Bantal Ini untuk Mama?

21.05 Dea Maesita 4 Comments

#DAY6 ~ BANTAL LEHER




“Mother have you seen your laughter
fall into the arms of angels
Mother if you see me, I’m allright”


Berkali-kali saya memutar lagu "Mother" milik Adhitia Sofyan ini di laman soundcloud (http://soundcloud.com/adhitiasofyan/sets/how-to-stop-time-bedroom), sebelum saya memutuskan untuk menulis postingan ini. Menangis? Tidak. Hanya berkaca-kaca.

***

Mama, Ibu, Ummi, Emak, dst.. Apapun julukannya, saya yakin, beliau adalah salah satu orang terpenting di hidup anda.

Saya masih ingat ketika duduk di bangku SMP. Seorang guru bertanya di kelas kami, "Siapa orang yang paling anda cintai di dalam  hidup kalian? Dan mengapa?". Hampir siswa seisi kelas, menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu Mama.

Teman-teman saya selalu membangga-banggakan mama mereka di setiap cerita-ceritanya. Mamaku hebat, blablablabla. Meskipun demikian, tak jarang juga diantara mereka yang saling memuji mama milik teman yang lain, termasuk mama saya.

***

Semarang-Kediri. Kereta Matarmaja tengah malam. 
Saya dan mama berpamitan dengan papa yang ketika itu mengantar kami sampai di stasiun. Ya, kami berdua akan berangkat menuju Kediri dengan menggunakan kereta ekonomi. Pada saat itu mama sedang tak enak badan. Mukanya pucat, sering mual, dan tak ceria seperti biasanya. Namun apa daya, tiket kereta pulang-pergi sudah terlanjur dipesan. Kalau gagal, uang setengah juta bisa melayang.

"Wah?", mama terkejut ketika masuk ke dalam kereta. Ternyata kondisinya tak sebaik yang kami bayangkan. Satu bangku diduduki untuk tiga penumpang, berhadap-hadapan, lutut bertemu lutut, sungguh mengenaskan. "Maaf, Ma. Di bayanganku kondisinya nggak seperti ini", sesal saya kepada mama. "Ya nggak apa-apa. Kereta ekonomi aja sudah mahal kok. Dinikmati saja.", kata mama sambil tersenyum.

Beruntungnya di sepanjang malam, Mama bisa tidur dengan nyenyak. Sedangkan saya, tak bisa tidur. Saya baru tidur ketika kereta sudah hampir tiba di Stasiun Kediri. Pada waktu itu penumpang sudah mulai turun. Bangku-bangku sudah mulai kosong. Mama mencarikan saya bangku yang kosong, agar saya bisa tidur. Walhasil, bangku yang tadinya diduduki untuk tiga orang, kini saya pergunakan untuk tidur sambil selonjoran.

Enam jam kami menghabiskan perjalanan dengan kereta. Tempat yang akan saya tuju masih berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Kami harus menggunakan becak, angkot, dan berjalan kaki untuk mencapai lokasi tersebut. Saya agak mengkhawatirkan kesehatan mama. Sebenarnya tujuan kami ke Kediri adalah untuk melakukan survei ke Kampung Inggris. Sebuah kampung di daerah Pare, Jawa Timur, yang diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin belajar bahasa asing, terutama bahasa inggris. 

Setelah lulus dari bangku kuliah, saya berencana untuk tinggal beberapa bulan disana. Tentu saja untuk belajar bahasa inggris. Untuk itu, saya perlu melakukan survei dimana tempat les yang bagus, beserta tempat untuk tinggal. Mama tidak mengijinkan saya untuk berangkat sendirian. Maklum, anak perempuan satu-satunya. Walaupun dalam hati, saya ingin berkata : "Mother if you see me, I’m allright".

Setelah sembilan jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Kampung Inggris. 
Karena lelah berjalan, kami menyewa sepeda motor untuk berkeliling. 
Tak lama, hanya sekitar 1,5 jam kami berkeliling, mama mengeluh kelelahan. Wajah beliau pucat. Kami mencari masjid untuk shalat dan beristirahat. Mama sempat tertidur beberapa menit, kemudian wajah beliau tampak lebih sehat. Kami memutuskan untuk pulang saja, daripada beliau kenapa-kenapa.

Urusan kami sudah beres pukul 12.00 WIB. Namun, jadwal tiket untuk pulang ke Semarang masih pukul 20.00 WIB. Itu artinya, waktu kami tersisa masih delapan jam lagi! Mau dipakai untuk apa? 

In the end,  kami memutuskan untuk NGE-MALL saudara-saudara! 
Ya, maklumlah, wanita.

"Jauh-jauh ke Kediri cuma buat nge-Mall? Hello?", kata salah seorang teman saya di tab mention. Waktu itu saya masih sempat check-in di foursquare, dan meng-update status di twitter. Maklum, anak sosmed sejati #halah.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan mall di pusat kota. Yang ternyata, letaknya tak jauh dari Stasiun Kediri. Sesampainya di mall, mama berubah jadi sehat! OMG, emak-emak dimana-mana sama aja. 

"Eh, Mbak. Itu ada bantal leher yang kayak dipakai  artis-artis  gitu di TV. Mereka biasanya pake itu di mobil, kalau capek selesai syuting", kata mama sambil berbinar-binar.

"Eh iya ya, Ma? Banyak banget pula itu modelnya. Lucu-lucu", jawab saya dengan bersemangat pula.

Selesai muter sana-sini, akhirnya mama memilih bantal leher berbentuk doraemon. Alasannya, ya karena mama tahu kalau saya suka doraemon. Dengan jumawa, saya membawa bantal doraemon itu ke kasir.  Sampai akhirnya saya melihat bantal lain, dengan  motif animal print berwarna-warni.

Akhirnya mama pun setuju. Kami mengganti bantal leher doraemon, dengan bantal leher bermotif animal print di meja kasir. Saya tahu mama hobi mengoleksi benda bermotif animal print, dan saya  pikir, mama yang lebih membutuhkan bantal itu untuk tidur di kereta nanti malam.

Senja-pun tiba. Masih dua jam lagi sampai kereta Brantas yang akan membawa kami pulang ke Semarang, tiba. Kami pergi ke stasiun menggunakan becak. Saya dan mama duduk di bangku pojok stasiun. Menikmati nasi ayam Mc'Donalds yang kami bungkus di Mall tadi. 

Waktu menunjukkan pukul delapan. Brantas dan Matarmaja ternyata sama saja. Ya maklum, sama-sama kereta ekonomi AC. Sama-sama sebangku untuk bertiga, sama-sama lutut bertemu lutut. "Ya, dinikmati saja", saya masih teringat kata-kata mama. 

Sesampainya di tempat duduk, buru-buru saya mengeluarkan bantal dari bungkusan plastik. 
"Ini bantalnya Mama", kata saya.
"Udah, mama bisa tidur kok tanpa bantal. Udah itu buat Mbak Dea aja",kata beliau.
"Tapi kan...", kata saya.

Begitulah pengorbanan seorang Mama untuk anaknya. Rela bersakit-sakit, berlelah-lelah, untuk kebahagiaan anak mereka. Sudah siapkah anda, wahai calon ibu/calon ayah untuk berkorban? Ataukah anda masih egois dengan diri anda sendiri? Tak masalah, waktu dan kondisi akan mengubah pola pikir anda, sedikit demi sedikit.



4 comments:

Darimu dan Untukmu

19.47 Dea Maesita 0 Comments

#DAY5 ~ ALQURAN

Selamat malam! :)
Pikiran dan hati saya agak kacau ketika akan menulis postingan ini. Sebuah lagu kenangan, dan mimpi buruk tentang seseorang di sore tadi, masih berpengaruh di otak saya. Sempat berpikiran untuk bolos menulis postingan hari ini, namun rasanya sayang. Dimana komitmenmu gadis Leo? Dan saya pun mulai mengetik kalimat-kalimat ini.

***

Lagi-lagi di postingan kali ini, saya akan bercerita tentang benda yang saya punya sejak masa kecil saya, yang masih tersimpan sampai sekarang. 

Setelah sempat lahir dan mencicipi masa kecil di Semarang, dengan rumah sewaan dan pemukiman kota yang padat, akhirnya keluarga saya pindah ke rumah kakek dan nenek yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Saya sendiri tak ingat pada umur berapa saya mulai tinggal disitu. Mungkin sekitar umur 3,5 sampai 4 tahun. 

Seperti julukannya, Kudus adalah kabupaten yang masyarakatnya sangat menjunjung norma-norma religi. Tak ayal memang, karena dua dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa, tinggal di Kudus. Yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Rumah Kakek terletak di sebuah pedesaan. Sekitar dua puluh menit dari pusat kota jika menggunakan kendaraan bermotor. Halamannya sangat luas. Ada tiga buah kolam ikan yang besar-besar, satu buah lapangan bulutangkis, dan berjenis-jenis pohon buah-buahan tumbuh disana. Di seberang pagar, ada masjid sederhana ber-cat warna  putih yang ramai dengan anak-anak di setiap siang dan sore hari.

Saya ingat, pada umur-umur itu (Antara 3,5-4 tahun), saya mulai belajar mengaji. Orang yang pertama kali mengajarkan saya mengaji adalah kakek saya. Kebetulan, beliau adalah mantan guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Selain itu, mama sibuk bekerja sedari pagi sampai sore hari. Sedangkan papa saya tidak bisa mengaji. Walhasil, saya rutin belajar mengaji dengan kakek saya, setiap selesai shalat maghrib. 

Alquran ini adalah saksi mata kenangan saya sewaktu belajar mengaji dengan beliau. Berawal dari huruf hijaiyah (Alif, ba, ta, tsa, dst ...), beliau dengan umurnya yang sudah tak muda lagi, mengajari saya dengan sangat sabar. 

Dulu, Alquran ini bentuknya masih bagus, tidak seperti ini (tentunya). Cover bukunya yang kokoh, kini telah mulai robek disana-sini karena saya bawa kemanapun saya pindah rumah/pindah kost. Covernya yang berkilau karena dilapisi dengan tinta-tinta emas, kini telah memudar, meskipun masih berbekas sedikit-sedikit pada beberapa bagiannya. 




Oya, saya lupa bercerita bahwa kakek saya ini sudah mempunyai titel "almarhum" di belakang namanya. Kakek telah berpulang pada tanggal 1 Februari, 2 tahun yang lalu. 

Beliau telah mengajarkan saya membaca ayat-ayat suci yang diturunkan oleh Allah. Dan sekarang giliran saya untuk membalas budi beliau dengan rajin mengirimkan ayat-ayat suci ini, untuk ketenteraman hidup beliau di alam kubur. Mungkin bukan hanya untuk beliau, tapi juga untuk almarhum/almarhumah keluarga saya yang lain. Subhanallah, ini adalah contoh, betapa bermanfaatnya berbagi ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. 

Darimu, dan untukmu, Kakek. Ayat-ayat suci ini kupelajari.
Dari-Mu, dan untuk-Mu, Tuhan. Kitab suci-Mu inilah, arah hidup saya berpedoman.


0 comments:

Si Pipi Tembam

21.21 Dea Maesita 0 Comments

#DAY4 ~ CHIBI!



Chibi?
What's in your mind when you hear/see that word?

Kalau kamu termasuk anak jaman sekarang, kalau denger kata "chibi" pasti yang kebayang adalah girlband Cherybelle dengan gaya chibi-chibi nya itu.
Tapi, kalau kamu termasuk generasi 90-an, tiap denger kata "chibi", keingetnya pasti sama gadis mungil nan riang ini, ya kan, ya dong? :D

Topi kuningnya
Tas selempang merahnya
Sepatu balet merahnya
Setelan seragam merah-putihnya
Emmm.. masih ingat?

Kartun berdurasi 30 menit per-episode nya itu pernah menghiasi masa kanak-kanak saya di setiap Minggu pagi. Nggak tanggung-tanggung, jam tayangnya itu loh, pagi-pagi sekali, seinget saya sih pukul 06.30 WIB. 
Ceritanya yang mengisahkan tentang kehidupan anak-anak sekolah dasar, dengan kepolosan  dan tingkah laku yang bikin gemes itu masih membekas di ingatan saya sampai sekarang.

Diadaptasi dari komik yang dikarang oleh Momoko Sakura (Sumber: wikipedia), episode demi episode kartun Chibi Maruko Chan itu selalu menghadirkan cerita yang sederhana, namun konyol, dan terkadang mengharukan. Setelah sukses dengan ber-episode-episode film kartunnya, beberapa tahun yang lalu, muncullah versi human-life-movienya yang nggak kalah menggemaskan.

Entahlah, saya  selalu suka kartun Jepang dengan cerita yang sederhana  seperti ini. Cerita yang menggambarkan keseharian dunia anak-anak di sekolah, lingkungan bermain, dan di dalam keluarga, selalu menarik untuk disimak, seperti Kobo-Chan, Crayon Shin-Chan, dan Atashinchi. 
Do you agree? 

Dari situ kita dapat belajar bahwa kita hidup bersama teman-teman, tetangga, dan anggota keluarga yang berbeda-beda karakter. Mama yang bawel, Ayah yang penyayang tapi sok cuek, Kakek yang perhatian,  Nenek  yang tukang kuatir, Tamae yang pintar dan sabar menghadapi tingkah sahabatnya yang nakal, Hanawa yang kaya namun rendah hati, serta Maruo dengan jiwa pemimpinnya. 

Setidaknya kartun seperti ini lebih baik karena mengisahkan cerita nyata, ketimbang cerita yang penuh dengan imajinasi seperti Barbie, SAO, etc. Lagi-lagi ini tentang selera :)

Eh btw kok jadi cerita tentang isi filmnya ya?
Well benda ini adalah salah satu benda yang mejeng di meja belajar saya. Kalau kalian mengira bahwa ini adalah mainan, kamu salah! Sewaktu saya beli, ini adalah gantungan kunci yang berharga Rp. 5.000,00. Gantungan kunci Maruko ini saya beli di toko suvenir, ketika saya sedang mencari kado untuk adik saya yang berulangtahun. Selain itu, saya juga membeli gantungan kunci doraemon. "Ah cuma lima ribu!", pikir saya waktu itu. 

Gantungan kunci ini sempat menggantung setia dengan kunci pintu kos dan kunci kamar saya. Mungkin dia lelah, telah menggantung selama bertahun-tahun dengan kunci-kunci saya. Akhirnya dia meloloskan diri dari gantungan alumunium yang mengekangnya. Beruntungnya, dia meloloskan dirinya ketika di kamar, bukan di jalan raya. Kalau di jalan raya, mungkin saya  tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Akhirnya saya menggantinya dengan gantungan kunci yang lain dan membiarkannya beristirahat di meja belajar sampai sekarang. 

0 comments:

Mixtape dan Kisah Manisnya

19.58 Dea Maesita 4 Comments

#DAY2 - TAPE RECORDER


Sometimes, kegalauan bisa berasal dari hal yang sederhana, termasuk ketika saya tidak bisa mengingat, benda yang akan saya tulis ini namanya apa. Saya berpikir beberapa menit sebelum menulis tulisan ini. "Eh, namanya apa ya? Tape recorder bukan sih? Ah, iyain aja deh daripada kelamaan". Dan dialog random antar beberapa sel memori di otak ini akhirnya berdamai. Saya pun melanjutkan menulis.

Benda hitam mungil dan usang ini sebenarnya bukan milik saya. Tape recorder ini adalah milik kakak sepupu saya (almarhumah) yang meninggal pada tahun 2004. Dia, meninggal muda pada usianya yang menginjak 30 tahun. Saya bisa menyebutnya muda karena dia belum menikah sampai ajal menghentikan nafasnya. Sebuah penyakit langka bernama Lupus, secara tiba-tiba menyerangnya. Dia meninggal beberapa bulan setelah pertama kali didiagnosis menderita penyakit itu oleh sang dokter.

Oya, tape recorder itu-pun sebenarnya bukan miliknya. Lalu? Tape recorder itu adalah aset milik sekolah. Saat itu, dia menjabat sebagai kepala sekolah di Taman Pendidikan Al-quran. Karena dia khawatir kalau-kalau tape recorder hilang jika disimpan di sekolah, maka dia menyimpan tape recorder itu di rumah. Sejak kelas lima Sekolah Dasar, saya tidur di kamarnya. Sampai pada akhirnya dia jatuh sakit, ketika saya duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Itu artinya, saya sudah tidur satu kamar dengannya selama tiga tahun, meskipun kami bukanlah saudara kandung, melainkan hanya sepupu.

Tape recorder itu disimpan rapi olehnya di laci lemari, sampai akhirnya saya menemukannya. Maklum, pada waktu itu saya masih berumur sepuluh tahun, masih iseng dan jahil-jahilnya. Ketika masih bersama dia, saya jarang menggunakannya. Paling-paling hanya untuk mendengarkan kaset lagu-lagu islami milik Hadad Alwi featuring Sulis, yang memang sangat populer ketika waktu itu. Barulah ketika dia meninggal, setiap hari saya menggunakan tape recorder itu. Pagi, siang, sore, maupun malam.

Beberapa saat setelah dia meninggal, saya memutuskan untuk pindah kamar dan juga pindah rumah. Setelah selama tiga tahun saya menginap di rumahnya, saya pindah ke rumah saya sendiri (rumah orangtua saya maksudnya). Dan salah satu barang yang saya bawa ketika saya pindah krumah adalah tape recorder itu. Sebenarnya agak nggak enak hati sih, karena tape recorder itu bukanlah milik saya. Tapi, lhawong namanya anak-anak, dengan cuek saja saya membawanya pergi, hehe.

Jauh sebelum mixtape online seperti di website www.8tracks.com ataupun www.everyonesmixtape.com, saya pernah mengalami masa-masa merekam mixtape manual dengan menggunakan tape recorder itu. Ya, tape recorder dengan merk dan tipe itu memang biasanya dipakai oleh wartawan-wartawan media massa untuk merekam liputan berita. Berbeda dengan saya. Saya menggunakannya untuk membuat mixtape!

Kalau selai adalah jodohnya roti, dan semir sepatu adalah jodohnya sepatu, maka jodoh dari tape recorder ini adalah "Kaset Kosong". Dulu saya sering membeli kaset kosong di toko kaset yang letaknya di dalam pasar tradisional. Saya lupa harganya berapa. Sepertinya sih antara Rp. 4.000,00 sampai5.000,00, tergantung merk-nya.

Koleksi mixtape saya, yang dulunya ada sekitar tiga kaset, hilang entah kemana dan hanya menyisakan satu kaset. Itupun sudah tidak bisa bersuara lagi ketika dimainkan. Mungkin karena dulu saya terlalu sering memutarnya, sehingga pita-pitanya aus. 

Saya merekam lagu yang saya suka dari radio. Menunggu sampai penyiar radionya selesai bersuara, dan dengan sigap saya memencet tombol "rec" (red: record), yang berwarna merah. Dan ketika lagunya sudah akan selesai, dengan sigap pula saya akan memencet tombol "stop". Terkadang saya kebablasan, sehingga ada beberapa mixtape yang akhirnya tercampur dengan suara penyiar radionya hehe. 

Setelah kapasitas kaset habis, saya akan menulis list lagu yang saya rekam di kaset itu. Satu kaset kira-kira bisa menyimpan tujuh sampai sepuluh lagu. Saya menulis judul lagu serta nama penyanyinya, di kertas dan label yang tersedia di blank casette. Voila! Mixtape-pun siap untuk dinikmati!

Dengan berbekal headset bawaan dari tape recorder itu, berulang-ulang saya memutar mixtape itu dengan sangat puas. Terkadang saya mendengarkan sambil mengerjakan PR, membaca majalah, maupun menulis diary. Oya, saya sendiri tidak begitu ingat lagu apa saja yang sudah saya rekam di mixtape-mixtape itu. Saya hanya mengingat satu lagu, yakni lagunya "Ratu" yang berjudul "Dear Diary". Saya masih mengingatnya karena saya sering menulis diary dengan mendengarkan mixtape itu. 

Sayangnya mixtape-mixtape buatan manual saya itu sudah tak bersuara. Mungkin pilihan untuk membuat mixtape online, dengan menggunakan website-website yang sudah saya sebutkan di atas tadi, bisa membuat mixtape yang lebih awet dan tahan lama. Ya, asalkan website-nya nggak tutup akun sih, hehe. Selamat bernostalgia!



4 comments:

Jutaan Debu, Milyaran Kenangan (#Day1 #CeritaDariKamar)

19.56 Dea Maesita 6 Comments

Hola! Welcome home August! 
Setelah beberapa bulan tak mengecup mesra tuts-tuts keyboard dan membiarkan blog ini penuh dengan butiran debu #tsaaaah, pada bulan ini saya akan mengubah blog ini menjadi....Jaeger! *ups*, menjadi rame postingan maksudnya!

Pernah pacaran dengan selebtwit (ya meskipun selebtwit lokal sih), yang juga ketua komunitas blogger, tak membuat saya merubah sikap. Blog saya tetep nggak keurus, meskipun dia lebih sering mengingatkan saya untuk "Jangan lupa nulis ya, Sayang. Blognya tuh diurusin", daripada ngingetin "Bobonya jangan malem-malem ya, Sayang. Jangan lupa makan, terus minum obat", pada waktu itu. Dan setelah tak bersama dia lagi, saya akan membuktikan bahwa saya... cantik! *ups*, bahwa saya jago nulis maksudnya!

Well, setelah di bulan Januari 2013 kemarin saya memeriahkan blog ini dengan ikutan project #30haribercerita, di Bulan Agustus ini saya akan memporak-porandakan dan mem-babi-buta-kan blog ini dengan ikutan project menulisnya Kakak selebtwit @benzbara_, yang bernama #CeritaDariKamar. Walaupun project kecil-kecilan (katanya), tapi saya punya keinginan besar dari project ini. Ya siapa tahu Abang kece  itu mampir memberi beberapa patah kata, ke blog saya yang sedang tumbuh menjadi remaja dewasa ini #halah (What? Remaja dewasa? Oke ini ambigu). Dan semoga, beberapa cerita saya selama 31 hari ke depan ini, menjadi cerita yang dipilih Abang Bara, untuk dibacakan di Prambors Radio Jogja, di bulan September nanti. Who know? :")

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

#DAY1 (NINT*NDO)

"123, maju! Tendang! Menghindar! Lompat! Naik ke atap! Awas selokan! Mundur! Ih, itu musuhnya tambah banyak! Agak cepet dong larinya! Nyawanya tinggal satu tuh! Maju terus pantang mundur! Yah, mati kan!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan Sang Papa saat bermain game Counter Strike

"Yak mulai! Ayo maju dek! Itu disundul batu bata-nya, nanti ada apelnya! Buruan itu apelnya dimakan, nanti hilang! Awas yang jamur itu musuhnya lho, nanti mati! Lompat, ada sungai! Habis ini masuk ke pipa! Jangan cepet-cepet larinya!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan adik saya yang masih berumur empat tahun, ketika bermain game Mario Bros

"Ayo tembak bebeknya! Yah, lepas kan? Itu dari sebelah kiri! Kanan, kanan, kanan! Yah dapet dikit doang, kan lumayan bebeknya bisa mama masak, hehe", adalah dialog dengan Sang Mama yang menyemangati kami bermain Duck Hunt, sambil sibuk mencuci piring di dapur.

Ada yang pernah mengalami masa-masa seperti ini?
Ya, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, adalah masa ketika anak SD dan SMP mulai sibuk bermain Nintendo di rumah, daripada bermain lompat tali di kebon sebelah. 
Masa-masa itu adalah salah satu momen yang indah bagi saya, karena dengan adanya Nintendo, keluarga kami jadi lebih akrab. Saya, Papa, dan Adik, jadi lebih sering berkumpul bersama untuk sekedar mengadu kejantanan (Ya meskipun saya perempuan), dengan bermain game Counter Strike, Billiard, ataupun Pinball (abaikan yang terakhir karena nggak jantan-jantan banget).

Pada waktu itu hampir tiap bulan Mama dan Adik jadi sering pergi ke mall. Ya buat apalagi kalau bukan untuk membeli piranti-piranti per-nintendo-an. Tangan-tangan ganas kami bertiga, membuat stik-stik nintendo menjadi tak berdaya. Maka dari itu, hampir tiap bulan, Mama jadi sering ngedumel gara-gara uang gajinya kepotong buat beli stik nintendo yang baru. Selain itu, efek dari keseringan main nintendo ini, televisi kami menjadi sering error. Walhasil, Mama memutuskan untuk membeli satu lagi televisi kecil berukuran 14 inch, khusus untuk bermain nintendo, bukan untuk yang lain. Yayy! Dan kami-pun jadi lebih sering membelai stik-stik nintendo dengan adanya televisi baru tersebut. 

Eits, itu baru efek buruknya. Efek positifnya juga ada dong! 
Entah kenapa setelah bermain nintendo, saya jadi lebih ambisius untuk berkompetisi, termasuk di dalam hal akademik. Dan untuk pertama kalinya (dan terakhir kalinya) saya mendapatkan ranking pertama di kelas pada semester pertama, ketika SMP dulu. Semua itu berkat nintendo :")

Sampai sekarang, alhamdulillah nintendo kami masih berfungsi dengan baik. Walaupun nggak pernah dibersihin dan teronggok begitu saja di kamar. Dan dengan jutaan debu yang menempel, serta sarang laba-laba yang menyelimutinya, namun kotak ajaib itu telah berhasil memberikan milyaran kenangan. 

Ketika sedang malas bermain game online yang ada di internet, saya (yang kini sudah lulus kuliah), dan adik saya (yang kini duduk di kelas  3 SMP), dengan serta merta akan meniup-niup debu yang menempel di nintendo ini, menancapkan kasetnya, dan mencolokkan kabelnya! Dan kami-pun siap bernostalgia :")




6 comments: