut, Siti yang frustasi berat langsung menuju kamar anaknya (Bagas) dan mengajak dia untuk pergi ke laut. Namun Bagas menolak. Lagipula siapa yang mau diajak pergi ke laut di tengah malam menuju fajar? Setelah menitipkan uang pelunasan kapal kepada ibu mertuanya, Siti pun berjalan sendirian menuju pantai selatan. Tamat.

Film yang sudah memperoleh tiga Piala Citra berkat kiprah di tahun-tahun sebelumnya pada jalur festival/indie ini membuat saya bersyukur bisa menontonnya. Oya, jangan kaget kalau di sepanjang film layarnya hitam-putih karena keartistikan dari layar hitam-putih inilah yang ingin dibagun oleh creator-nya. Posternya yang bergambar ilustrasi hitam-putih pun sempat membuat partner menonton saya mengira bahwa Siti ini film horror. Baru setelah melihat reviewnya di website XXI, ia percaya bahwa ini adalah film drama. Siti dengan genre yang “demikian” berhasil memuaskan selera saya. Satu film bagus untuk mengawali tahun 2016 ini!

You Might Also Like

3 komentar:

  1. Kayanya film keren ya kapin, konfliknya juga kompleks, tapi mungkin peminatnya masih sedikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaa Kakpin? :(

      Iyaa peminatnya masih kalah. A Copy of My Mind tuh yaa yg banyak peminatnya

      Hapus
    2. yaowoh salah sebut nama. memalukan. :(

      Hapus