Hari Ke-16 : Cerita Cinta di Bawah Naungan Menara 3-3

11.33 Dea Maesita 0 Comments


Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Zafira sedang berjalan menuju masjid ketika laki-laki itu menghampirinya kembali. Laki-laki yang dikenalnya sejak lima bulan yang lalu itu menanyakan jawaban Zafira.

Maaf Mas, saya endak bisa. Saya sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan Ibu dan  Abah”, jawab Zafira dengan tergesa-gesa sambil berjalan menuju masjid. Laki-laki itupun hanya bisa terdiam, membiarkan Zafira pergi. Pergi dengan perasaan membuncah tak karuan.

Maafkan aku, Mas”, kata Zafira dengan terisak-isak. Meski laki-laki itu tak dapat mendengar ucapan maafnya.
***
Hari yang mendebarkan pun telah tiba. Malam ini adalah malam pertunangan Zafira dan Amir. Keluarga besar sudah berkumpul di rumah Zafira sejak pagi tadi. Mereka berkumpul untuk sekedar membantu menyiapkan hidangan, menata dekorasi, dan mempersiapkan pakaian untuk Zafira.

Magrib telah berkumandang. Setelah menunaikan shalat, Zafira segera berdandan. Hatinya bimbang, bagaimanapun juga dia tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya, juga keluarga besarnya. Abah datang ke kamar untuk menjemput Zafira. Sesampainya di ruang tamu, betapa terkejutnya Zafira ketika melihat laki-laki misterius yang dikenalnya lima bulan yang lalu itu juga hadir dalam pesta pertunangannya dengan Mas Amir. Namun Zafira hanya bisa diam, menuruti rangkaian acara pertunangan sampai selesai. Barulah setelah berakhirnya acara, dia berani bertanya kepada laki-laki itu.

Kamu kenapa bisa disini?”,tanya Zafira.

Baiklah Mbak Za, sebaiknya aku mengaku saja. Sebenarnya aku adalah Farhan, adik kandung Mas Amir. Aku bertugas untuk memata-mataimu. Sebenarnya Mas Amir juga tidak setuju dengan perjodohan ini. Dia takut karena belum pernah mengenal calon yang sudah dijodohkannya. Oleh karena itu dia menyuruhku untuk mengikutimu. Mas Amir juga bertanya-tanya barangkali kamu sudah punya calon atau bagaimana. Makanya aku tanya ke kamu, apakah aku diijinkan khitbah ke kamu atau tidak. Itu cuma buat nge-tes kok mbak. Eh, ternyata kamu setuju-setuju aja. Ya berarti kamu belum punya calon pada waktu itu. Hahaha. Baru setelah kejadian itu, Abah dan Ibumu langsung bilang ke kamu kalo kamu mau dijodohin tho? Hahaha”, Farhan mengakui semuanya kepada Zafira.

Haha maaf ya, Za. Habisnya aku endak berani memata-matai kamu. Takut ke-gap sama ibumu. Makanya aku nyuruh Farhan nemuin kamu. Itupun tiap kamu lagi ke masjid sendirian, ataupun pas kamu lagi di toko sendirian kan?”,serobot Amir.

Owalaah, aku baru nyadar sekarang. Kalian tuh ya? Modus Banget! Huh!”, Omel Zafira sambil manyun-manyun.

Eh eh eh… Ada apa ini? Kok malah manyun-manyun”, tanya Ibu.

Itu Bu, Mbak Zafira lagi senam muka. Makanya manyun-manyun. Tuh kan Bu? Mbak Zafira lagi latihan vokal huruf ‘U’”, jawab Farhan sambil menirukan Zafira.

Hahahaha”, merekapun tertawa bersama-sama.

Betapapun takdir Tuhan akan selalu lebih baik daripada yang kita inginkan. Begitupun restu dari orangtua. Orang yang merawat kita dengan sepenuh raga dan jiwa. Jangan sampai cinta sesaat kepada manusia hanya akan membutakan mata kita terhadap cinta yang tulus dari orangtua. 

Tamat : Cerita Ke-3 dari 3 Cerita

NB : Terinspirasi dari curhatan seorang kawan yang sedang resah karena akan dijodohkan

You Might Also Like

0 comments: