Hujan yang Sama, Nasib Berbeda

21.00 Dea Maesita 2 Comments


Jendelaku sudah tak dingin lagi,
padahal hujan deras baru saja mengguyur petang tadi.

Mungkin jaring laba-laba itu menghalanginya,
atau bisa jadi oleh debu yang menggumpal di kaca jendela.

Tunggu tunggu.
Mungkin bumi sedang demam.

Bahkan hujan yang dingin, tak mampu lagi membuat penghuninya merasakan sejuknya tetesan air berkah yang diturunkan Tuhan.

Atau,
kulit-kulit manusia ini semakin tebal oleh lemak yang dipupuknya?

Sementara itu, di belahan dunia yang lain.

Oke, mungkin agak kejauhan.

Mungkin di sudut kota yang lain, seorang bapak sedang menambal tembok rumahnya dengan kardus bekas agar bayinya tak terbangun karena derasnya hujan.

Mungkin ada puluhan ibu yang sedang was-was karena takut rumahnya terendam air rob yang akan datang di tengah malam.

Dan mungkin, sedang ada anak yang bermimpi untuk meminum segelas susu coklat hangat di dalam tidur lelapnya.

:’)







You Might Also Like

2 komentar:

  1. yg bisa dipetik dr coretan coretan diatas,,intinya kita harus bisa /praktek mensyukuri apa yg ada,,semua karunia dr Tuhan dengan lapang dada wlopun itu hal yg sulit kadang2. bisa merasakan indahnya Anugerah Tuhan saat kita kekurangan dan sendiri tanpa ada yg membantu,,hal paling simple,,,,kita baru bisa ngrasain giman nikmatnya membantu saat kita butuh bantuan dr orang,,saya sering ngrasain itu :) dan mudah2an kita termasuk orang2 yg seperti itu amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul :) Bersyukur dan bukan takabur.
      Dan senantiasa ingat kalau hal apa yang kita nikmati sekarang, belum tentu akan kita nikmati untuk selamanya. Dan belajar memikirkan nasib orang lain disamping nasib kita sendiri

      Hapus