Cerpen Horor Pertamaku

08.51 Dea Maesita 7 Comments


Gara-gara efek twitter, akhir-akhir ini aku jadi sering melek malem. Daripada nggak ada kerjaan, biasanya sih aku ikutan nulis flash fiction kayak @fiksimini ataupun @hororhore. Dan memang, seringnya kontes menulis mini-minian itu adanya ya pas tengah malem. Mungkin karena inspirasi buat penulis itu datengnya pas tengah malem kali ya.
Kalau fiksimini, aku sih nggak begitu jago sebenernya. Udah meres otak sampe segimanapun juga hasil tulisanku kayak gitu-gitu aja. Aku sih lebih suka nulis di hororhore. Flashfiction yang mengusung tajuk : bergidik dalam tiga detik ini, sepertinya lebih pas kalo buat orang seperti aku yang lebih suka baca novel ber-genre misteri dan psikologi kayak serial Hannibal Lecter-nya Thomas Harris. Awalnya sih pertama kali baca novelnya Thomas Harris waktu jaman kelas 2 SMA di perpustakaan sekolah judulnya Red Dragon, dan sejak saat itu aku jadi suka sama jalan cerita sang psikopat yang misterius. Asal bisa bawa diri aja deh, jangan sampe masuk ke dalam ceritanya dan berubah menjadi psikopat beneran :D Oya founder hororhore ini orang Semarang loh, yaitu Mas Garna Raditja.
Lagi suka-sukanya nulis genre horror, eh ternyata @Kancutkeblenger, komunitas blogger yang didirikan oleh Kak Irvina Lioni ini ternyata agi bikin kontes nulis juga. Sebenernya sih kontes nulisnya udah ditutup awal November kemarin. Tapi berhubung yang nulis genre horror, friendship, sama family masih dikit, akhirnya kontesnya diperpanjang sampe 10 November :D lucky me.. Ini cerpen horror pertamaku. Hehehe. Maaf yaa kalo aneh :P Selamat membacaa!

Attention! Latar dan tokoh di cerita ini adalah fiksi belaka. Tempat dan cerita kejadian bukanlah merupakan suatu legenda. Sebelum membaca, disarankan membaca bismillah, ambil nafas yang panjaaaang daaaaan yak! Lomba dayung segera dimulai! Selamat menikmati alur seram cerita ini. Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!

Sneak a Peak :


FESTIVAL DAYUNG YANG MENGASYIKKAN
“Selamat Datang di Festival Dayung Telogo Jiwo Tahun 2012”. Sebuah spanduk besar terpampang di gapura desa yang berhawa dingin di ujung utara Jawa Tengah. Di desa itu, festival dayung diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Lomba dayung tahunan itu dilaksanakan pada malam satu suro. Malam yang dikenal sebagai malam keramat, terutama bagi masyarakat Jawa. Namun, karena sudah dilaksanakan secara turun-temurun dari tahun ke tahun, acara ini pun tetap terlaksana, meskipun seringkali dalam pelaksanaannya banyak kejadian aneh yang meliputinya.
Danau Telogo Jiwo adalah tempat untuk melaksanakan festival ini. Meskipun letaknya yang terpencil dan akses jalannya sulit untuk dilalui, puluhan tim selalu antusias untuk mengayuh dayung di danau ini. Terletak di kawasan Gunung Muria, salah satu dataran tinggi di Karesidenan Pati, hawa seram dan mistis pun kerap kali hadir menyelimuti peserta lomba. Bagaimana tidak? Di danau Telogo Jiwo itu, dulunya terdapat sebuah cerita horor yang sampai saat ini masih dipercaya. Danau buatan ini dulunya dibangun oleh Pemerintah Belanda pada awal tahun 60-an, ketika kawasan ini dilanda bencana kekeringan. Kabarnya, banyak pekerja yang meninggal pada saat proses pembuatan danau ini. Selain itu, ada pula yang meninggal pada saat mengikuti lomba dayung. Aku pun tak menghiraukan cerita itu sampai pada suatu ketika, Kakekku sendiri yang menceritakannya.
Ati-ati yo Nang, ning telogo kuwi, mbiyen ono bocah lanang sing mati goro-goro melu lomban dayung. Kowe ning kono ora usah macem-macem”, Pesan Kakekku dengan nada khawatir. Yang artinya: “Hati-hati ya Nak, di telaga itu, dulunya ada anak laki-laki yang mati gara-gara ikut lomba dayung”.
“Ah, tenang saja Kek. Aku akan baik-baik saja”, kataku dengan lantang.
“Oh iya Kek. Aku disini jadi kapten tim. Doakan menang ya?”, tambahku.
Mendengar kata kapten tim, tampaknya semakin bertambah rasa khawatir kakek. Ada cerita yang masih disembunyikan tanpa aku harus tahu. “Mungkin kakek hanya tak mau aku merasa takut sebelum aku menyelesaikan lomba ini”, hiburku dalam hati.
Sore itu aku berangkat dengan tim dari SMA Harapan Bangsa dengan menggunakan bus sekolah. Setelah tiba, bus kami diparkir di halaman balai desa setempat. Memang danau itu hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Itupun gelap gulita karena tak ada lampu penerangan jalan. Semak belukar dan tanah yang licin karena hujan semakin menyulitkan kami untuk mencapai lokasi dengan tepat waktu. Belum-belum kami sudah ketakutan karena kabut sisa hujan seharian semakin menebal. Aryo dan Dimas, anggota timku yang paling penakut pun dibuat merinding oleh suasana horor ini. “Lang, pulang aja yuk. Aku kebelet pipis nih”, rengek Aryo. “Iya Lang, aku juga nih. Ngeri banget sih tempatnya. Tau gini aku nggak usah ikut deh hiiii”, tambah Dimas. Akupun yakin, sebenarnya kami bertujuh ini semuanya ketakutan, tapi sebagai kapten tim, tentu saja aku ber-akting seakan-akan tak takut apa-apa.
Tiba-tiba, gubrakkk! Dino yang bertubuh gembul jatuh tersungkur. “Hati-hati dong makanya. Jelas-jelas ada batu. Kok masih aja ditendang? Bikin kaget aja kamu!”,bentak Aryo. “Eh tung-gu tung-gu tte te-man ttte-man”, kata Dimas dengan terbata-bata. “Iiii tu, i-tu bbu bukan bba bba-tu, ta tta-pi, kke ke-pa kke-pa-la”, sambung Dimas. “Hah? Kepala?!”, kami ber-enam kompak ternganga. Sontak kami berlari gonjang-ganjing tanpa memerdulikan semak belukar yang ada. Dan kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan dengan lengkap, meski tetap dihantui oleh perasaan takut setelah perjalanan mengerikan tadi.
Acara diawali dengan ritual doa bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Bupati. Baru setelah itu, lomba dayung dimulai. Kami pun bersiap dengan kaos berwarna merah dengan tulisan “Harapan Jaya” di belakangnya. Iya, itulah seragam kebanggaan tim kami. Aku dan timku sudah bersiap sejak semenit yang lalu di atas perahu kayuh yang dibuat sederhana dari kayu, beserta dayung yang juga terbuat dari kayu, masing-masing di tangan. Sayup-sayup kudengar Bapak Bupati meneriakkan kata-kata motivasi, dan yak! Suasana menjadi gelap!Llistriknya mati Saudara-saudara!
Penonton lomba yang didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak perempuan pun menjerit-jerit ketika acara yang tadinya terang benderang oleh lampu-lampu warna-warni, mendadak menjadi gelap gulita.”Hidupkan gensetnya!!!”,seru Pak Bupati kepada panitia lomba. Aku dan timku yang sudah siap di atas perahu-pun saling berpegangan dan mengucap doa sekedarnya. “Tuhan, kejadian apa lagi ini yang akan terjadi?”,rintih Dino yang masih terbayang-bayang ketika tersandung oleh hantu kepala misterius tadi.
Sepuluh menit kemudian, genset berhasil dinyalakan. Lampu hias warna-warni pun mulai berpendar kembali, menerangi di setiap sudut area lomba. Hanya panggung tempat Bapak Bupati berpidato lah yang nampak agak berbeda. Lampu neon berukuran satu meter sebanyak tiga buah itu berhasil membuat pria nomor satu di Kabupaten ini tampak paling mencolok. “Alhamdulillah”,seruku mengucapkan syukur ketika lampu kembali menyala. “Ayo kita bersiap Super Team!”,aku mencoba untuk menyemangati teman-teman setimku. “Iya”,jawab mereka. “Hei kenapa lemas sekali? Seperti bukan manusia saja kalian ini! Ayo semangat dong!”,seruku kembali.
Aku tak terlalu menghiraukan mereka dan berfokus untuk mendengarkan aba-aba Bapak Bupati dari kejauhan. “Sial. Kenapa kita dapat jatah yang paling pinggir ya?”,rutukku.  “Bersiaaaap. Satu, dua, tiga, yak!”,suara lelaki tua itu terdengar jelas di telingaku. Dan kemudian suara kanan!, kiri!, kanan!, kiri!, mulai diteriakkan oleh masing-masing tim untuk mensinkronkan gerakan antara pendayung yang ada di sebelah kanan dengan pendayung di sebelah kiri. Suara riuh penonton yang menyemangati membuatku semakin bersemangat.
Tak terasa perahu kami sudah melewati batas seperempat danau. Itu artinya, tinggal tiga perempat perjalanan lagi dan tim kami akan sampai di garis finish. Karena penasaran, kutengok tim-tim yang lain. “Ternyata tim kita berada di urutan paling depan teman-teman”,sontakku girang. “Ayo lebih kencang lagi mendayungnya!”,seruku kepada mereka. “Aku bahkan tak tahu lagi tangan kiriku hilang dimana”,kudengar sepertinya Dimas yang mengatakan hal itu dengan mulut yang menggumam. “Ah jangan bercanda di saat yang seperti ini kamu Dim”,kataku sambil tak menghiraukannya.
Ketika separuh perjalanan terlampaui, aku baru menyadari bahwa teman-temanku telah berganti kostum. Maklum, sebagai kapten tim, aku berada di ujung depan perahu. Dan keenam anggota tim berada di belakangku. Dan ketika aku menengok, “Lho, kok kalian pakai seragam yang warna hijau? Bukannya tadi kita pakai yang warna merah ya?”,tanyaku kepada mereka. “Dan.. dan kenapa seragam kalian bertuliskan SMA Unggul Jaya? Bukan Harapan Jaya?”,tanyaku semakin mencurigai mereka. “Ah ini..tadi seragam kami basah ketika sebelum mulai lomba. Jadi kami pinjam kostum saja ke tim yang lain”, kata salah satu diantara mereka. “Ooh, begitu tho”,akupun lega mendengar penjelasan mereka.
Hawa dingin dan seram mulai menyergapku, dan tiba-tiba terdengar suara laki-laki paruh baya yang merintih seakan meminta pertolongan. “Tolong aku Mas. Tolong aku”. Suaranya berasal dari belakang punggungku. Dengan memberanikan diri, aku menengok ke belakang. Dan ternyata, yang tadinya perahu ini kami naiki bertujuh, sekarang tidak ada siapa-siapa melainkan aku sendirian di atasnya. “Jadi tadi itu?! Aaaaaa!”,aku berteriak ketakutan. Tim lain pun menghentikan perahunya ketika mendengarku berteriak.
            Dari kejauhan kulihat penonton dan teman-teman setimku meneriaki-ku dari garis start. Ternyata teman-temanku masih ada disana, mengenakan seragam tim berwarna merah. Dan barulah aku menyadari kalau sedari tadi, aku mendayung bersama tim Unggul Jaya. Tim yang kabarnya tewas karena tenggelam ketika mengikuti lomba ini sekitar puluhan tahun yang lalu. Aku pun semakin bergidik ngeri. Kemudian datanglah kapal boats menjemputku di tengah-tengah danau, meninggalkan perahu kayu beserta dayung-dayungnya disana. Sesampainya di daratan, kupeluk teman-teman beserta guru pendampingku satu per satu. “Aku takut sekali, kalian menghilang kemana?”,tanyaku sambil merintih ketakutan. “Lho kan kami tadi disuruh kumpul ke dekat panggung ketika listrik mati Lang. Kami sudah manggil-manggil kamu. Tapi kamunya masih tetep di atas perahu”,bela Aryo.
Sesampainya di rumah, kuceritakan kejadian mengerikan ini kepada kakekku. Air mata beliau kemudian menetes. Dan barulah aku tahu, kalau yang meninggal disana puluhan tahun yang lalu adalah… ayah kandungku.
                                                                                                                                   

You Might Also Like

7 komentar:

  1. Saya rasa ini cerpen horor yang bagus. cuma di bagian depannya sedikit membosankan. btw, salam kenal ya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Salam kenal juga :)
      Saya baru tahu kalau ternyata ada blog yg khusus memuat cerpen horor hehe.
      Makasih kritik membangunnya. Saya akan berusaha *fire* xD

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hi. Boleh tapi tolong cantumkan sumbernya ya >> imajidea.com

      much appreciate. thank you :))

      Hapus