Hari Ke-14 : Cerita Cinta di Bawah Naungan Menara 1-3

11.15 Dea Maesita 0 Comments

Bulan masih menggelantung ketika mata-mata yang terpejam mulai berangsur tersadar. Fajar di kaki Gunung Muria yang dingin, menggelayut  seakan-akan merantai diri untuk semakin menaikkan selimut. Kaki-kaki mungkin akan malas beranjak pergi, namun kumandang adzan tak akan mampu melawan hasrat  rindu. Rindu kepada Sang Khalik, rindu paling mulia dari beragam jenis rindu yang pernah dirasakan oleh  manusia.
Nduk, ayo nduk ndang tangi. Sholat subuh berjamaah itu pahalanya setara haji dan umroh lho. Kamu endak malu apa sama Kanjeng Sunan Kudus. Orang Kudus kok sholatnya males-malesan!”.

Nggih, nggih Bu. Sebentar. Saya ambil wudlu dulu

Teriakan Ibu membuyarkan lelap tidurnya. Bergegas ia lawan kantuk dan menuju ke sumur belakang untuk mengambil air wudlu. “Ah segarnya! Subhanallah nikmatnya bangun pagi”, serunya seraya memakai mukena bermotif bunga-bunga kesukaannya.

Gadis delapan belas tahun itu bernama Zafira. Nama yang cantik, kata orang-orang. Paras tubuhnya pun tak kalah cantiknya. Ia masih keturunan Arab-Jawa. Kulitnya putih bersih, matanya bening menawarkan keteduhan,  hidungnya mancung, selaras dengan dagunya yang lancip memanjang. Postur badannya tinggi semampai, didapatkan dari ayahnya yang berketurunan Arab, dan wajahnya yang kalem didapati dari ibunya yang masih keturunan Jawa ningrat. Ia anak bungsu di keluarganya. Kakak laki-lakinya sedang menempuh pendidikan S-2 di Semarang. Ia sendiri masih duduk di kelas tiga SMA. Kegiatan sehari-harinya adalah bersekolah dan membantu ibunya berjualan di toko. Ibunya adalah pemilik toko oleh-oleh terbesar yang ada di kawasan Menara Kudus, salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Kota Kudus. Di toko itu disediakan bermacam-macam jenis jenang (makanan kecil khas Kudus), tasbih, kopiah, buku-buku mengenai sejarah menara kudus, gantungan kunci, kaos, dan beragam jenis oleh-oleh lainnya.

Pendidikan agama yang kental, sudah ditanamkan oleh keluarganya sejak anak-anaknya masih kecil. Tak heran kalau tradisi shalat berjamaah di masjid dianggap sebagai hal yang penting. Kebetulan jarak rumah mereka dengan Masjid Al-Aqsa atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Menara Kudus, tak terlalu jauh. Hanya sekitar dua ratus meter dengan menempuh jalan paving.

Dari ber-ribu-ribu fajar yang dihabiskan Zafira untuk shalat berjamaah di masjid itu, mungkin fajar itulah yang paling bersejarah baginya. Teras masjid itu menjadi saksi, ketika kaki-kaki yang telanjang dan suci, mulai menapaki tangga-tangga menuju kemuliaan tertinggi. Kemuliaan dimana malaikat mengamini semua doa mereka di hadapan Tuhan Yang Maha Kaya.

Fajar itu Zafira berangkat ke masjid seperti biasanya. Abah dan ibunya sudah berangkat terlebih dahulu. Suara adzan telah selesai berkumandang. Ia-pun mempercepat langkah kakinya menuju tempat shalat khusus wanita. Di masjid itu, tempat laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Bagian masjid utama hanya diperuntukkan bagi jamaah laki-laki, sedangkan jamaah perempuan harus berjalan melewati gang di sisi kanan masjid untuk dapat mencapai lokasi shalat berjamaah. Kemudian datanglah sesosok laki-laki yang menghampirinya dengan terburu-buru juga.

Assalamualaikum. Maaf Mbak, saya mau tanya. Tempat wudlu untuk pria-nya dimana ya? Saya baru pertama kali ini kesini”, kata pria itu menghentikan langkah kakinya.

Waalaikumsalam. Oh, itu disana Mas tempat wudlunya”, jawabnya sambil menunjuk ke arah kiri masjid.

Oh baiklah. Makasih ya, Mbak”, katanya Pria misterius itu.

Zafira pun melanjutkan langkahnya menuju tempat shalat. Iqomat sudah berkumandang pertanda imam akan memulai memimpin para jamaah shalat subuhnya.

Ah laki-laki tadi, lumayan juga tampangnya. Astagfirullahaladzim, maafkan aku Ya Allah. Ah sudah-sudah. Mengganggu konsentrasi shalat subuhku saja”, gumam Zafira.

Ia segera menggelar sajadah, merapatkan barisan shalat, membaur bersama jamaah lainnya. Kali ini ia shalat terpisah dengan ibunya.

Bersambung : Cerita ke-1 dari 3 :

You Might Also Like

0 comments: