Mixtape dan Kisah Manisnya

19.58 Dea Maesita 4 Comments

#DAY2 - TAPE RECORDER


Sometimes, kegalauan bisa berasal dari hal yang sederhana, termasuk ketika saya tidak bisa mengingat, benda yang akan saya tulis ini namanya apa. Saya berpikir beberapa menit sebelum menulis tulisan ini. "Eh, namanya apa ya? Tape recorder bukan sih? Ah, iyain aja deh daripada kelamaan". Dan dialog random antar beberapa sel memori di otak ini akhirnya berdamai. Saya pun melanjutkan menulis.

Benda hitam mungil dan usang ini sebenarnya bukan milik saya. Tape recorder ini adalah milik kakak sepupu saya (almarhumah) yang meninggal pada tahun 2004. Dia, meninggal muda pada usianya yang menginjak 30 tahun. Saya bisa menyebutnya muda karena dia belum menikah sampai ajal menghentikan nafasnya. Sebuah penyakit langka bernama Lupus, secara tiba-tiba menyerangnya. Dia meninggal beberapa bulan setelah pertama kali didiagnosis menderita penyakit itu oleh sang dokter.

Oya, tape recorder itu-pun sebenarnya bukan miliknya. Lalu? Tape recorder itu adalah aset milik sekolah. Saat itu, dia menjabat sebagai kepala sekolah di Taman Pendidikan Al-quran. Karena dia khawatir kalau-kalau tape recorder hilang jika disimpan di sekolah, maka dia menyimpan tape recorder itu di rumah. Sejak kelas lima Sekolah Dasar, saya tidur di kamarnya. Sampai pada akhirnya dia jatuh sakit, ketika saya duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Itu artinya, saya sudah tidur satu kamar dengannya selama tiga tahun, meskipun kami bukanlah saudara kandung, melainkan hanya sepupu.

Tape recorder itu disimpan rapi olehnya di laci lemari, sampai akhirnya saya menemukannya. Maklum, pada waktu itu saya masih berumur sepuluh tahun, masih iseng dan jahil-jahilnya. Ketika masih bersama dia, saya jarang menggunakannya. Paling-paling hanya untuk mendengarkan kaset lagu-lagu islami milik Hadad Alwi featuring Sulis, yang memang sangat populer ketika waktu itu. Barulah ketika dia meninggal, setiap hari saya menggunakan tape recorder itu. Pagi, siang, sore, maupun malam.

Beberapa saat setelah dia meninggal, saya memutuskan untuk pindah kamar dan juga pindah rumah. Setelah selama tiga tahun saya menginap di rumahnya, saya pindah ke rumah saya sendiri (rumah orangtua saya maksudnya). Dan salah satu barang yang saya bawa ketika saya pindah krumah adalah tape recorder itu. Sebenarnya agak nggak enak hati sih, karena tape recorder itu bukanlah milik saya. Tapi, lhawong namanya anak-anak, dengan cuek saja saya membawanya pergi, hehe.

Jauh sebelum mixtape online seperti di website www.8tracks.com ataupun www.everyonesmixtape.com, saya pernah mengalami masa-masa merekam mixtape manual dengan menggunakan tape recorder itu. Ya, tape recorder dengan merk dan tipe itu memang biasanya dipakai oleh wartawan-wartawan media massa untuk merekam liputan berita. Berbeda dengan saya. Saya menggunakannya untuk membuat mixtape!

Kalau selai adalah jodohnya roti, dan semir sepatu adalah jodohnya sepatu, maka jodoh dari tape recorder ini adalah "Kaset Kosong". Dulu saya sering membeli kaset kosong di toko kaset yang letaknya di dalam pasar tradisional. Saya lupa harganya berapa. Sepertinya sih antara Rp. 4.000,00 sampai5.000,00, tergantung merk-nya.

Koleksi mixtape saya, yang dulunya ada sekitar tiga kaset, hilang entah kemana dan hanya menyisakan satu kaset. Itupun sudah tidak bisa bersuara lagi ketika dimainkan. Mungkin karena dulu saya terlalu sering memutarnya, sehingga pita-pitanya aus. 

Saya merekam lagu yang saya suka dari radio. Menunggu sampai penyiar radionya selesai bersuara, dan dengan sigap saya memencet tombol "rec" (red: record), yang berwarna merah. Dan ketika lagunya sudah akan selesai, dengan sigap pula saya akan memencet tombol "stop". Terkadang saya kebablasan, sehingga ada beberapa mixtape yang akhirnya tercampur dengan suara penyiar radionya hehe. 

Setelah kapasitas kaset habis, saya akan menulis list lagu yang saya rekam di kaset itu. Satu kaset kira-kira bisa menyimpan tujuh sampai sepuluh lagu. Saya menulis judul lagu serta nama penyanyinya, di kertas dan label yang tersedia di blank casette. Voila! Mixtape-pun siap untuk dinikmati!

Dengan berbekal headset bawaan dari tape recorder itu, berulang-ulang saya memutar mixtape itu dengan sangat puas. Terkadang saya mendengarkan sambil mengerjakan PR, membaca majalah, maupun menulis diary. Oya, saya sendiri tidak begitu ingat lagu apa saja yang sudah saya rekam di mixtape-mixtape itu. Saya hanya mengingat satu lagu, yakni lagunya "Ratu" yang berjudul "Dear Diary". Saya masih mengingatnya karena saya sering menulis diary dengan mendengarkan mixtape itu. 

Sayangnya mixtape-mixtape buatan manual saya itu sudah tak bersuara. Mungkin pilihan untuk membuat mixtape online, dengan menggunakan website-website yang sudah saya sebutkan di atas tadi, bisa membuat mixtape yang lebih awet dan tahan lama. Ya, asalkan website-nya nggak tutup akun sih, hehe. Selamat bernostalgia!



You Might Also Like

4 komentar:

  1. Orang dulu bilangnya walkman :)

    *orangdulu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya yah. Walkman juga bisa..
      Entahlah aku juga orangdulu, tapi lupa istilahnya apa saking lamanya :D

      Hapus
  2. iya, aku juga punya. lengkap dengan kaset2nya.
    kaset ? hahaha
    biasanya ngehabisin duit bulanan buat beli kaset N'SYNC sama britney spears, atau westlife.
    maklum...dulu belum kenal 4shared.hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha punya juga ternyata.
      Anak gaul jaman dulu kayak gitu ya.
      Anak gaul jaman sekarang sih kalau kemana-mana nentengnya ipad atau macbook pfft

      Hapus