Jutaan Debu, Milyaran Kenangan (#Day1 #CeritaDariKamar)

19.56 Dea Maesita 6 Comments

Hola! Welcome home August! 
Setelah beberapa bulan tak mengecup mesra tuts-tuts keyboard dan membiarkan blog ini penuh dengan butiran debu #tsaaaah, pada bulan ini saya akan mengubah blog ini menjadi....Jaeger! *ups*, menjadi rame postingan maksudnya!

Pernah pacaran dengan selebtwit (ya meskipun selebtwit lokal sih), yang juga ketua komunitas blogger, tak membuat saya merubah sikap. Blog saya tetep nggak keurus, meskipun dia lebih sering mengingatkan saya untuk "Jangan lupa nulis ya, Sayang. Blognya tuh diurusin", daripada ngingetin "Bobonya jangan malem-malem ya, Sayang. Jangan lupa makan, terus minum obat", pada waktu itu. Dan setelah tak bersama dia lagi, saya akan membuktikan bahwa saya... cantik! *ups*, bahwa saya jago nulis maksudnya!

Well, setelah di bulan Januari 2013 kemarin saya memeriahkan blog ini dengan ikutan project #30haribercerita, di Bulan Agustus ini saya akan memporak-porandakan dan mem-babi-buta-kan blog ini dengan ikutan project menulisnya Kakak selebtwit @benzbara_, yang bernama #CeritaDariKamar. Walaupun project kecil-kecilan (katanya), tapi saya punya keinginan besar dari project ini. Ya siapa tahu Abang kece  itu mampir memberi beberapa patah kata, ke blog saya yang sedang tumbuh menjadi remaja dewasa ini #halah (What? Remaja dewasa? Oke ini ambigu). Dan semoga, beberapa cerita saya selama 31 hari ke depan ini, menjadi cerita yang dipilih Abang Bara, untuk dibacakan di Prambors Radio Jogja, di bulan September nanti. Who know? :")

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

#DAY1 (NINT*NDO)

"123, maju! Tendang! Menghindar! Lompat! Naik ke atap! Awas selokan! Mundur! Ih, itu musuhnya tambah banyak! Agak cepet dong larinya! Nyawanya tinggal satu tuh! Maju terus pantang mundur! Yah, mati kan!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan Sang Papa saat bermain game Counter Strike

"Yak mulai! Ayo maju dek! Itu disundul batu bata-nya, nanti ada apelnya! Buruan itu apelnya dimakan, nanti hilang! Awas yang jamur itu musuhnya lho, nanti mati! Lompat, ada sungai! Habis ini masuk ke pipa! Jangan cepet-cepet larinya!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan adik saya yang masih berumur empat tahun, ketika bermain game Mario Bros

"Ayo tembak bebeknya! Yah, lepas kan? Itu dari sebelah kiri! Kanan, kanan, kanan! Yah dapet dikit doang, kan lumayan bebeknya bisa mama masak, hehe", adalah dialog dengan Sang Mama yang menyemangati kami bermain Duck Hunt, sambil sibuk mencuci piring di dapur.

Ada yang pernah mengalami masa-masa seperti ini?
Ya, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, adalah masa ketika anak SD dan SMP mulai sibuk bermain Nintendo di rumah, daripada bermain lompat tali di kebon sebelah. 
Masa-masa itu adalah salah satu momen yang indah bagi saya, karena dengan adanya Nintendo, keluarga kami jadi lebih akrab. Saya, Papa, dan Adik, jadi lebih sering berkumpul bersama untuk sekedar mengadu kejantanan (Ya meskipun saya perempuan), dengan bermain game Counter Strike, Billiard, ataupun Pinball (abaikan yang terakhir karena nggak jantan-jantan banget).

Pada waktu itu hampir tiap bulan Mama dan Adik jadi sering pergi ke mall. Ya buat apalagi kalau bukan untuk membeli piranti-piranti per-nintendo-an. Tangan-tangan ganas kami bertiga, membuat stik-stik nintendo menjadi tak berdaya. Maka dari itu, hampir tiap bulan, Mama jadi sering ngedumel gara-gara uang gajinya kepotong buat beli stik nintendo yang baru. Selain itu, efek dari keseringan main nintendo ini, televisi kami menjadi sering error. Walhasil, Mama memutuskan untuk membeli satu lagi televisi kecil berukuran 14 inch, khusus untuk bermain nintendo, bukan untuk yang lain. Yayy! Dan kami-pun jadi lebih sering membelai stik-stik nintendo dengan adanya televisi baru tersebut. 

Eits, itu baru efek buruknya. Efek positifnya juga ada dong! 
Entah kenapa setelah bermain nintendo, saya jadi lebih ambisius untuk berkompetisi, termasuk di dalam hal akademik. Dan untuk pertama kalinya (dan terakhir kalinya) saya mendapatkan ranking pertama di kelas pada semester pertama, ketika SMP dulu. Semua itu berkat nintendo :")

Sampai sekarang, alhamdulillah nintendo kami masih berfungsi dengan baik. Walaupun nggak pernah dibersihin dan teronggok begitu saja di kamar. Dan dengan jutaan debu yang menempel, serta sarang laba-laba yang menyelimutinya, namun kotak ajaib itu telah berhasil memberikan milyaran kenangan. 

Ketika sedang malas bermain game online yang ada di internet, saya (yang kini sudah lulus kuliah), dan adik saya (yang kini duduk di kelas  3 SMP), dengan serta merta akan meniup-niup debu yang menempel di nintendo ini, menancapkan kasetnya, dan mencolokkan kabelnya! Dan kami-pun siap bernostalgia :")




You Might Also Like

6 komentar:

  1. susunan katanya sederhana dan enak dibaca de...
    terus berkarya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe that's my style. Thankyou Dita
      Keep writing!

      Hapus
  2. waktu aku umur sebelas tahun ngapain ya? *tuink tuink*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main masak-masakan, atau main boneka kertas yg bajunya bisa diganti-ganti, atau main lompat tali.
      Aku mengalami dua-duanya sih.
      Tradisional iya, modern juga iya :D

      Hapus
  3. ada PS gak de? maen CTR yuuuuk :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu lengkap, ada PS1 sama PS2.
      Tapi sekarang tinggal PS1 doang. Hahaha CTR salah satu mainan favoritku tuh. Kamu masih punya?

      Hapus