Hari Ke-9 : Roti Selai Kacang

03.42 Dea Maesita 0 Comments

Kata-kata itu sudah kau telan di kepalamu?
Bagaimana rasanya? Pahit?
Bagaimana kalau kau tambahkan nutella barang sedikit,
mungkin akan membuat rasanya lebih menggigit.
Jangan lupa untuk mengoleskannya dengan merata,
agar tak ada iri yang menganga.

Pagi itu kau susun kembali setangkup cerita tentang kita.


***
"Roti rasa apa kali ini?", tanyaku. 

"Coba kau makan dulu"

"Oh selai kacang ya? Hmm berat!", jawabku.

"Berat? Itu cuma selai kacang. Tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mengartikan puisimu semalam"

"Iya berat. Rasa yang unik dan menarik, tapi sayangnya tak semua orang menyukainya. Beruntungnya kau memberikan roti ini padaku. Jika kau memberikannya kepada nona sekretaris di seberang meja, bisa saja dia membuangnya mentah-mentah"

"Kenapa bisa begitu? Memangnya rotiku ini tampak seperti ingusnya yang dibuang setiap pagi?"

"Hus! Jorok! Kalau tak percaya, buktikan saja! Paling-paling dia akan menjawab : Kau mau membunuhku ya?"

"Tunggu tunggu. Ini kan hanya selai kacang?"

"Ah kamu belum mengerti wanita seutuhnya. Selai kacang adalah kawan erat dari jerawat. Dan, kau pernah dengar bahwa kacang adalah salah satu alergen yang diidap manusia di dunia?"

"Iya aku tahu. Memangnya kenapa?"

"Nenekku meninggal karena setangkup roti selai kacang yang kuberikan pagi itu".

"Ah memori itu pasti lebih mengerikan ketimbang jerawat kan? Maafkan. Aku berjanji tak akan makan roti selai kacang ini lagi dihadapanmu"

"Lalu di mana lagi akan kau makan selai kacangmu? Dihadapan Tuhan? Kalau begitu akan kukabulkan sekarang juga"


***

Selai kacang tumpah. Darah tumpah. Air mata tumpah.
Kantor redaksi surat kabar itu, meliput sendiri berita tentang mereka.

Semarang, 10 Januari 3:37 AM
Ditulis ketika bangun tidur dengan seprai dan setumpuk baju laundry yang belum disusun teratur


You Might Also Like

0 comments: