Hari Ke-13 : Harum yang Mematikan

11.03 Dea Maesita 0 Comments

Sepeda onthel berderet-deret memenuhi jalanan
Dikayuh beriringan, perlahan dan tanpa beban
Tak ada satupun peluh yang menetes di wajah mereka,
Sudah menjadi rutinitas, memang agaknya

Di tempat itu, tembakau dan cengkeh bertemu
Merebakkan aroma khas yang memenuhi setiap rongga paru-paru
Ribuan wanita mulai memakai maskernya
Menahan derita, agar asap dapur tetap mengepul

Tangan-tangan terampil berpacu dengan waktu
bergantian dan berirama ,
membentuk sebuah lagu baru
Lagu tentang pengorbanan seorang ibu

Ah, setidaknya  sudah pernah kukatakan kepadanya
Benda-benda itu akan menghancurkan paru-parunya
“Ibu, ada lubang di dalam organ tubuhmu”
“Aku bisa melihat dengan menggunakan kedua mataku”

Seperti bara api yang membakar kayu perlahan
Sebongkah sesalpun hanya akan mengikis badan
Kau tak perlu cemas lagi ibu,
Akan kulanjutkan kepulan asap dapurmu dengan usahaku
Bukan, bukan di tempat yang kau sumpah serapahi itu

NB : Terinspirasi dari kisah tetangga dekat rumah yang tak sengaja mengidap radang paru-paru, dan masih bekerja sebagai buruh rokok.

You Might Also Like

0 comments: