Hari Ke-15 : Cerita Cinta di Bawah Naungan Menara 2-3

11.23 Dea Maesita 0 Comments


Mentari pagi mulai menyapa. Hari ini hari Minggu. Pukul tujuh pagi, Zafira dan ibunya sudah siap berangkat menuju toko. Tak lupa ia berpamitan kepada Abah.

Nduk, ibu mau ke kiosnya Haji Abdullah dulu ya, ada barang yang mau diambil. Kamu tolong jaga toko dulu. Ibu nggak lama-lama kok”, pesan ibu.
Baik Bu”, ucapnya.

Ketika sedang sibuk membereskan barang dagangan, datanglah seorang pembeli.
Permisi Mbak
Oh iya silahkan. Monggo dipilih
Lho, Mbak bukannya yang tadi pagi ketemu saya di masjid itu ya?
Iya, saya juga masih ingat. Hahahaha. Silahkan mau beli apa, Mas?”
Saya mau beli jenang. Satu kilo saja buat oleh-oleh ibu di rumah”.
Oh memang asli mana masnya?”, Kata Zafira sambil menimbang jenang.
Saya asli Jepara situ kok
Owalah deket situ tho
Iya. Kapan-kapan saya mampir lagi boleh?
Monggo, silahkan saja”.
Dan percakapan itu pun mengakhiri pertemuan mereka.
***
Tiga bulan telah berganti. Kali ini Zafira juga sedang menjaga toko sendirian. Kemudian datanglah lagi laki-laki itu.
Assalamualaikum
Waalaikusalam. Owalah masnya datang lagi tho
Iya, haha masih ingat saja”.
Pasti lah. Mau beli apa, Mas?
Saya nggak ingin beli apa-apa hehe. Saya cuma mau menanyakan sesuatu
Oh silahkan mau tanya apa, Mas?
Saya boleh khitbah dengan adek tidak? Mohon maaf sebelumnya kalau saya lancang

Zafira pun terkejut mendengar pertanyaan laki-laki itu. “Kami bahkan belum saling tahu nama masing-masing. Bagaimana bisa? Laki-laki itu sepertinya baik sih, dari fisiknya pun tampan. Tapi, apa yang harus aku katakan kepada Abah dan Ibu nanti?”, gumam Zafira dalam hati.

Waduh, saya sih endak keberatan. Tapi mungkin saya perlu izin dari Abah dan Ibu dulu, Mas. Mohon maaf ya
Oh iya nggak papa, Dek. Saya tunggu kabar selanjutnya ya. Mari, Wassalamualaikum
Iya Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Mas”.
***
Sesampainya di rumah, Zafira semakin gundah. Ia takut dengan apa jawaban yang akan diberikan Abah nantinya. Namun, ia juga tak bisa membiarkan rahasia ini tersimpan sendirian.

Abah, Ibu, ada yang ingin Zafira bicarakan”.

Kemudian Zafira menjelaskan tentang niat dari lelaki yang dikenalnya di masjid itu. Niat untuk ber-khitbah. Niat untuk menjalani hubungan antara dua insan ke jenjang yang lebih serius, dengan cara yang islami. Cukup lama Ibu dan Abah berfikir untuk menjawab pertanyaan Zafira itu. Sedangkan Zafira, hanya bisa menunduk memandangi lantai marmer rumahnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya pertanda gelisah. Setelah menunggu agak lama, Abah pun memulai bersuara.

Kamu itu anak perempuan satu-satunya Abah. Abah sih kepengennya kamu itu ya nanti menikahnya sama laki-laki yang jelas keluarganya. Bukan sama orang yang nggak dikenal semacam dia itu”. Zafira pun hanya diam melanjutkan jawaban Abahnya. Tapi Abah tak juga melanjutkan perkataannya. Kini giliran Ibu yang menjawab perkataannya.

Iya Za. Lebih baik kamu itu menikahnya sama anaknya Haji Abdullah itu saja lho. Keluarga kita kan sudah kenal dekat dengan keluarga mereka. Lagipula Nak Amir itu kan sudah mapan. Sudah percayakan saja jodohmu itu sama Abah dan Ibuk. Buktinya itu kakakmu. Dia bahagia-bahagia saja waktu ibu jodohkan dengan Nak Asmira”.

Zafira pun hanya bisa pasrah. Tradisi perjodohan itu memang sudah turun-temurun terjadi di keluarganya. Tak hanya di keluarga Zafira, bahkan keluarga dari kakak dan adik dari Abah dan Ibu-pun menerapkan cara yang serupa. Ia hanya bisa berdoa agar Mas Amir itu dapat membahagiakan dirinya. Meskipun Zafira sendiri belum pernah bertemu dengan laki-laki yang telah dijodohkan dengan dirinya.

Bersambung : Cerita ke-2 dari 3 cerita :

You Might Also Like

0 comments: