Pulang - Leila S. Chudori (Resensi Buku)

10.09 Dea Maesita 0 Comments

Novel yang 80% dilahap di dalam angkot M11

Entah kenapa meskipun lulusan FISIP dan sudah mendapatkan ratusan kelas seputar dunia politik, novel-novel dengan genre politik jarang bisa merebut perhatian saya. Saya selalu menyisir halaman belakang satu per satu, dan begitu menemukan unsur politik di dalamnya, saya akan berpaling dan mencari novel dari genre yang lain. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang belum ada nama Pramoedya Ananta Toer di rak buku saya. Namun novel yang satu ini lain.

Berkali-berkali mendengar review yang mengatakan novel ini bagus, akhirnya saya membeli buku ini setelah tiga tahun diterbitkan yakni pada cetakan ke-enam. But it is never too late to read a good book, isn’t it? Novel ini juga merupakan karya Leila S. Chudori yang pertama kali saya baca dan langsung membuat saya jatuh cinta.


“Pulang” bercerita tentang Dimas Suryo, seorang eksil politik yang mendapat kecaman dari pemerintah saat itu karena tidak memihak salah satu golongan politik (saya baru tau juga, ternyata tidak memihak pun bisa berakibat fatal dan menjadikan seseorang menjadi buronan). Berawal dari surat tugas yang diterimanya untuk menghadiri konferensi-konferensi di luar negeri ketika menjadi wartawan, Dimas tak bisa pulang lagi ke tanah airnya hingga ia memutuskan untuk menikah dengan Vivienne, seorang wanita berketurunan Prancis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama (le coup de foudre). Mereka sendiri dipertemukan pada momen yang unik, yakni pada saat demo mahasiswa di Universitas Sorbonne.

Tak seperti kawan-kawan Indonesia-nya yang lain seperti Nug, Tjai, dan Risjaf yang menikmati kehidupan dan masa depan mereka di Prancis, Dimas selalu ingin pulang dan menganggap Indonesia terutama Karet (sebuah pemakaman di Jakarta Pusat) adalah tempatnya untuk berpulang. Itulah penyebab mengapa Vivienne akhirnya menceraikan Dimas, karena selain tak menganggap Prancis sebagai masa depannya, ia juga merasa bahwa Dimas masih mencintai  Surti Anandari, cinta pertamanya yang tertinggal di Jakarta dan menjadi janda karena suaminya mati setelah ditangkap intelijen dan kemudian disiksa.

Prancis tak pernah menjadi rumah bagi Dimas. Aku sudah menyadari itu sejak awal kami bertemu mata. Ada sesuatu yang mencegah dia untuk berbahagia. Ada banjir darah di tanah kelahirannya. Ada le chaos politique yang bukan sekedar mengalahkan, tetapi merontokkan, kemanusiaan Dimas dan kawan-kawannya. (halaman 203)

Selain Dimas Suryo, bagian ketika Lintang Utara (anak satu-satunya Dimas & Vivienne) terbang ke Jakarta untuk membuat film dokumenter juga tak kalah serunya. Saya bisa membayangkan kondisi kerusuhan tahun 1998 di kawasan Trisakti, Tomang, depan gedung DPR, dan jalanan di seluruh Jakarta. Saya bahkan masih bisa ikut merasakan bagaimana mencekamnya suasana ketika Lintang dan Alam berlindung di rumah Bintaro dengan listrik padam dan sajadah menggantung di atas pagar sebagai penanda bahwa rumah mereka bukan rumah PKI.

Semua tokoh penting di cerita ini diceritakan dengan detail, sehingga sangkut-paut antara cerita yang satu dengan cerita yang lain terjalin dengan baik. Leila bahkan membuat bab-bab khusus satu per satu untuk setiap nama penting seperti Hananto Prawiro, Surti Anandari, Narayana Lafabre, Vivienne Deveraux, dan Bimo Nugroho. Di lembar-lembar terakhir setelah epilog, disebutkan juga bahwa Leila melakukan banyak riset dan wawancara untuk membuat novel ini terasa nyata dari segi sejarahnya.

Kisah-kisah positif yang ada pada novel ini seperti kisah Dimas, Nug, Tjai, dan Risjaf yang berusaha untuk survive di Prancis dengan membuka Restoran Tanah Air pun membuat saya sangat terinspirasi. Atau cerita tentang Alam yang dengan semangatnya membentuk sebuah LSM dan tak pernah gentar meskipun berkali-kali kantornya digeruduk oleh intel.

Berjumlah 458 halaman, novel ini membuat saya seperti menonton sebuah film tentang sejarah yang detail dan mudah untuk divisualisasikan. Isinya padat, efisien, namun sama sekali tidak membosankan dan justru membuat saya ingin membaca kelanjutan ceritanya terus menerus. Novel yang katanya memakan enam tahun dalam proses pengerjaannya ini berharga sekali untuk disimak!

Oya, novel ini sebagian besar saya baca ketika naik angkot M11 di setiap pagi dari Petamburan menuju Meruya sebagai salah satu terapi. Yup, bulan ini saya mengalami proses adaptasi yang cukup menguras hati karena biasanya pergi ke kantor cuma 15 menit, sekarang harus naik angkot yang memakan waktu 1-1,5 jam di setiap pagi. Akhirnya saya punya ide yakni mengalihkan stress selama naik angkot dengan terapi buku. Dengan terapi ini, novel yang tadinya hanya menumpuk di rak buku pun akhirnya terselesaikan!


You Might Also Like

0 comments: