Ketika Kamu Berhenti Menulis Untuk Dirimu Sendiri

20.09 Dea Maesita 15 Comments

Hola Dear Readers yang telah lama kurindukan! Maapkeun Dea-nya lagi sok misterius enggak pernah update blog lagi selama setahun terakhir ini, heheh. Honestly, aku masih rada kikuk gitu sewaktu nulis postingan ini. Meskipun hampir tiap hari nulis artikel dan konten buat kerjaan kantor, ternyata feel-nya nggak sama lho kayak nulis buat blog. Karena di kantor dapetnya client yang serius-serius (dalam arti gaya bahasanya), sekarang aku harus nyesuai-in diri lagi buat nulis yang gaya bahasanya nggak begitu serius di blog ini.

Btw dulu aku pernah bertanya-tanya kenapa blogger yang dulunya eksis nulis di laman pribadinya, rajin ngetwit sesuka hati, terus tiba-tiba jadi jarang ngelakuin hal-hal semacam itu setelah dia udah terkenal dan jadi penulis beneran. Sedih sih, karena blogger favoritku itu lebih milih buat menerbitkan buku-buku baru ketimbang nge-share uneg-uneg atau pengalaman kesehariannya secara bebas. Well then, waktu itu aku cuma bisa mengutuk komersialisme. Komersialisme yang ngebikin satu kalimat yang dipostingnya seharga dengan uang tiga juta rupiah, dan komersialisme yang ngebikin invoice jadi lebih penting ketimbang pembaca setianya. WELL YEAH, it happens to myself right now.

Ngga pernah nge-update blog bukan berarti aku berhenti nulis kok. Selayaknya busur panah yang melenceng sedikit *CIE*, aku cuma ngegeser obyek nulis dari nulis untuk diri sendiri, jadi nulis untuk orang lain. Client dengan segala kemauannya, head/strategist dengan selera tulisannya, dan gaya nulisku yang demikian, ngebikin nulis buat kerjaan kantor jadi lebih teratur sama rules & patterns yang ada. Beda banget sama nulis blog di mana aku bisa bebas mau nulis apa aja, pake gaya bahasa yang gimana aja, mau strukturnya kayak gimana, bebasss! Mau nulis yang sedih-sedih, centil-centil, sampe nulis confession tentang diri sendiri, rasanya nggak masalah, lhawong blog ini gue yang punya. :p

Start from now on, I’m back to this blogging world! Horray!
Janji deh, bakalan sering update blog lagi buat sharing tentang pengalaman keseharian, rekomendasi tempat jalan, tempat jajan, sampai kehidupan pahit manis selama di Jakarta. Wait, pengalaman percintaan? I’m not gonna tell you anyway. Cheers!

Slipi Palmerah, 22 Februari 2015






15 comments: