Cerita Kemarin

21.01 Dea Maesita 2 Comments

What an extremely hectic life!

Mencoba berdamai dengan flu dan mood yang kacau balau ketika menulis postingan ini.
Hey, thanks for trying make me smile and happy everyone :)
Hanya terlalu lelah dan butuh sehari dua  hari untuk bisa tersenyum lagi (mungkin). 

Setelah melalui perjalanan dari Kediri-Surabaya-Tangerang-Jakarta-Tangerang-Bogor-Tangerang-Kudus-Kediri-Semarang-Tangerang-Jakarta-Tangerang-Jakarta-Semarang-Kudus semenjak satu bulan yang lalu dengan tegar dan bersemangat, kini saya sudah mencapai titik leleh dengan suhu yang teramat fluktuatif. 





Betapa perjuangan ini menghabiskan energi, waktu, dan biaya. Saya harus bolak-balik pulang-pergi, dan bepergian sana-sini dengan menggunakan pesawat, mobil travel, Commuterline, Transjakarta, Shuttlebus, Angkot, Taksi, dan bus umum nomor 157 dan 62. Walaupun sering berfikiran negatif dan insecure gara-gara beberapa kali menjadi incaran copet, mau tak mau saya harus make a good relationship with those all kinds of public transportation. "Mama dulu waktu hamil tua-nya kamu, masih bisa keliling Jakarta naik bajaj, masih bisa naik bus umum ke luar kota sendirian sambil jadi sales obat, naik turun angkot, blablabla". Well wajarlah kalau anaknya ini gedenya harus dituntut mandiri ke sana-sini sendiri walau nggak tau jalan, lhawong sebelum lahir ke dunia aja udah diajakin jalan-jalan dan berdamai dengan kendaraan umum sama mama, hehe :D

Beberapa teman menyayangkan saya untuk mengikuti seleksi pegawai negeri itu, dan beberapa, meremehkan. Padahal untuk berhasil lolos menjadi pegawai negeri juga nggak kalah susah dengan perjuangan menjadi pegawai swasta kok. Bagaimana tidak? Ada lebih dari 16.000 orang yang menjadi pesaing saya untuk merebut posisi idaman. Hal itulah yang membuat saya terus berjuang mengarungi teriknya ibukota, sampai pesaing-pesaing itu gugur satu demi satu.

Tujuan utama saya : Diterima kerja di instansi tersebut, pertinggi skor IELTS/TOEFL, dan kuliah di luar negeri dibiayai oleh kantor. So, i can  get both of them. Kerja, dan kuliah S2. Hehe. Aamiin.

Satu banding lima. Tentu saja saya berharap menjadi yang satu-satunya. Minggu depan saya hanya tinggal bersaing dengan kurang lebih empat orang saja. Merasa aman? Tidak! Justru itu adalah struggle yang sesungguhnya. Hari-hari terakhir ini, saya mulai membayangkan tiga orang pewawancara berada di hadapan saya dengan setumpuk kertas pertanyaan. "Hati-hati kalau wawancara kerja di instansi pemerintahan. Bakal dibabat habis-habisan pokoknya. Bersiap mulai dari sekarang ya", pesan teacher saya di kelas Job Interview beberapa waktu yang lalu. 

Bagaimanapun juga, usaha yang keras harus punya penyeimbang agar tak terlalu tumbang. Legawa mungkin adalah salah satu pilihan terbaik.  Satu bulan perjuangan kemarin mengajarkan saya banyak hal, selain menambah percaya diri dan keberanian tentunya.

Terkadang hidup tak hanya masalah plan and schedule. Kita juga harus bisa menjadi pribadi yang fleksibel dan open-minded. Beberapa kali mengubah jadwal keberangkatan pada bulan ini, tiket pesawat dan tiket travel yang sudah terlanjur dipesan terpaksa dibatalkan. Jadwal les dan ujian TOEFL pun tak berjalan sesuai dengan rencana. Akan tetapi, saya percaya bahwa schedule yang sudah dipersiapkan oleh-Nya di sana adalah jadwal sistematis terbaik yang semesta punya :)

You Might Also Like

2 komentar: