Ini Hanya Masalah Tinggi Badan, di Trans Semarang

08.36 Dea Maesita 8 Comments

"Tinggi banget ya, kasihan yang nggak dapet tempat duduk", kata seorang perempuan di  sebuah gerombolan penumpang. Saya menoleh. Saat itu saya sedang naik Bus Trans Semarang Koridor 2 menuju Terminal Terboyo. Segerombolan anak muda yang naik dari shelter Jalan Pemuda itu nampak menonjol dibandingkan dengan penumpang lain yang anteng-anteng saja. Muda-mudi dari Jakarta agaknya, dengan sapaan "Lo-Gue" yang beberapa kali terlontar dari mulut mereka. Gerombolan yang terdiri dari lima orang; perempuan dan laki-laki itu akhirnya turun di shelter Stasiun Tawang. 

"Bagaimana Kak pendapatnya?", tanya Mbak-mbak yang bertugas menarik karcis ketika mereka hendak turun.
"Jauh sih nyamannya. Lebih nyaman ini dari Trans Jakarta".
"Iya, lebih homy, lebih nyaman", timpal yang lain.
"Makasih ya Mbak atas tumpangannya", seru mereka sambil meninggalkan bus yang kami tumpangi.
Saya, yang ketika itu duduk di dekat pintu, masih menyimpan pertanyaan. Apa betul handle (gantungan yang diperuntukkan untuk penumpang yang tidak dapat tempat duduk) ini terlalu tinggi?

Minggu demi minggu, sampai dengan saat ini, sudah terhitung puluhan kali saya naik bus Trans Semarang Koridor 2 ini. Ya, saya memang penikmat alat transportasi publik seminggu sekali, diantara keseharian saya yang menggunakan kendaraan matic ber-roda dua. Masih teringat ketika saya, pada waktu itu pernah menjadi penumpang satu-satunya di bus Trans Semarang ini. Saat itu, bus ini baru saja sekitar tiga bulan diluncurkan.

Mumpung hanya ada pak supir dan mas-mas petugas karcis, akhirnya saya putuskan untuk mengambil beberapa gambar. 

Bagian depan Bus Trans Semarang  (gambar diambil dari Belakang)


Bagian paling belakang Bus yang lebih tinggi.
Tempat duduk favorit saya, karena dapat melihat pemandangan dari jendela.


Pintu darurat, terletak di sisi kanan bus.


Biarpun bepergian, tetap menjaga kebersihan dong! :)

Dan ini dia... handle yang disediakan bagi penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Times change! Semakin kesini, semakin banyak warga Kota Semarang maupun para pendatang yang memilih untuk menggunakan bus ini, dibandingkan menggunakan bus mini yang juga melewati rute yang nyaris sama. Seringkali saya harus berdesak-desakan dengan penumpang lain. Di setiap shelter selalu ada penumpang yang naik, tapi sedikit penumpang yang turun. Shelter Transit-an di Jalan Pemuda, adalah shelter paling tak terduga dan sering memberikan kejutan. Di shelter tersebut, penumpang dapat turun, untuk melakukan transit, dan menaiki bus Trans Semarang koridor 1 jurusan Mangkang-Penggaron. Bus bisa jadi mendadak kosong karena banyak penumpang yang turun di shelter tersebut. Namun, satu menit kemudian... JENG JENG JENG!!! Bus kembali penuh!


Full bus! (taken: 9 April 2013)
Siang kemarin, untuk pertama kalinya saya tidak mendapatkan tempat  duduk, dan mau tidak mau harus berdiri bersama penumpang yang lain. Oke, mari kita buktikan pernyataan segerombolan anak muda Jakarta, bahwa handle di bus ini terlalu tinggi.

Kebetulan saya tidak sendirian, siang itu saya naik bus ini bersama seorang teman saya, Elia. Tinggi badan kami tak jauh beda, nyaris mendekati 165 cm. Tak terlalu pendek untuk ukuran seorang perempuan, menurut saya. Tapi alamak, bus baru berjalan beberapa menit, tangan saya pegal tak karuan. Ketika memegang handle itu untuk mempertahankan diri agar tak jatuh, tangan saya lurus, tak ada tekukan sama sekali, yang menandakan bahwa handle itu cukup tinggi. Belum lagi jalanan kota Semarang yang naik turun dan berkelok-kelok, menuntut keseimbangan badan agar fleksibel bergerak mengikuti kontur jalan. Seringkali saya oleng kanan dan ke kiri, dan cukup mengganggu penumpang yang lain hehehe. Bapak supirnya pun cukup kencang mengendarainya. Beberapa kali saya harus maju dan mundur beberapa langkah, ketika bus tiba-tiba mengerem mendadak.

Entahlah, untuk menyediakan alat transportasi publik, tentunya  pemerintah sudah mempunyai perencanaan dan standar-standar yang diukur untuk memberikan kenyamanan kepada penumpangnya. Dan pasti, segala interior dan fasilitas yang ada di alat transportasi ini tentunya sudah diperkirakan dengan matang. Ini mungkin dapat disesuaikan dengan kondisi. Saya sendiri tak terlalu mengeluh,  namun bagaimana jika penumpang bus ini tak memiliki tinggi badan yang cukup? Pasti akan sangat menyiksa. Ini adalah pendapat saya pribadi, bukan untuk menjelekkan apa yang sudah ada. Saya akan tetap menjadi  penikmat bus ini, selama saya masih tinggal di Kota Semarang. Banyak kejadian menarik yang selalu saya temukan ketika menaiki bus ini.

So, sudahkah anda cukup tinggi, cukup mental, cukup sehat, dan cukup sabar untuk bergelantungan di alat transportasi publik yang penuh sesak? :)

8 comments:

Mood Swing

11.03 Dea Maesita 0 Comments


#1
"Halo. Senyum dulu dong!", Kata Bapak Satpam sambil menarik tangannya kembali, ketika aku meminta Kartu Tanda Parkir di parkiran kampus.  
Aku meringis seadanya. Yang penting gigi gingsulku kelihatan (pikirku waktu itu). 
"Nah, gitu dong Mbak!", Kata beliau sambil mengulurkan kartu parkir berwarna biru tua.
(Percakapan dengan saksi mata ketika harus menjalani proses "Berangkat petang, Pulang sampai petang lagi" demi meraih gelar sarjana di Bulan April)


#2
"Ketawa dong. Serius banget nontonnya. Baru pertama kali nonton ya?" 
"Ihhhh!" 

"Makanya, nonton  tuh nggak usah sambil mikirin skripsi" 
"Sori yaa skripsi sih udah kelar"
(Percakapan berdua dengan salah satu blogger eksis di Semarang, ketika nonton film di bioskop, weekend lalu)


#3
"Mbak berarti anak kos ya?" 
"Iya, kenapa emangnya mas?" 
"Pasti udah bayar kos ya?" 
"HAH, Lha kok???" 
"Lha itu kelihatannya bahagia banget dari tadi ketawa-ketawa terus" 
"Ah, masa?"
(Percakapan dengan Mas Mas Pegawai Trans Semarang, sambil menyusuri jalanan Semarang yang tergenang banjir)


0 comments: