Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti, Album Terbaru Banda Neira (Music Review)

19.09 Dea Maesita 2 Comments

Album terbaru Banda Neira (kiri) dan Lirik favorit saya di album ini dalam versi aksara Jawa (Kanan)

Setelah melalui fase penyesalan karena nggak sempet hadir di Pesta Rilis Kecil-kecilannya di PGP Cafe pada akhir Januari kemarin, akhirnya saya melunasi kekecewaan dengan membeli album baru duo nelangsa riang pada 16 Februari 2016, hari pertama penjualan rilisan fisiknya. Album precious ini tiba di kantor pada hari Jumat berkat kesabaran menunggu kiriman selama empat hari dari @sorgerecords. Beruntung banget, karena saya yang berencana weekend nggak mau kemana-mana berarti bisa ngedengerin album mereka sampai puas.

Hal yang pertama kali yang terpikirkan pas ngeliat album ini adalah: case-nya instagramable, dengan ilustrasi bunga dan typografi “Banda Neira” yang sederhana tapi cantik. Sekilas font ini mengingatkan saya pada typografi pada sampul “Hujan Bulan Juni”-nya Sapardi Djoko Damono. Tapi ternyata saya salah. Logo Banda Neira tersebut dibuat dengan mengedit jenis huruf yang digunakan pada judul buku “Di Bawah Jendela Revolusi”. Sedangkan jenis huruf yang digunakan pada semua judul lagu dibuat dengan mengedit tulisan tangan Ir. Soekarno yang ada di internet. Konsep yang matang sekali!

2 comments:

Pulang - Leila S. Chudori (Resensi Buku)

10.09 Dea Maesita 0 Comments

Novel yang 80% dilahap di dalam angkot M11

Entah kenapa meskipun lulusan FISIP dan sudah mendapatkan ratusan kelas seputar dunia politik, novel-novel dengan genre politik jarang bisa merebut perhatian saya. Saya selalu menyisir halaman belakang satu per satu, dan begitu menemukan unsur politik di dalamnya, saya akan berpaling dan mencari novel dari genre yang lain. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang belum ada nama Pramoedya Ananta Toer di rak buku saya. Namun novel yang satu ini lain.

Berkali-berkali mendengar review yang mengatakan novel ini bagus, akhirnya saya membeli buku ini setelah tiga tahun diterbitkan yakni pada cetakan ke-enam. But it is never too late to read a good book, isn’t it? Novel ini juga merupakan karya Leila S. Chudori yang pertama kali saya baca dan langsung membuat saya jatuh cinta.


0 comments:

Menyelami Drama Komedi di Talak 3 (Review Film)

20.42 Dea Maesita 4 Comments

Image source: muvila


Februari merupakan bulan yang tepat untuk merilis film dengan kategori cinta-cintaan. Beberapa deret judul film Indonesia seperti Surat dari Praha, Terjebak Nostalgia, A Copy of My Mind, saya telaah satu per satu. Namun karena partner nonton saya nggak suka film drama, akhirnya kali ini saya mengalah dan ikut mencoba menikmati film komedi Indonesia.


Berawal dari liburan-panjang-tapi-nggak-tau-mau-ngapain ketika libur imlek kemarin, saya dan seorang teman akhirnya memutuskan untuk menonton film ini di bioskop kawasan Setiabudi. Itu pun berdasarkan hasil perdebatan dan gambling yang cukup lama. Di hari pertama dari tiga hari libur itu, saya dan Bang Surya sedang melakukan ritual mencicipi coffee shop lokal yang kali ini membawa kami pergi ke kawasan Hang Tuah. Berhubung ngopi terlalu singkat sedangkan liburannya masih terlalu panjang, akhirnya kami sepakat menghabiskan waktu dengan pergi ke bioskop. Masalahnya, seperti yang sudah saya mention di atas, selera kami beda banget nget nget! Saya 100% suka film drama, sedangkan dia suka film action dan komedi Indonesia. Dia pun mengusulkan film Talak 3 dan menyodorkan trailernya. Bermodal wifi dari Coffee Shop, akhirnya kami mengecek jadwal di 21cineplex dan meluncur ke Setiabudi One sambil hujan-hujanan. Niat banget!


4 comments:

Siti, Gambaran Ketegaran Sekaligus Kerapuhan Seorang Perempuan (Review Film)

18.28 Dea Maesita 3 Comments


Jenis film: Drama
Produser : Ifa Isfansyah
Sutradara : Eddie Cahyono
Penulis : Eddie Cahyono
Produksi : Fourcolours Films
Pemain: Sekar Sari, Bintang Timur Widodo, Titi Dibyo, Ibnu Widodo, Haydar Saliz.

Siti, entah kenapa begitu mendengar judul film ini saya langsung terbayang seorang tokoh perempuan Jawa dengan berbagai kisah yang akan menggetarkan jiwa. Lagi-lagi feeling saya betul. Berawal dari tawaran teman saya di 30haribercerita, terlalurisky, yang punya tiket gratis pertunjukan premiere-nya, saya bersama kerisirek dan sulyzulfinaen langsung meng-iya-kan untuk menyaksikan penayangan filmnya di sebuah mall kawasan Pondok Indah. Untung jarak dari kantor tidak terlalu jauh, sehingga sepulang kantor kami langsung tiba dalam waktu 20 menit untuk sampai di bioskopnya. 

3 comments: