Malangnya Malang

22.10 Dea Maesita 6 Comments



Gasp! Pukul dua pagi kubenamkan kedua kakiku ke dalam tas punggung yang tak berisi.
"Malang emang harus selalu dingin kek gini ya?", rutukku sambil menahan kantuk. 
Pagi itu aku bangun lebih pagi dari teman-teman yang lain. Di sebuah rumah kontrakan milik seorang teman, tak jauh dari deretan kompleks universitas di Malang, kami bersepuluh membaringkan badan untuk semalam. Mereka, sembilan orang lainnya, adalah teman  sekelas saya di program speaking pada salah satu lembaga di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur.

Sometimes people travelling isn't because they want to travel. Yet, they need to travel.
Saya bukan tipe yang gampang untuk diajak bepergian, apalagi dengan orang yang belum cukup lama dikenal. Tapi, salah satu alasan itu memutuskan saya untuk berkata, "Aku ikut!". 

Empat tahun yang lalu, beberapa minggu setelah putus dengan sang (mantan) kekasih, saya pergi berlibur ke Malang bersama mama dan adik. Di sepanjang perjalanan, saya bahkan tak bisa tidur. Menangis dan terus menangis. Dan itulah pertama kalinya saya mengalami vertigo. Lebay memang, haha. Maklum, remaja yang baru lulus SMA :D
Dan kini, satu hari setelah putus (dengan orang yang lain, tentunya), lagi-lagi ada yang ngajak liburan ke Malang! Ini pasti konspirasi alien yang turun ke bumi! Bedanya, setelah putus kali ini, nggak ada lagi tangisan alay berhari-hari sampai kena vertigo. Mungkin ini hanya masalah kedewasaan. *calmdown*

Well, the conclusion are.. 
Malang mungkin tempat yang tepat bagi orang yang malang (untuk sementara). Dan bukan menjadikan orang yang malang, menjadi malang lagi, ketika kembali ke kota asalnya. Duh, malangnya Malang kalau hanya dijadikan sebagai tempat untuk melepaskan kemalangan.

Mau nggak mau saya perlu berterimakasih kepada wahana Pendulum 360 derajat di Jatimpark1 yang berhasil membuat saya nangis, setelah hari-hari sebelumnya saya nggak bisa nangis!


Source : jatimpark1.com

6 comments: