Bukan Ombak Untukmu

17.45 Dea Maesita 7 Comments

Jangan tanyakan mengapa aku selalu diam. Jika kamu masih nekat bertanya juga, aku hanya akan menjawabnya dengan "Mengapa ombak selalu bergerak?"


...
Kesunyian hinggap. Lagi-lagi aku lupa bahwa lelaki di hadapanku ini adalah penyair kelas tinggi, yang paling pandai berandai-andai, dan mudah tergelitik oleh pemikiran yang holistik.

Seperti yang sudah kuduga, tak lama bagimu untuk membuka mulut. Tak jauh seperti biasanya, akupun bersiap untuk mendengarkan hasil pemikiran lima detikmu, yang bisa beranak-pinak menjadi presentasi sepuluh menit, dengan diselingi beberapa teguk kopi pahit.

"Ombak dan kamu sungguh berbeda, wedang jaheku.", katamu sambil menegakkan tubuh di kursi rotan kafe itu.

"Ombak ditakdirkan untuk bergerak. Kalau tak bergerak, dia hanyalah air laut biasa. Sedangkan kamu, tidak ditakdirkan untuk berdiam. Seharusnya kamu bukanlah sebuah air laut biasa. Kamu bisa menjadi ombak, yang dapat membawa manusia yang terdampar di tengah samudera, dapat selamat hingga berhasil sampai ke tepian."

"Tapi ombak tak selalu berguna. Dia, berbahaya.", tegasku.

"Lebih berbahaya mana, danau yang dalam, ber-air tenang, atau laut yang dangkal, berombak besar?", sanggahmu. 

"Yang lebih berbahaya itu kamu!", ledekku sambil berharap bahwa kita akan menghentikan perdebatan ini.

Kulihat punggungmu menjauh dari sandaran kursi. Berbalik, dan menuju ke pintu kayu hijau dengan ukiran antik bertuliskan nama kafe itu. Tak bisa kucegah. Hingga akhirnya kutemukan kartupos darimu, satu tahun kemudian.

"Apa kabar? Maafkan aku yang pergi tanpa pesan. Masihkah kau ingat nasehat dan kata-kataku di kafe pada malam itu? Sesungguhnya aku hanya ingin kamu menjadi ombak yang menyelamatkanku sampai ke tepi, di tengah-tengah samudera ketidakjelasan hidupku ini. Namun sepertinya kamu menyerah. Yasudah, aku pergi.

 ...

Kutuliskan cerita ini untuk seseorang yang mengharapkanku untuk dapat memperbaiki hidupnya. Namun sepertinya, maaf, aku tak bisa. Aku tahu, seharusnya postingan ini ber-tema-kan surat cinta. Tak menemukan surat cinta pada postingan ini? Yakin? Ya. Paragraf inilah yang merupakan surat cinta dariku untuknya.


Tangerang-Jakarta

Ditulis ketika sedang duduk kedinginan di bus kota hingga jari-jari menjadi kaku, kemudian meneruskannya kembali di kubikel, yang juga sedingin perasaan si penulisnya.

You Might Also Like

7 komentar:

  1. Balasan
    1. Hahaha ada lah. :D
      Kenapa? Mengharukan? Hahaha

      Hapus
  2. terima kasih atas informasinya. Semua beritanya terlihat menarik untuk di simak, mohon kunjungi juga website kami, kami tunggu. Terimakasih.

    BalasHapus
  3. infonya sangat bermanfaat sekali mbak/mas, makasih yach!! beritanya bagus banget dan sangat menarik untuk di baca hari ini. Ijin share juga ya, terimakasih.

    BalasHapus
  4. Artikelnya sangat bermanfaat sekali, makasih ne ya!! beritanya bagus banget dan sangat menarik di baca siang ini. Ijin share juga ya, terimakasih sekali lagi.

    BalasHapus
  5. Terimakasih atas semua artikel bermanfaat yang sudah anda publikasikan melalui blog yang menarik ini, saya tunggu postingan selanjutnya, have a nice day, kawan :)

    BalasHapus