Hari Ke-1 : Between December-January

22.52 Dea Maesita 3 Comments


You're : My favourite December

And I'm : January but we're both on the same calendar~  (Something About Lola)

---------------------------------------------------------------------------------------------



Selasa, 1-1-13 , 11:11 PM
Embun baru saja melepas gaun pengantinnya ketika ibunya masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat.

“Ini diminum dulu, nduk. Kalian pasti capek, seharian nerima tamu”.

“Iya Bu. Suwun nggih”.

“Lho Nak Elang mana?’’

“Tadi sih masih di luar Bu. Masih ada tamu penting katanya”

“Oh yasudah, ingat pesan ibu baik-baik ya. Kamu harus jaga iman, jangan sampai tergoda walaupun dia itu sudah menjadi suamimu”.

Inggih Bu, Embun janji. Lagipula itu kan sudah menjadi komitmen kami berdua”.


Jumat, 1-3-13, 11:11 AM
“Mas, itu sarung dan baju kokonya sudah saya siapkan buat Shalat Jumat. Oya, makan siang dulu yuk Mas. Saya masak banyak hari ini”

“Wah asik. Oya Dik, ngomong-ngomong nanti malam kamu mau ibadah di gereja mana? Nanti Mas antar sesudah shalat magrib ya”

“Baik Mas. Nanti di gereja Jalan Majapahit aja ya, gimana? Yang deket aja”

“Siap nona manisnya aku (:”


Selasa, 3-11-13, 13:11 PM
Di sela perbincangan makan siang

“Dik, kamu sudah tahu belum? Itu Si Djoko, temen kerja Mas di kantor, anaknya udah bisa jalan lho. Tadi diajak ke kantor. Lucu sekali anaknya, hiperaktif”.

“Wah iya toh? Padahal nikahnya kan duluan kita ya, Mas? Coba kalau kita punya anak ya, pasti hidungnya kayak mamahnya, dan bawelnya kayak papahnya, iya kan Mas? Hahaha”

“Sudahlah Dik. Kita ikhlaskan saja semuanya kepada Tuhan. InsyaAllah akan diberi kekuatan”

“Iya ya Mas. Puji Tuhan. Aku bersyukur bisa mempunyai suami yang selalu menenangkanku”


Embun dan Elang, mereka berbeda dalam segala hal, kecuali inisial. Oh ya, dan satu lagi, ketaatan. Ya, mereka laki-laki dan perempuan yang sama-sama sangat patuh terhadap Tuhannya (masing-masing). Ya, masing-masing. Ketika cinta mempertemukan hati mereka, cinta kepada Tuhan tak urung dilalaikannya.

Berhubungan badan dengan wanita yang berbeda agama dengan kita itu hukumnya haram, Lang. Haram. Kamu masih mau menikah sama dia? Ora sudi Bapak. Itu sama saja dengan zina. Dosa besar itu Lang. Dosa besar!

InsyaAllah kami kuat kok Pak. Kami rela tidak punya anak, asal kami selalu bisa bersama

Yowis sakkarepmu. Pokoknya jangan sampai aqidahmu rusak. Asal kamu pegang janjimu itu, Bapak  manut kamu

Dialog itu masih membekas di pikiran Elang.

Cinta sejati? Mungkin bisa dibilang begitu. Nyatanya, sampai saat ini mereka berdua masih saling mencintai, meskipun tanpa berhubungan badan sekalipun. Buah cinta itu dari dalam hati. Bukan dari nafsu. Salah bagi mereka yang mengatakan bahwa “anak” adalah hasil dari “buah cinta”. Karena cinta adalah bagaimana cara mengekspresikan, bukan meluapkan.

Semarang, 1 Januari, 09:59 PM

Terinspirasi dari salah satu kawan yang  ber-LDR dengan Tuhan dari pasangannya.

Selamat Tahun Baru 2013 ! Dari Embun (December) dan Elang (January)





You Might Also Like

3 komentar:

  1. hai salam kenal. ceritanya bagus loh, mengingat banyak sekali kejadian seperti ini di sekitar kita :)

    BalasHapus
  2. hai salam kenal. ceritanya bagus loh, mengingat banyak sekali kejadian seperti ini di sekitar kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai makasih udah mampir baca :)
      Iya, tragis ya. Aku aja yg nggak menjalaninya ikutan sedih.

      Hapus