Be a Smart Jobseeker

12.41 Dea Maesita 1 Comments

Remaja -ALAY-Dewasa
Mahasiswa-JOBSEEKER-Pekerja
Is it true? :D
Kali ini saya akan sharing mengenai pengalaman saya yang kebetulan baru saja terjadi kemarin siang. Semoga bermanfaat. Tetap berhati-hati ya teman-teman :)

***

Tak bisa ditampik bahwa puluhan ribu orang di Indonesia berstatus sebagai jobseeker. Itu berdasarkan analisa pribadi saya terhadap jumlah kedatangan jobseeker, pada jobfair yang diadakan oleh salah satu universitas di Indonesia bulan kemarin. 

Hal tersebut tentunya menjadi sasaran empuk bagi para komplotan penipu yang pandai memanfaatkan situasi. Bagaimana tidak? Disaat para fresh graduate itu sedang panik melamar kerja di sana-sini, pihak-pihak tersebut melakukan modus operandinya dengan mengatasnamakan perusahaan besar di Indonesia yang menawarkan gaji bagi pegawainya sebesar belasan juta per bulan. Iming-iming itu akan dengan mudah mempengaruhi para pencari kerja tersebut apabila mereka tidak dapat berpikir dengan jernih dan tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu.

Siang itu saya mendapat SMS yang mengatasnamakan pihak dari PT. Freeport Indonesia. Pesan singkat tersebut berisi pemberitahuan bahwa mereka telah mengirimkan email kepada saya. Memang beberapa hari yang lalu saya mengirimkan berkas lamaran, bermodalkan dari iklan lowongan pekerjaan yang saya dapatkan pada salah satu website. 

Buru-buru saya mendownload file attachment dari pihak yang mengaku dari PT. Freeport itu. File yang terdiri dari lima halaman PDF itu berisi petunjuk tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh peserta yang telah lolos seleksi administrasi. 

Butuh beberapa menit bagi saya untuk menyadari bahwa ini adalah kasus penipuan. Setelah saya menyelidiki lewat google, ternyata modus seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya. 

Ada banyak hal yang menimbulkan kecurigaan saya. Berikut akan saya jelaskan satu persatu: 
  1. Alamat email dan nomor telepon yang tertulis di kop surat, berbeda dengan alamat email dan nomor telepon yang tertulis di web resmi PT. Freeport. 
  2. Kualifikasi yang dituliskan pada surat (minimal pendidikan SMA/K), berbeda dengan kualifikasi yang dicantumkan di web resmi PT. Freeport (S1 dengan jurusan yang ditentukan). 
  3. Setiap peserta diwajibkan memesan tiket pada biro perjalanan yang ditunjuk oleh PT. Freeport. Disitu disebutkan bahwa setiap peserta harus membayar biaya akomodasi terlebih dahulu, dan setelah proses penyeleksian selesai, seluruh biaya akomodasi akan diganti oleh PT. Freeport.
    Hal ini yang menjadi kecurigaan terbesar saya. Sejak kapan ada perusahaan yang membayari seluruh biaya akomodasi (transport+hotel) bagi calon peserta recruitment nya? Memang sih PT. Freeport perusahaan yang kaya raya. Tapi tetap saja tidak masuk akal. Setelah itu, saya juga mencari alamat Duta Tour & Travel di laman google. Jeng jeng! Alamat perusahaan tour & travelnya saja di Kalimantan Timur. Sedangkan proses seleksinya di Jakarta.
  4. Konfirmasi peserta dilakukan melalui SMS. Dan anehnya lagi, mengapa format konfirmasinya = FREEPORT#Nama#Hadir/Tidak? Padahal jelas-jelas yang merekrut adalah PT. Freeport. Itu artinya ada kecenderungan bahwa penipu tersebut juga megatasnamakan beberapa perusahaan untuk melakukan penipuan.
  5. Di akhir surat, pihak tersebut mencantumkan jumlah gaji yang akan diterima oleh peserta yang lolos seleksi yakni 12,5 juta per bulannya. Tujuannya agar si korban terpengaruh dengan nominal gaji yang sangat besar itu dan buru-buru  mentaati semua instruksi tersebut. Menurut pemikiran saya pada waktu itu, agak tidak etis kalau perusahaan mencantumkan besaran gaji pada surat undangan resmi, kecuali kalau informasi tentang gaji tersebut dituliskan di web. 

1 comments:

Cerita Kemarin

21.01 Dea Maesita 2 Comments

What an extremely hectic life!

Mencoba berdamai dengan flu dan mood yang kacau balau ketika menulis postingan ini.
Hey, thanks for trying make me smile and happy everyone :)
Hanya terlalu lelah dan butuh sehari dua  hari untuk bisa tersenyum lagi (mungkin). 

Setelah melalui perjalanan dari Kediri-Surabaya-Tangerang-Jakarta-Tangerang-Bogor-Tangerang-Kudus-Kediri-Semarang-Tangerang-Jakarta-Tangerang-Jakarta-Semarang-Kudus semenjak satu bulan yang lalu dengan tegar dan bersemangat, kini saya sudah mencapai titik leleh dengan suhu yang teramat fluktuatif. 





Betapa perjuangan ini menghabiskan energi, waktu, dan biaya. Saya harus bolak-balik pulang-pergi, dan bepergian sana-sini dengan menggunakan pesawat, mobil travel, Commuterline, Transjakarta, Shuttlebus, Angkot, Taksi, dan bus umum nomor 157 dan 62. Walaupun sering berfikiran negatif dan insecure gara-gara beberapa kali menjadi incaran copet, mau tak mau saya harus make a good relationship with those all kinds of public transportation. "Mama dulu waktu hamil tua-nya kamu, masih bisa keliling Jakarta naik bajaj, masih bisa naik bus umum ke luar kota sendirian sambil jadi sales obat, naik turun angkot, blablabla". Well wajarlah kalau anaknya ini gedenya harus dituntut mandiri ke sana-sini sendiri walau nggak tau jalan, lhawong sebelum lahir ke dunia aja udah diajakin jalan-jalan dan berdamai dengan kendaraan umum sama mama, hehe :D

Beberapa teman menyayangkan saya untuk mengikuti seleksi pegawai negeri itu, dan beberapa, meremehkan. Padahal untuk berhasil lolos menjadi pegawai negeri juga nggak kalah susah dengan perjuangan menjadi pegawai swasta kok. Bagaimana tidak? Ada lebih dari 16.000 orang yang menjadi pesaing saya untuk merebut posisi idaman. Hal itulah yang membuat saya terus berjuang mengarungi teriknya ibukota, sampai pesaing-pesaing itu gugur satu demi satu.

Tujuan utama saya : Diterima kerja di instansi tersebut, pertinggi skor IELTS/TOEFL, dan kuliah di luar negeri dibiayai oleh kantor. So, i can  get both of them. Kerja, dan kuliah S2. Hehe. Aamiin.

Satu banding lima. Tentu saja saya berharap menjadi yang satu-satunya. Minggu depan saya hanya tinggal bersaing dengan kurang lebih empat orang saja. Merasa aman? Tidak! Justru itu adalah struggle yang sesungguhnya. Hari-hari terakhir ini, saya mulai membayangkan tiga orang pewawancara berada di hadapan saya dengan setumpuk kertas pertanyaan. "Hati-hati kalau wawancara kerja di instansi pemerintahan. Bakal dibabat habis-habisan pokoknya. Bersiap mulai dari sekarang ya", pesan teacher saya di kelas Job Interview beberapa waktu yang lalu. 

Bagaimanapun juga, usaha yang keras harus punya penyeimbang agar tak terlalu tumbang. Legawa mungkin adalah salah satu pilihan terbaik.  Satu bulan perjuangan kemarin mengajarkan saya banyak hal, selain menambah percaya diri dan keberanian tentunya.

Terkadang hidup tak hanya masalah plan and schedule. Kita juga harus bisa menjadi pribadi yang fleksibel dan open-minded. Beberapa kali mengubah jadwal keberangkatan pada bulan ini, tiket pesawat dan tiket travel yang sudah terlanjur dipesan terpaksa dibatalkan. Jadwal les dan ujian TOEFL pun tak berjalan sesuai dengan rencana. Akan tetapi, saya percaya bahwa schedule yang sudah dipersiapkan oleh-Nya di sana adalah jadwal sistematis terbaik yang semesta punya :)

2 comments:

I Feel It

20.33 Dea Maesita 2 Comments


The hospitals’ smells, my little brother and his broken arm, accompany me wrote this posting in this morning.

Yea, I am free for a while from the hard routin activity: “wake up at 03.00 am and go to bed at 11.00 p.m” since the last two months. No more homework, IELTS scoring, and the tasks of IELTS preparation that make me headache. Actually I feel regret when I couldn’t attend the class. I really miss the class, but I have to keep my little brother in the hospital. I have responsibility as a good sister for him, and good daughter for my parents. Life is full of choices and I must make decision.

I was in Kediri five days ago, at that time, I really had a bad feeling. It made me could not focus in the class, even it was my favourite subject, Reading Class. I just silent all the time in the class, until my coach gave me time to speak in the end of the class.

My Mom would go to Mecca on couple of days later. Actually she has said on the phone that I should stay in Kediri and finished my English study. Yet, that morning my bad feeling became stronger. I attended the class at 7 a.m. The subject was Listening. I even could not understood what the speaker said. I opened my phone and searched for travel agents’ number to book the ticket, but the result said ZONK. Fortunately, my coach gave my class a break at 08.30 a.m. Directly I took my bike, and rode the bike fast to another travel agents that located not really far from my English School.

Finally I found the travel agents that provide the nearest schedule, that was 11 am. Lucky me, I felt so grate. Two hours to go, I even hadn’t prepare for everything. Also I hadn’t text my mother about that decision.

I sent her a message. I said that I really want to go home. At last, she had given her permission. After that, I prepared for everything and did not join the next class. My bag and all my things were still left at the class. I sent message to my friend to keep my things.

Two hours after I left Kediri, my mom called me on the phone. She said that my brother got an accident. He was fell down from the stairs in the school. I felt either upset and felt free of worry, because my bad feeling got the answer.

The trip was so hard on the road. There was a long traffic jam near Semarang because of “karambol accident”. I should arrive in Semarang at 6 o’clock, but in fact, I arrived at 09.30 in the night. The hard trip was not finished. After got out from the car, I must continue the trip by public bus to reach my home town. I thought how the way to stay safe in the bus station. I know that the time was almost in the middle of the night, and I was pretty alone. The negative thought about pickpockets and criminal persons was running in my mind. At the last, I sent a message to my ‘ex’. Feel kinda strange, but he helped me to stay safe in the public bus station. Errr I realize that I just took the advantage from him. Hehe, girl! You know what? I was the one and only girl in the bus station. It was unforgotable trip. Really tired after 12,5 hours trip on the road.

It was not the first time I suddenly went home because of bad feeling. Before it, when I still in the college, I ever suddenly went back to my home town. Shocked that I found my mother got a Chikungunya Fever at home.

Errrr I should be grateful that I had a good ability to feel something J but sometimes I feel annoyed of it. A strong feeling of melancholy person is always been the winner, isn’t it?



2 comments:

Bantal Ini untuk Mama?

21.05 Dea Maesita 4 Comments

#DAY6 ~ BANTAL LEHER




“Mother have you seen your laughter
fall into the arms of angels
Mother if you see me, I’m allright”


Berkali-kali saya memutar lagu "Mother" milik Adhitia Sofyan ini di laman soundcloud (http://soundcloud.com/adhitiasofyan/sets/how-to-stop-time-bedroom), sebelum saya memutuskan untuk menulis postingan ini. Menangis? Tidak. Hanya berkaca-kaca.

***

Mama, Ibu, Ummi, Emak, dst.. Apapun julukannya, saya yakin, beliau adalah salah satu orang terpenting di hidup anda.

Saya masih ingat ketika duduk di bangku SMP. Seorang guru bertanya di kelas kami, "Siapa orang yang paling anda cintai di dalam  hidup kalian? Dan mengapa?". Hampir siswa seisi kelas, menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu Mama.

Teman-teman saya selalu membangga-banggakan mama mereka di setiap cerita-ceritanya. Mamaku hebat, blablablabla. Meskipun demikian, tak jarang juga diantara mereka yang saling memuji mama milik teman yang lain, termasuk mama saya.

***

Semarang-Kediri. Kereta Matarmaja tengah malam. 
Saya dan mama berpamitan dengan papa yang ketika itu mengantar kami sampai di stasiun. Ya, kami berdua akan berangkat menuju Kediri dengan menggunakan kereta ekonomi. Pada saat itu mama sedang tak enak badan. Mukanya pucat, sering mual, dan tak ceria seperti biasanya. Namun apa daya, tiket kereta pulang-pergi sudah terlanjur dipesan. Kalau gagal, uang setengah juta bisa melayang.

"Wah?", mama terkejut ketika masuk ke dalam kereta. Ternyata kondisinya tak sebaik yang kami bayangkan. Satu bangku diduduki untuk tiga penumpang, berhadap-hadapan, lutut bertemu lutut, sungguh mengenaskan. "Maaf, Ma. Di bayanganku kondisinya nggak seperti ini", sesal saya kepada mama. "Ya nggak apa-apa. Kereta ekonomi aja sudah mahal kok. Dinikmati saja.", kata mama sambil tersenyum.

Beruntungnya di sepanjang malam, Mama bisa tidur dengan nyenyak. Sedangkan saya, tak bisa tidur. Saya baru tidur ketika kereta sudah hampir tiba di Stasiun Kediri. Pada waktu itu penumpang sudah mulai turun. Bangku-bangku sudah mulai kosong. Mama mencarikan saya bangku yang kosong, agar saya bisa tidur. Walhasil, bangku yang tadinya diduduki untuk tiga orang, kini saya pergunakan untuk tidur sambil selonjoran.

Enam jam kami menghabiskan perjalanan dengan kereta. Tempat yang akan saya tuju masih berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Kami harus menggunakan becak, angkot, dan berjalan kaki untuk mencapai lokasi tersebut. Saya agak mengkhawatirkan kesehatan mama. Sebenarnya tujuan kami ke Kediri adalah untuk melakukan survei ke Kampung Inggris. Sebuah kampung di daerah Pare, Jawa Timur, yang diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin belajar bahasa asing, terutama bahasa inggris. 

Setelah lulus dari bangku kuliah, saya berencana untuk tinggal beberapa bulan disana. Tentu saja untuk belajar bahasa inggris. Untuk itu, saya perlu melakukan survei dimana tempat les yang bagus, beserta tempat untuk tinggal. Mama tidak mengijinkan saya untuk berangkat sendirian. Maklum, anak perempuan satu-satunya. Walaupun dalam hati, saya ingin berkata : "Mother if you see me, I’m allright".

Setelah sembilan jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Kampung Inggris. 
Karena lelah berjalan, kami menyewa sepeda motor untuk berkeliling. 
Tak lama, hanya sekitar 1,5 jam kami berkeliling, mama mengeluh kelelahan. Wajah beliau pucat. Kami mencari masjid untuk shalat dan beristirahat. Mama sempat tertidur beberapa menit, kemudian wajah beliau tampak lebih sehat. Kami memutuskan untuk pulang saja, daripada beliau kenapa-kenapa.

Urusan kami sudah beres pukul 12.00 WIB. Namun, jadwal tiket untuk pulang ke Semarang masih pukul 20.00 WIB. Itu artinya, waktu kami tersisa masih delapan jam lagi! Mau dipakai untuk apa? 

In the end,  kami memutuskan untuk NGE-MALL saudara-saudara! 
Ya, maklumlah, wanita.

"Jauh-jauh ke Kediri cuma buat nge-Mall? Hello?", kata salah seorang teman saya di tab mention. Waktu itu saya masih sempat check-in di foursquare, dan meng-update status di twitter. Maklum, anak sosmed sejati #halah.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan mall di pusat kota. Yang ternyata, letaknya tak jauh dari Stasiun Kediri. Sesampainya di mall, mama berubah jadi sehat! OMG, emak-emak dimana-mana sama aja. 

"Eh, Mbak. Itu ada bantal leher yang kayak dipakai  artis-artis  gitu di TV. Mereka biasanya pake itu di mobil, kalau capek selesai syuting", kata mama sambil berbinar-binar.

"Eh iya ya, Ma? Banyak banget pula itu modelnya. Lucu-lucu", jawab saya dengan bersemangat pula.

Selesai muter sana-sini, akhirnya mama memilih bantal leher berbentuk doraemon. Alasannya, ya karena mama tahu kalau saya suka doraemon. Dengan jumawa, saya membawa bantal doraemon itu ke kasir.  Sampai akhirnya saya melihat bantal lain, dengan  motif animal print berwarna-warni.

Akhirnya mama pun setuju. Kami mengganti bantal leher doraemon, dengan bantal leher bermotif animal print di meja kasir. Saya tahu mama hobi mengoleksi benda bermotif animal print, dan saya  pikir, mama yang lebih membutuhkan bantal itu untuk tidur di kereta nanti malam.

Senja-pun tiba. Masih dua jam lagi sampai kereta Brantas yang akan membawa kami pulang ke Semarang, tiba. Kami pergi ke stasiun menggunakan becak. Saya dan mama duduk di bangku pojok stasiun. Menikmati nasi ayam Mc'Donalds yang kami bungkus di Mall tadi. 

Waktu menunjukkan pukul delapan. Brantas dan Matarmaja ternyata sama saja. Ya maklum, sama-sama kereta ekonomi AC. Sama-sama sebangku untuk bertiga, sama-sama lutut bertemu lutut. "Ya, dinikmati saja", saya masih teringat kata-kata mama. 

Sesampainya di tempat duduk, buru-buru saya mengeluarkan bantal dari bungkusan plastik. 
"Ini bantalnya Mama", kata saya.
"Udah, mama bisa tidur kok tanpa bantal. Udah itu buat Mbak Dea aja",kata beliau.
"Tapi kan...", kata saya.

Begitulah pengorbanan seorang Mama untuk anaknya. Rela bersakit-sakit, berlelah-lelah, untuk kebahagiaan anak mereka. Sudah siapkah anda, wahai calon ibu/calon ayah untuk berkorban? Ataukah anda masih egois dengan diri anda sendiri? Tak masalah, waktu dan kondisi akan mengubah pola pikir anda, sedikit demi sedikit.



4 comments:

Darimu dan Untukmu

19.47 Dea Maesita 0 Comments

#DAY5 ~ ALQURAN

Selamat malam! :)
Pikiran dan hati saya agak kacau ketika akan menulis postingan ini. Sebuah lagu kenangan, dan mimpi buruk tentang seseorang di sore tadi, masih berpengaruh di otak saya. Sempat berpikiran untuk bolos menulis postingan hari ini, namun rasanya sayang. Dimana komitmenmu gadis Leo? Dan saya pun mulai mengetik kalimat-kalimat ini.

***

Lagi-lagi di postingan kali ini, saya akan bercerita tentang benda yang saya punya sejak masa kecil saya, yang masih tersimpan sampai sekarang. 

Setelah sempat lahir dan mencicipi masa kecil di Semarang, dengan rumah sewaan dan pemukiman kota yang padat, akhirnya keluarga saya pindah ke rumah kakek dan nenek yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Saya sendiri tak ingat pada umur berapa saya mulai tinggal disitu. Mungkin sekitar umur 3,5 sampai 4 tahun. 

Seperti julukannya, Kudus adalah kabupaten yang masyarakatnya sangat menjunjung norma-norma religi. Tak ayal memang, karena dua dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa, tinggal di Kudus. Yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Rumah Kakek terletak di sebuah pedesaan. Sekitar dua puluh menit dari pusat kota jika menggunakan kendaraan bermotor. Halamannya sangat luas. Ada tiga buah kolam ikan yang besar-besar, satu buah lapangan bulutangkis, dan berjenis-jenis pohon buah-buahan tumbuh disana. Di seberang pagar, ada masjid sederhana ber-cat warna  putih yang ramai dengan anak-anak di setiap siang dan sore hari.

Saya ingat, pada umur-umur itu (Antara 3,5-4 tahun), saya mulai belajar mengaji. Orang yang pertama kali mengajarkan saya mengaji adalah kakek saya. Kebetulan, beliau adalah mantan guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Selain itu, mama sibuk bekerja sedari pagi sampai sore hari. Sedangkan papa saya tidak bisa mengaji. Walhasil, saya rutin belajar mengaji dengan kakek saya, setiap selesai shalat maghrib. 

Alquran ini adalah saksi mata kenangan saya sewaktu belajar mengaji dengan beliau. Berawal dari huruf hijaiyah (Alif, ba, ta, tsa, dst ...), beliau dengan umurnya yang sudah tak muda lagi, mengajari saya dengan sangat sabar. 

Dulu, Alquran ini bentuknya masih bagus, tidak seperti ini (tentunya). Cover bukunya yang kokoh, kini telah mulai robek disana-sini karena saya bawa kemanapun saya pindah rumah/pindah kost. Covernya yang berkilau karena dilapisi dengan tinta-tinta emas, kini telah memudar, meskipun masih berbekas sedikit-sedikit pada beberapa bagiannya. 




Oya, saya lupa bercerita bahwa kakek saya ini sudah mempunyai titel "almarhum" di belakang namanya. Kakek telah berpulang pada tanggal 1 Februari, 2 tahun yang lalu. 

Beliau telah mengajarkan saya membaca ayat-ayat suci yang diturunkan oleh Allah. Dan sekarang giliran saya untuk membalas budi beliau dengan rajin mengirimkan ayat-ayat suci ini, untuk ketenteraman hidup beliau di alam kubur. Mungkin bukan hanya untuk beliau, tapi juga untuk almarhum/almarhumah keluarga saya yang lain. Subhanallah, ini adalah contoh, betapa bermanfaatnya berbagi ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. 

Darimu, dan untukmu, Kakek. Ayat-ayat suci ini kupelajari.
Dari-Mu, dan untuk-Mu, Tuhan. Kitab suci-Mu inilah, arah hidup saya berpedoman.


0 comments:

Si Pipi Tembam

21.21 Dea Maesita 0 Comments

#DAY4 ~ CHIBI!



Chibi?
What's in your mind when you hear/see that word?

Kalau kamu termasuk anak jaman sekarang, kalau denger kata "chibi" pasti yang kebayang adalah girlband Cherybelle dengan gaya chibi-chibi nya itu.
Tapi, kalau kamu termasuk generasi 90-an, tiap denger kata "chibi", keingetnya pasti sama gadis mungil nan riang ini, ya kan, ya dong? :D

Topi kuningnya
Tas selempang merahnya
Sepatu balet merahnya
Setelan seragam merah-putihnya
Emmm.. masih ingat?

Kartun berdurasi 30 menit per-episode nya itu pernah menghiasi masa kanak-kanak saya di setiap Minggu pagi. Nggak tanggung-tanggung, jam tayangnya itu loh, pagi-pagi sekali, seinget saya sih pukul 06.30 WIB. 
Ceritanya yang mengisahkan tentang kehidupan anak-anak sekolah dasar, dengan kepolosan  dan tingkah laku yang bikin gemes itu masih membekas di ingatan saya sampai sekarang.

Diadaptasi dari komik yang dikarang oleh Momoko Sakura (Sumber: wikipedia), episode demi episode kartun Chibi Maruko Chan itu selalu menghadirkan cerita yang sederhana, namun konyol, dan terkadang mengharukan. Setelah sukses dengan ber-episode-episode film kartunnya, beberapa tahun yang lalu, muncullah versi human-life-movienya yang nggak kalah menggemaskan.

Entahlah, saya  selalu suka kartun Jepang dengan cerita yang sederhana  seperti ini. Cerita yang menggambarkan keseharian dunia anak-anak di sekolah, lingkungan bermain, dan di dalam keluarga, selalu menarik untuk disimak, seperti Kobo-Chan, Crayon Shin-Chan, dan Atashinchi. 
Do you agree? 

Dari situ kita dapat belajar bahwa kita hidup bersama teman-teman, tetangga, dan anggota keluarga yang berbeda-beda karakter. Mama yang bawel, Ayah yang penyayang tapi sok cuek, Kakek yang perhatian,  Nenek  yang tukang kuatir, Tamae yang pintar dan sabar menghadapi tingkah sahabatnya yang nakal, Hanawa yang kaya namun rendah hati, serta Maruo dengan jiwa pemimpinnya. 

Setidaknya kartun seperti ini lebih baik karena mengisahkan cerita nyata, ketimbang cerita yang penuh dengan imajinasi seperti Barbie, SAO, etc. Lagi-lagi ini tentang selera :)

Eh btw kok jadi cerita tentang isi filmnya ya?
Well benda ini adalah salah satu benda yang mejeng di meja belajar saya. Kalau kalian mengira bahwa ini adalah mainan, kamu salah! Sewaktu saya beli, ini adalah gantungan kunci yang berharga Rp. 5.000,00. Gantungan kunci Maruko ini saya beli di toko suvenir, ketika saya sedang mencari kado untuk adik saya yang berulangtahun. Selain itu, saya juga membeli gantungan kunci doraemon. "Ah cuma lima ribu!", pikir saya waktu itu. 

Gantungan kunci ini sempat menggantung setia dengan kunci pintu kos dan kunci kamar saya. Mungkin dia lelah, telah menggantung selama bertahun-tahun dengan kunci-kunci saya. Akhirnya dia meloloskan diri dari gantungan alumunium yang mengekangnya. Beruntungnya, dia meloloskan dirinya ketika di kamar, bukan di jalan raya. Kalau di jalan raya, mungkin saya  tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Akhirnya saya menggantinya dengan gantungan kunci yang lain dan membiarkannya beristirahat di meja belajar sampai sekarang. 

0 comments:

Mixtape dan Kisah Manisnya

19.58 Dea Maesita 4 Comments

#DAY2 - TAPE RECORDER


Sometimes, kegalauan bisa berasal dari hal yang sederhana, termasuk ketika saya tidak bisa mengingat, benda yang akan saya tulis ini namanya apa. Saya berpikir beberapa menit sebelum menulis tulisan ini. "Eh, namanya apa ya? Tape recorder bukan sih? Ah, iyain aja deh daripada kelamaan". Dan dialog random antar beberapa sel memori di otak ini akhirnya berdamai. Saya pun melanjutkan menulis.

Benda hitam mungil dan usang ini sebenarnya bukan milik saya. Tape recorder ini adalah milik kakak sepupu saya (almarhumah) yang meninggal pada tahun 2004. Dia, meninggal muda pada usianya yang menginjak 30 tahun. Saya bisa menyebutnya muda karena dia belum menikah sampai ajal menghentikan nafasnya. Sebuah penyakit langka bernama Lupus, secara tiba-tiba menyerangnya. Dia meninggal beberapa bulan setelah pertama kali didiagnosis menderita penyakit itu oleh sang dokter.

Oya, tape recorder itu-pun sebenarnya bukan miliknya. Lalu? Tape recorder itu adalah aset milik sekolah. Saat itu, dia menjabat sebagai kepala sekolah di Taman Pendidikan Al-quran. Karena dia khawatir kalau-kalau tape recorder hilang jika disimpan di sekolah, maka dia menyimpan tape recorder itu di rumah. Sejak kelas lima Sekolah Dasar, saya tidur di kamarnya. Sampai pada akhirnya dia jatuh sakit, ketika saya duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Itu artinya, saya sudah tidur satu kamar dengannya selama tiga tahun, meskipun kami bukanlah saudara kandung, melainkan hanya sepupu.

Tape recorder itu disimpan rapi olehnya di laci lemari, sampai akhirnya saya menemukannya. Maklum, pada waktu itu saya masih berumur sepuluh tahun, masih iseng dan jahil-jahilnya. Ketika masih bersama dia, saya jarang menggunakannya. Paling-paling hanya untuk mendengarkan kaset lagu-lagu islami milik Hadad Alwi featuring Sulis, yang memang sangat populer ketika waktu itu. Barulah ketika dia meninggal, setiap hari saya menggunakan tape recorder itu. Pagi, siang, sore, maupun malam.

Beberapa saat setelah dia meninggal, saya memutuskan untuk pindah kamar dan juga pindah rumah. Setelah selama tiga tahun saya menginap di rumahnya, saya pindah ke rumah saya sendiri (rumah orangtua saya maksudnya). Dan salah satu barang yang saya bawa ketika saya pindah krumah adalah tape recorder itu. Sebenarnya agak nggak enak hati sih, karena tape recorder itu bukanlah milik saya. Tapi, lhawong namanya anak-anak, dengan cuek saja saya membawanya pergi, hehe.

Jauh sebelum mixtape online seperti di website www.8tracks.com ataupun www.everyonesmixtape.com, saya pernah mengalami masa-masa merekam mixtape manual dengan menggunakan tape recorder itu. Ya, tape recorder dengan merk dan tipe itu memang biasanya dipakai oleh wartawan-wartawan media massa untuk merekam liputan berita. Berbeda dengan saya. Saya menggunakannya untuk membuat mixtape!

Kalau selai adalah jodohnya roti, dan semir sepatu adalah jodohnya sepatu, maka jodoh dari tape recorder ini adalah "Kaset Kosong". Dulu saya sering membeli kaset kosong di toko kaset yang letaknya di dalam pasar tradisional. Saya lupa harganya berapa. Sepertinya sih antara Rp. 4.000,00 sampai5.000,00, tergantung merk-nya.

Koleksi mixtape saya, yang dulunya ada sekitar tiga kaset, hilang entah kemana dan hanya menyisakan satu kaset. Itupun sudah tidak bisa bersuara lagi ketika dimainkan. Mungkin karena dulu saya terlalu sering memutarnya, sehingga pita-pitanya aus. 

Saya merekam lagu yang saya suka dari radio. Menunggu sampai penyiar radionya selesai bersuara, dan dengan sigap saya memencet tombol "rec" (red: record), yang berwarna merah. Dan ketika lagunya sudah akan selesai, dengan sigap pula saya akan memencet tombol "stop". Terkadang saya kebablasan, sehingga ada beberapa mixtape yang akhirnya tercampur dengan suara penyiar radionya hehe. 

Setelah kapasitas kaset habis, saya akan menulis list lagu yang saya rekam di kaset itu. Satu kaset kira-kira bisa menyimpan tujuh sampai sepuluh lagu. Saya menulis judul lagu serta nama penyanyinya, di kertas dan label yang tersedia di blank casette. Voila! Mixtape-pun siap untuk dinikmati!

Dengan berbekal headset bawaan dari tape recorder itu, berulang-ulang saya memutar mixtape itu dengan sangat puas. Terkadang saya mendengarkan sambil mengerjakan PR, membaca majalah, maupun menulis diary. Oya, saya sendiri tidak begitu ingat lagu apa saja yang sudah saya rekam di mixtape-mixtape itu. Saya hanya mengingat satu lagu, yakni lagunya "Ratu" yang berjudul "Dear Diary". Saya masih mengingatnya karena saya sering menulis diary dengan mendengarkan mixtape itu. 

Sayangnya mixtape-mixtape buatan manual saya itu sudah tak bersuara. Mungkin pilihan untuk membuat mixtape online, dengan menggunakan website-website yang sudah saya sebutkan di atas tadi, bisa membuat mixtape yang lebih awet dan tahan lama. Ya, asalkan website-nya nggak tutup akun sih, hehe. Selamat bernostalgia!



4 comments:

Jutaan Debu, Milyaran Kenangan (#Day1 #CeritaDariKamar)

19.56 Dea Maesita 6 Comments

Hola! Welcome home August! 
Setelah beberapa bulan tak mengecup mesra tuts-tuts keyboard dan membiarkan blog ini penuh dengan butiran debu #tsaaaah, pada bulan ini saya akan mengubah blog ini menjadi....Jaeger! *ups*, menjadi rame postingan maksudnya!

Pernah pacaran dengan selebtwit (ya meskipun selebtwit lokal sih), yang juga ketua komunitas blogger, tak membuat saya merubah sikap. Blog saya tetep nggak keurus, meskipun dia lebih sering mengingatkan saya untuk "Jangan lupa nulis ya, Sayang. Blognya tuh diurusin", daripada ngingetin "Bobonya jangan malem-malem ya, Sayang. Jangan lupa makan, terus minum obat", pada waktu itu. Dan setelah tak bersama dia lagi, saya akan membuktikan bahwa saya... cantik! *ups*, bahwa saya jago nulis maksudnya!

Well, setelah di bulan Januari 2013 kemarin saya memeriahkan blog ini dengan ikutan project #30haribercerita, di Bulan Agustus ini saya akan memporak-porandakan dan mem-babi-buta-kan blog ini dengan ikutan project menulisnya Kakak selebtwit @benzbara_, yang bernama #CeritaDariKamar. Walaupun project kecil-kecilan (katanya), tapi saya punya keinginan besar dari project ini. Ya siapa tahu Abang kece  itu mampir memberi beberapa patah kata, ke blog saya yang sedang tumbuh menjadi remaja dewasa ini #halah (What? Remaja dewasa? Oke ini ambigu). Dan semoga, beberapa cerita saya selama 31 hari ke depan ini, menjadi cerita yang dipilih Abang Bara, untuk dibacakan di Prambors Radio Jogja, di bulan September nanti. Who know? :")

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

#DAY1 (NINT*NDO)

"123, maju! Tendang! Menghindar! Lompat! Naik ke atap! Awas selokan! Mundur! Ih, itu musuhnya tambah banyak! Agak cepet dong larinya! Nyawanya tinggal satu tuh! Maju terus pantang mundur! Yah, mati kan!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan Sang Papa saat bermain game Counter Strike

"Yak mulai! Ayo maju dek! Itu disundul batu bata-nya, nanti ada apelnya! Buruan itu apelnya dimakan, nanti hilang! Awas yang jamur itu musuhnya lho, nanti mati! Lompat, ada sungai! Habis ini masuk ke pipa! Jangan cepet-cepet larinya!", adalah dialog saya sebelas tahun yang lalu dengan adik saya yang masih berumur empat tahun, ketika bermain game Mario Bros

"Ayo tembak bebeknya! Yah, lepas kan? Itu dari sebelah kiri! Kanan, kanan, kanan! Yah dapet dikit doang, kan lumayan bebeknya bisa mama masak, hehe", adalah dialog dengan Sang Mama yang menyemangati kami bermain Duck Hunt, sambil sibuk mencuci piring di dapur.

Ada yang pernah mengalami masa-masa seperti ini?
Ya, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, adalah masa ketika anak SD dan SMP mulai sibuk bermain Nintendo di rumah, daripada bermain lompat tali di kebon sebelah. 
Masa-masa itu adalah salah satu momen yang indah bagi saya, karena dengan adanya Nintendo, keluarga kami jadi lebih akrab. Saya, Papa, dan Adik, jadi lebih sering berkumpul bersama untuk sekedar mengadu kejantanan (Ya meskipun saya perempuan), dengan bermain game Counter Strike, Billiard, ataupun Pinball (abaikan yang terakhir karena nggak jantan-jantan banget).

Pada waktu itu hampir tiap bulan Mama dan Adik jadi sering pergi ke mall. Ya buat apalagi kalau bukan untuk membeli piranti-piranti per-nintendo-an. Tangan-tangan ganas kami bertiga, membuat stik-stik nintendo menjadi tak berdaya. Maka dari itu, hampir tiap bulan, Mama jadi sering ngedumel gara-gara uang gajinya kepotong buat beli stik nintendo yang baru. Selain itu, efek dari keseringan main nintendo ini, televisi kami menjadi sering error. Walhasil, Mama memutuskan untuk membeli satu lagi televisi kecil berukuran 14 inch, khusus untuk bermain nintendo, bukan untuk yang lain. Yayy! Dan kami-pun jadi lebih sering membelai stik-stik nintendo dengan adanya televisi baru tersebut. 

Eits, itu baru efek buruknya. Efek positifnya juga ada dong! 
Entah kenapa setelah bermain nintendo, saya jadi lebih ambisius untuk berkompetisi, termasuk di dalam hal akademik. Dan untuk pertama kalinya (dan terakhir kalinya) saya mendapatkan ranking pertama di kelas pada semester pertama, ketika SMP dulu. Semua itu berkat nintendo :")

Sampai sekarang, alhamdulillah nintendo kami masih berfungsi dengan baik. Walaupun nggak pernah dibersihin dan teronggok begitu saja di kamar. Dan dengan jutaan debu yang menempel, serta sarang laba-laba yang menyelimutinya, namun kotak ajaib itu telah berhasil memberikan milyaran kenangan. 

Ketika sedang malas bermain game online yang ada di internet, saya (yang kini sudah lulus kuliah), dan adik saya (yang kini duduk di kelas  3 SMP), dengan serta merta akan meniup-niup debu yang menempel di nintendo ini, menancapkan kasetnya, dan mencolokkan kabelnya! Dan kami-pun siap bernostalgia :")




6 comments:

Malangnya Malang

22.10 Dea Maesita 6 Comments



Gasp! Pukul dua pagi kubenamkan kedua kakiku ke dalam tas punggung yang tak berisi.
"Malang emang harus selalu dingin kek gini ya?", rutukku sambil menahan kantuk. 
Pagi itu aku bangun lebih pagi dari teman-teman yang lain. Di sebuah rumah kontrakan milik seorang teman, tak jauh dari deretan kompleks universitas di Malang, kami bersepuluh membaringkan badan untuk semalam. Mereka, sembilan orang lainnya, adalah teman  sekelas saya di program speaking pada salah satu lembaga di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur.

Sometimes people travelling isn't because they want to travel. Yet, they need to travel.
Saya bukan tipe yang gampang untuk diajak bepergian, apalagi dengan orang yang belum cukup lama dikenal. Tapi, salah satu alasan itu memutuskan saya untuk berkata, "Aku ikut!". 

Empat tahun yang lalu, beberapa minggu setelah putus dengan sang (mantan) kekasih, saya pergi berlibur ke Malang bersama mama dan adik. Di sepanjang perjalanan, saya bahkan tak bisa tidur. Menangis dan terus menangis. Dan itulah pertama kalinya saya mengalami vertigo. Lebay memang, haha. Maklum, remaja yang baru lulus SMA :D
Dan kini, satu hari setelah putus (dengan orang yang lain, tentunya), lagi-lagi ada yang ngajak liburan ke Malang! Ini pasti konspirasi alien yang turun ke bumi! Bedanya, setelah putus kali ini, nggak ada lagi tangisan alay berhari-hari sampai kena vertigo. Mungkin ini hanya masalah kedewasaan. *calmdown*

Well, the conclusion are.. 
Malang mungkin tempat yang tepat bagi orang yang malang (untuk sementara). Dan bukan menjadikan orang yang malang, menjadi malang lagi, ketika kembali ke kota asalnya. Duh, malangnya Malang kalau hanya dijadikan sebagai tempat untuk melepaskan kemalangan.

Mau nggak mau saya perlu berterimakasih kepada wahana Pendulum 360 derajat di Jatimpark1 yang berhasil membuat saya nangis, setelah hari-hari sebelumnya saya nggak bisa nangis!


Source : jatimpark1.com

6 comments:

Mem(BRANTAS) Jarak

21.42 Dea Maesita 4 Comments

Kereta Brantas tengah malam. Tak usah kuatir, aku tak sendirian. Aku ditemani rindu-rindu dan pikiranku yang menggelayut tak menentu. Sepuluh stasiun lagi aku tiba. Tiba di persinggahan yang membuat jarak menjadi sebuah kutukan. Aku lemah pada jarak. "Ber-ribu aplikasi di ponsel yang ku-punya, tak akan ada artinya", pikirku. Dan kamu berkata, "Kita harus bisa memanfaatkan teknologi yang ada". Dari situ saja aku sudah dapat menyimpulkan bahwa kita berbeda.

Aku memang payah. Saat ini yang hanya bisa kuucapkan adalah kata terserah. Sementara itu kereta terus melaju. Meluncur dan bergetar, tak menghiraukan kerikil besar yang ada dihadapannya. Sebagian tertidur, sebagian menerawang, sebagian mengingat-ingat. Ah, entah bagaiamana cara kerja otak ketika jiwa sedang meredup. Terpecah-pecah. Tersekat-sekat. Terinjak-injak.

Malam ini aku tertidur berselimut melankolia yang tebal dan hangat, berbantalkan rindu dan cemburu yang tak usai menderu. Di kereta nomor lima, dan bangku nomor B-3 ini, aku tetap menggigil. Membayangkan apa yang terlalu dini untuk dibayangkan. Mengkhawatirkan apa yang seharusnya tak dikhawatirkan. 

Hidup bukan hanya perkara bertahan, tapi juga memperjuangkan. Kalau bertahan saja tak bisa, apakah kita bisa memperjuangkan?

If you missed the train i’m on
At least you know that i’m gone
And you can hear the whistle’s blown
A thousand miles away from home
If you missed the train i’m on
At least you know that i’m gone
The loco head on, the loco head on
The loco head on to the show
I will jump off my train
Dry my blood in my vein
But now we’ve found the end
I wish you
I hope you know what I do
Please carry me away
But it’s not today
I wish you
I hope you know what I do
Don’t believe what they say
Cause it’s not today
Early express for you
...



Late Post. Seharusnya ditulis tanggal 13 Mei 2013 :) Semarang-Kediri

4 comments:

Promosi Tempat Wisata melalui Penulisan Skripsi

15.27 Dea Maesita 0 Comments

"Tujuan skripsi itu buat apa sih? Kenapa harus ada skripsi? Kenapa, kenapa?!!"

Flashback.


Beberapa bulan yang lalu pertanyaan itu masih membumbung di pikiran kami. Sebuah diskusi antara beberapa orang mahasiswi tingkat akhir di linimasa twitter pada dini hari. Bukan, kami bukan sedang mengeluh. Hanya saja belum menemukan jawaban tentang apa pentingnya penulisan skripsi atau tugas akhir. Tidak ada pertanyaan yang diciptakan untuk tidak dicari jawabannya. Bulan April kemarin, saya telah menemukan jawabannya. 

Saya senang bertemu dengan orang baru, berbasa-basi, dan kemudian pergi. Ada hari dimana saya banyak bertemu dengan orang baru, dan ada pula hari dimana saya memilih berdiam diri tanpa bertemu siapapun. Pertanyaan basa-basi itupun seringkali menjemukan, namun akhir-akhir ini tidak. Kalau dahulu hanya ditanya, "Kuliah dimana, Mbak?" Sekarang pertanyaan itu meluas, menjadi diskusi agak panjang diantara kami,  'makhluk satu kali tatap'. Alat transportasi umum, warung makan, dan tempat umum lainnya adalah tempat dimana pertanyaan itu sering ditujukan. "Oh baru lulus kuliah ya? Di jurusan apa? Kemarin ambil skripsi tentang apa?". Lalu saya akan dengan lancar menjawab, "Skripsi saya tentang strategi pengembangan pariwisata di Kabupaten Kudus. Kebetulan ada objek wisata baru, namanya Situs Purbakala Patiayam. Nggak kalah lho sama Sangiran". Selalu saja begitu, dan entah sudah berapa orang yang kemudian tahu mengenai objek wisata yang saya jadikan fokus penelitian skripsi itu.

"Saya kemarin habis main ke Situs Patiayam lho", kata Dosen Pembimbing skripsi saya pada suatu hari. 
"Oh ya, Bu? Kok endak bilang-bilang?"
"Nggak sengaja, kebetulan saya mau ke Pati, lewat pantura. Terus penasaran, sekalian aja ke sana, biar tahu".
"Oooh"

"Memangnya Kudus punya tempat wisata?", kata salah seorang dosen (kebetulan bukan dosen pembimbing) pada sebuah pertemuan. JLEB!!! Saya berusaha untuk memasang muka kalem walaupun di dalam hati  sedikit tersinggung. Setelah menjelaskan ini itu, dan saya pun berhasil membuat dosen itu "penasaran". Yayy *ketawajahat* !

Di kampus kami, FISIP, setiap mahasiswa harus menyerahkan satu bandel skripsi untuk kemudian ditaruh di perpustakaan. Di ruangan khusus tersebut, nantinya skripsi-skripsi kami, akan menjadi bahan referensi dan pandangan bagi adik-adik angkatan. Nggak kebayang kalau misal skripsi saya dilihat oleh ratusan adik-adik angkatan. Itu artinya... ber-ratus-ratus pula yang semakin tahu mengenai potensi Situs Patiayam. Belum lagi, ketika menjalani interview kerja, biasanya pewawancara akan menanyakan tentang skripsi yang kita buat. 

Oh, jadi ini manfaatnya skripsi saya? :) 




0 comments:

Ini Hanya Masalah Tinggi Badan, di Trans Semarang

08.36 Dea Maesita 8 Comments

"Tinggi banget ya, kasihan yang nggak dapet tempat duduk", kata seorang perempuan di  sebuah gerombolan penumpang. Saya menoleh. Saat itu saya sedang naik Bus Trans Semarang Koridor 2 menuju Terminal Terboyo. Segerombolan anak muda yang naik dari shelter Jalan Pemuda itu nampak menonjol dibandingkan dengan penumpang lain yang anteng-anteng saja. Muda-mudi dari Jakarta agaknya, dengan sapaan "Lo-Gue" yang beberapa kali terlontar dari mulut mereka. Gerombolan yang terdiri dari lima orang; perempuan dan laki-laki itu akhirnya turun di shelter Stasiun Tawang. 

"Bagaimana Kak pendapatnya?", tanya Mbak-mbak yang bertugas menarik karcis ketika mereka hendak turun.
"Jauh sih nyamannya. Lebih nyaman ini dari Trans Jakarta".
"Iya, lebih homy, lebih nyaman", timpal yang lain.
"Makasih ya Mbak atas tumpangannya", seru mereka sambil meninggalkan bus yang kami tumpangi.
Saya, yang ketika itu duduk di dekat pintu, masih menyimpan pertanyaan. Apa betul handle (gantungan yang diperuntukkan untuk penumpang yang tidak dapat tempat duduk) ini terlalu tinggi?

Minggu demi minggu, sampai dengan saat ini, sudah terhitung puluhan kali saya naik bus Trans Semarang Koridor 2 ini. Ya, saya memang penikmat alat transportasi publik seminggu sekali, diantara keseharian saya yang menggunakan kendaraan matic ber-roda dua. Masih teringat ketika saya, pada waktu itu pernah menjadi penumpang satu-satunya di bus Trans Semarang ini. Saat itu, bus ini baru saja sekitar tiga bulan diluncurkan.

Mumpung hanya ada pak supir dan mas-mas petugas karcis, akhirnya saya putuskan untuk mengambil beberapa gambar. 

Bagian depan Bus Trans Semarang  (gambar diambil dari Belakang)


Bagian paling belakang Bus yang lebih tinggi.
Tempat duduk favorit saya, karena dapat melihat pemandangan dari jendela.


Pintu darurat, terletak di sisi kanan bus.


Biarpun bepergian, tetap menjaga kebersihan dong! :)

Dan ini dia... handle yang disediakan bagi penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Times change! Semakin kesini, semakin banyak warga Kota Semarang maupun para pendatang yang memilih untuk menggunakan bus ini, dibandingkan menggunakan bus mini yang juga melewati rute yang nyaris sama. Seringkali saya harus berdesak-desakan dengan penumpang lain. Di setiap shelter selalu ada penumpang yang naik, tapi sedikit penumpang yang turun. Shelter Transit-an di Jalan Pemuda, adalah shelter paling tak terduga dan sering memberikan kejutan. Di shelter tersebut, penumpang dapat turun, untuk melakukan transit, dan menaiki bus Trans Semarang koridor 1 jurusan Mangkang-Penggaron. Bus bisa jadi mendadak kosong karena banyak penumpang yang turun di shelter tersebut. Namun, satu menit kemudian... JENG JENG JENG!!! Bus kembali penuh!


Full bus! (taken: 9 April 2013)
Siang kemarin, untuk pertama kalinya saya tidak mendapatkan tempat  duduk, dan mau tidak mau harus berdiri bersama penumpang yang lain. Oke, mari kita buktikan pernyataan segerombolan anak muda Jakarta, bahwa handle di bus ini terlalu tinggi.

Kebetulan saya tidak sendirian, siang itu saya naik bus ini bersama seorang teman saya, Elia. Tinggi badan kami tak jauh beda, nyaris mendekati 165 cm. Tak terlalu pendek untuk ukuran seorang perempuan, menurut saya. Tapi alamak, bus baru berjalan beberapa menit, tangan saya pegal tak karuan. Ketika memegang handle itu untuk mempertahankan diri agar tak jatuh, tangan saya lurus, tak ada tekukan sama sekali, yang menandakan bahwa handle itu cukup tinggi. Belum lagi jalanan kota Semarang yang naik turun dan berkelok-kelok, menuntut keseimbangan badan agar fleksibel bergerak mengikuti kontur jalan. Seringkali saya oleng kanan dan ke kiri, dan cukup mengganggu penumpang yang lain hehehe. Bapak supirnya pun cukup kencang mengendarainya. Beberapa kali saya harus maju dan mundur beberapa langkah, ketika bus tiba-tiba mengerem mendadak.

Entahlah, untuk menyediakan alat transportasi publik, tentunya  pemerintah sudah mempunyai perencanaan dan standar-standar yang diukur untuk memberikan kenyamanan kepada penumpangnya. Dan pasti, segala interior dan fasilitas yang ada di alat transportasi ini tentunya sudah diperkirakan dengan matang. Ini mungkin dapat disesuaikan dengan kondisi. Saya sendiri tak terlalu mengeluh,  namun bagaimana jika penumpang bus ini tak memiliki tinggi badan yang cukup? Pasti akan sangat menyiksa. Ini adalah pendapat saya pribadi, bukan untuk menjelekkan apa yang sudah ada. Saya akan tetap menjadi  penikmat bus ini, selama saya masih tinggal di Kota Semarang. Banyak kejadian menarik yang selalu saya temukan ketika menaiki bus ini.

So, sudahkah anda cukup tinggi, cukup mental, cukup sehat, dan cukup sabar untuk bergelantungan di alat transportasi publik yang penuh sesak? :)

8 comments: