Hari Ke-24 : Timbangan Pembawa Rezeki

12.59 Dea Maesita 0 Comments

Banyak cara untuk menjemput rezeki. Hal itu banyak kupelajari ketika aku pergi ke luar rumah.
Apalah pekerjaan  yang cocok untuk manusia yang kurang beruntung untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah?

Menjadi tukang pengangkut sampah?
Pengamen ?
Pengemis ?
Pemulung ?
Ah itu sih sudah biasa. 
Profesi yang satu ini lagi-lagi membuat mata saya pedih. Dan seperti biasa, cairan panas itu akan meleleh dalam waktu kurang dari tiga detik.

Siang itu pukul satu, saya sudah tiba di mall untuk menonton film buatan anak negeri yang mengisahkan tentang cinta sejati. Rencananya aku dan teman kosku akan membeli dua tiket dengan jam tayang pukul dua siang. Tapi seperti biasa, tiket  ludes dan akhirnya kami mengambil yang jam tayangnya pukul lima. Apa yang  akan kami lakukan selama  empat jam ke depan? Akhirnya kami memutuskan untuk turun ke lantai satu dan mencari tempat makan yang masih menyisakan dua bangku untuk kami.

Kami berjalan ke luar gedung, menuju tempat makan yang terletak di pinggir tempat parkir mobil. Di teras yang sempit itu kami melihat kakek tua, sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun umurnya, memakai  jaket dan membawa timbangan berat badan sambil berjalan kemana-mana. Oh Tuhan, hari ini entah berapa liter air mata yang saya keluarkan. Setelah menonton Hafalan Shalat Delisa pagi tadi, melihat kakek yang kujumpai di jam makan siang tadi, dan film Habibie-Ainun di sore hari. Ah, kadar ke-melankolisanku memang sudah tak dapat diragukan lagi.


You Might Also Like

0 comments: