Hari Ke-12 : Laser Pertama

10.59 Dea Maesita 0 Comments


Sinar Laser? Sejenis pena kecil yang kalau dipencet tombolnya bisa keluar sinar merah itu? Yang biasa dipakai temen-temen cowok buat ngejahilin temen-temen cewek kalau pas lagi bosen di kelas itu? 
Atau? Sinar yang biasanya ada di film-film yang bisa mengubah monster yang tadinya kecil kemudian jadi besar gitu?
BIG NO NO! :D

Sabtu pagi itu adalah terapi-ku yang pertama. Aku dan mamah berangkat jam sepuluh lebih dari rumah. Sebelumnya, si mamah udah minta tolong sama temennya yang kerja di RS (melalui SMS) untuk mendaftarkan namaku di antrian bagian Rehabilitasi Medik. Sempet panik gara-gara nyampe di RS udah jam sebelas kurang sepuluh menit, padahal pelayanannya tutup jam sebelas tepat. Dan lagi-lagi kami mengacuhkan. "Ah kan yang disana teman-teman Mamah sendiri, santai aja".

Setelah memarkir mobil di tempat parkir yang paling ujung, kamipun melewati ruangan pendaftaran dan langsung naik lift ke lantai tiga, tempat dimana ruang rehabilitasi medik berada. Dan ternyata betul, udah sepi sekali. Setelah berjabat tangan disana-sini dengan teman Mamah, akupun digiring (cieh digiring) ke ruangan yang bersekat-sekat dengan banyak tirai di dalamnya. Kebetulan aku mendapat sekat nomor dua, dan si Mamah masih ngobrol-ngobrol di meja depan. 
"Bisa renang nggak, Mbak?"
"Waduh enggak bisa Pak, Huhu"
"Hmm coba saya lihat dulu hasil rontgen-nya ya?"
Kayaknya renang memang olahraga yang direkomendasikan deh buat yang pengen ngebentuk badan supaya ideal.

Akupun diminta untuk tiduran miring menghadap ke kiri. Dan Dezing Dezing! Ada sinar merah yang mengeroyok di belakang punggungku!
Efeknya panas, terus ngebikin punggungku jadi agak kesemutan gitu. Asik sih, tapi lama-lama jadi semakin panas dan semakin panas. Sebenarnya nggak lama-lama banget sih, kurang lebih 15 menit gitu aku di-laser-nya. Tapi bosen juga karena selama di-laser aku nggak ngelakuin apa-apa. Cuma bisa memandang tirai-tirai sekat dengan tatapan nanar. #Tsaaah.

Dan proses laser me-laser pun selesai! Yayy! 
Laser loh ya? Bukan Nassar. *Efek kebanyakan nonton infotainment* 
Setelah itu, aku diminta untuk berdiri tegak. Dan bapak pertugas terapinya yang notabene sudah hafal dengan letak tulang-menulang itupun menarik-narik tangan dan bahuku untuk mengkomandokan gerakan senam. Senamnya seimbang antara anggota tubuh yang kiri dan kanan.
"Besok kalau di rumah, coba lakukan gerakan seperti ini setiap pagi ya?", pesan Bapak petugasnya.
Dan terapi ke-1, dari 6 sudah selesai!

Aku kembali ke meja depan tadi. Si Mamah masih ngobrol asik sama Bapak-Bapak Ibu-Ibu dokter disana.
Dan dua dari empat ibu yang ada disana pun berkata. 
"Nggak usah takut, keponakan saya juga gitu kok. Sekarang bisa sembuh", kata ibu pertama.
"Anak saya juga kena skoliosis kok. Itu dia dipasang semacam korset buat mengembalikan posturnya jadi tegap lagi. Bisa renang endak? Itu istrinya Mas itu *sambil nunjuk ke mas petugas laser tadi* itu guru renang itu. Coba renang disana saja", kata ibu kedua yang ternyata adalah seorang psikolog.

Dan kesimpulannya adalah, masih ada 5x terapi lagi yang harus aku jalani. Latihan renang sama istri-nya bapak petugas fisioterapi. Dan memakai korset untuk beberapa bulan ke depan. Yayy! :D
Nggak tahu sih, kenapa aku mendadak excited gini. Dibikin fun aja sih biar bisa cepet sembuh :D

You Might Also Like

0 comments: