Darimu dan Untukmu

19.47 Dea Maesita 0 Comments

#DAY5 ~ ALQURAN

Selamat malam! :)
Pikiran dan hati saya agak kacau ketika akan menulis postingan ini. Sebuah lagu kenangan, dan mimpi buruk tentang seseorang di sore tadi, masih berpengaruh di otak saya. Sempat berpikiran untuk bolos menulis postingan hari ini, namun rasanya sayang. Dimana komitmenmu gadis Leo? Dan saya pun mulai mengetik kalimat-kalimat ini.

***

Lagi-lagi di postingan kali ini, saya akan bercerita tentang benda yang saya punya sejak masa kecil saya, yang masih tersimpan sampai sekarang. 

Setelah sempat lahir dan mencicipi masa kecil di Semarang, dengan rumah sewaan dan pemukiman kota yang padat, akhirnya keluarga saya pindah ke rumah kakek dan nenek yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Saya sendiri tak ingat pada umur berapa saya mulai tinggal disitu. Mungkin sekitar umur 3,5 sampai 4 tahun. 

Seperti julukannya, Kudus adalah kabupaten yang masyarakatnya sangat menjunjung norma-norma religi. Tak ayal memang, karena dua dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa, tinggal di Kudus. Yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Rumah Kakek terletak di sebuah pedesaan. Sekitar dua puluh menit dari pusat kota jika menggunakan kendaraan bermotor. Halamannya sangat luas. Ada tiga buah kolam ikan yang besar-besar, satu buah lapangan bulutangkis, dan berjenis-jenis pohon buah-buahan tumbuh disana. Di seberang pagar, ada masjid sederhana ber-cat warna  putih yang ramai dengan anak-anak di setiap siang dan sore hari.

Saya ingat, pada umur-umur itu (Antara 3,5-4 tahun), saya mulai belajar mengaji. Orang yang pertama kali mengajarkan saya mengaji adalah kakek saya. Kebetulan, beliau adalah mantan guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Selain itu, mama sibuk bekerja sedari pagi sampai sore hari. Sedangkan papa saya tidak bisa mengaji. Walhasil, saya rutin belajar mengaji dengan kakek saya, setiap selesai shalat maghrib. 

Alquran ini adalah saksi mata kenangan saya sewaktu belajar mengaji dengan beliau. Berawal dari huruf hijaiyah (Alif, ba, ta, tsa, dst ...), beliau dengan umurnya yang sudah tak muda lagi, mengajari saya dengan sangat sabar. 

Dulu, Alquran ini bentuknya masih bagus, tidak seperti ini (tentunya). Cover bukunya yang kokoh, kini telah mulai robek disana-sini karena saya bawa kemanapun saya pindah rumah/pindah kost. Covernya yang berkilau karena dilapisi dengan tinta-tinta emas, kini telah memudar, meskipun masih berbekas sedikit-sedikit pada beberapa bagiannya. 




Oya, saya lupa bercerita bahwa kakek saya ini sudah mempunyai titel "almarhum" di belakang namanya. Kakek telah berpulang pada tanggal 1 Februari, 2 tahun yang lalu. 

Beliau telah mengajarkan saya membaca ayat-ayat suci yang diturunkan oleh Allah. Dan sekarang giliran saya untuk membalas budi beliau dengan rajin mengirimkan ayat-ayat suci ini, untuk ketenteraman hidup beliau di alam kubur. Mungkin bukan hanya untuk beliau, tapi juga untuk almarhum/almarhumah keluarga saya yang lain. Subhanallah, ini adalah contoh, betapa bermanfaatnya berbagi ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. 

Darimu, dan untukmu, Kakek. Ayat-ayat suci ini kupelajari.
Dari-Mu, dan untuk-Mu, Tuhan. Kitab suci-Mu inilah, arah hidup saya berpedoman.


You Might Also Like

0 comments: