Hujan yang Sama, Nasib Berbeda

21.00 Dea Maesita 2 Comments


Jendelaku sudah tak dingin lagi,
padahal hujan deras baru saja mengguyur petang tadi.

Mungkin jaring laba-laba itu menghalanginya,
atau bisa jadi oleh debu yang menggumpal di kaca jendela.

Tunggu tunggu.
Mungkin bumi sedang demam.

Bahkan hujan yang dingin, tak mampu lagi membuat penghuninya merasakan sejuknya tetesan air berkah yang diturunkan Tuhan.

Atau,
kulit-kulit manusia ini semakin tebal oleh lemak yang dipupuknya?

Sementara itu, di belahan dunia yang lain.

Oke, mungkin agak kejauhan.

Mungkin di sudut kota yang lain, seorang bapak sedang menambal tembok rumahnya dengan kardus bekas agar bayinya tak terbangun karena derasnya hujan.

Mungkin ada puluhan ibu yang sedang was-was karena takut rumahnya terendam air rob yang akan datang di tengah malam.

Dan mungkin, sedang ada anak yang bermimpi untuk meminum segelas susu coklat hangat di dalam tidur lelapnya.

:’)







2 comments:

Equality

19.39 Dea Maesita 0 Comments

Seperti toples kacang atom yang menemani kaleng kerupuk di meja warung makan
Seperti botol sirup yang menemani sebotol air dingin di kulkas dapur
Seperti pulpen yang menemani buku catatan di meja telepon
Seperti stetoskop yang menemani jas putih menggantung di ruang kerja dokter
Seperti tumpukan CD yang menemani buku-buku kesayangan di perpustakaan pribadi
Seperti kecap yang menemani saus tomat di mangkuk mi ayam
Seperti susu coklat yang menemani jus alpukat dan membuatnya lebih enak
Seperti pisang goreng yang menemani kopi hitam di teras belakang
Seperti sendal jepit warna jingga yang menemani wedges abu-abu di rak sepatu
Seperti odol yang menemani sikat gigi di wadah peralatan mandiku
Seperti polygon kuning abu-abu yang menemani  family roda tiga-ku di garasi belakang
Seperti nugget ayam yang menemani es krim cornetto di freezer kulkasku
Seperti kotak tisu yang menemani asbak di meja tamu
Seperti ... ah seperti itulah pikiranku melengkapi hatiku.

Pic Source : brain-heart.jpg

0 comments:

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

23.18 Dea Maesita 4 Comments


BEING OPTIMISTIC &  START FROM AROUND

“Indonesia adalah Negara pertama di Asia yang mencanangkan peraturan khusus mengenai pemberantasan korupsi”, begitulah yang tertulis pada salah satu buku kuliah yang saya baca. Berandai-andai menjadi Ketua KPK? Ah saya saja sampai saat ini belum juga hafal mengenai tugas, fungsi, dan wewenangnya.

Menerapkan budaya jujur dimulai dari diri sendiri, serta senantiasa mengingatkan orang lain, mungkin adalah salah satu wujud sederhana dari pemberantasan korupsi, dimana hal tersebut sudah pernah saya terapkan ketika melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kabupaten Jepara. Waktu itu saya dan teman-teman membuat program sosialisasi budaya kejujuran dan anti korupsi kepada murid-murid kelas VI di salah satu madrasah ibtidaiyah.

Agar korupsi di Indonesia tidak semakin merajalela, sepertinya KPK perlu mengadakan program-program inovatif dan tepat sasaran,. Ini adalah sedikit dari pemikiran saya :
1. Bekerjasama dengan Kemendiknasbud untuk membentuk kurikulum anti korupsi di sekolah-sekolah, mulai dari jenjang SD sampai dengan SMA.
2. Bekerjasama dengan DIKTI untuk membentuk duta anti korupsi di universitas seluruh Indonesia, agar dapat menginspirasi mahasiswa lainnya.
3. Membuat buku biografi, yang isinya adalah kumpulan dari koruptor-koruptor dari tahun ke tahun, dan diterbitkan kepada masyarakat umum, untuk memberikan efek jera kepada sang koruptor.
4. Membuat theme song Anti Korupsi, dan dinyanyikan di setiap instansi, setiap upacara bendera hari Senin.

Foto :



Kenangan ketika melaksanakan Sosialisasi Anti Korupsi kepada Siswa-siswi kelas VI MI Miftahul Huda
bersama tim KKN PPM UNDIP



Kalau suka sama tulisanku, tolong bantu kasih medali sebanyak-banyaknya yah teman! bisa klik http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/636/Dea%20Martha%20Maesita.htmlSemoga enteng jodoh, lancar rejeki, yang belum lulus cepet lulus, yang masih sekolah semoga nilainya bagus-bagus. Hihi. Aamiin :D 



4 comments:

Seperti Apa Minggu Pagimu? #1 Dapur

09.23 Dea Maesita 2 Comments

Minggu pagi identik dengan berkumpul. 
Entah sama keluarga, teman, komunitas, ataupun pacar. Eh bisa juga sih kumpul sama hewan kesayangan =3

Setiap orang punya Minggu pagi yang beda-beda. 

Ada yang lebih suka stay di rumah sambil bersih-bersih ataupun masak-masak. #brb #ambilpanci #ambilsapu #buatngegebukkucing

Ada yang subuh-subuh udah keluar dari rumah buat belanja ke pasar. #brb #ambilkeranjangbelanja #siapintampanggalakbuatnawar

Ada yang jogging ataupun main tennis di kompleks deket rumah. #brb #niupniupinraketyangberdebu #fuuhfuuh #niupindirisendirijugayangudahkelamaanngejomblo

Ada yang pergi ke sekolah buat ikut kuliah subuh #brb #pakepeci #ehsalah #pakebajugamis

Ada yang udah berdua-duaan sama pacar di Car Free Day #brb #maukabur #takutnyesek #maklumjomblo

Ada yang di depan komputer aja sambil internetan #okeitusaya #pfffftt 
Apa??? Kamu juga??? ih sama dong *toss*. Oya aku punya referensi lagu-lagu yang bagus nih buat didengerin sambil internetan pas minggu pagi. Klik aja everyonesmixtape.com , dan kemudian pilih yang kategori "Sunday Morning". 

Kalau kamu makhluk yang melankolis juga seperti aku. Setiap detail dari hidup itu memiliki seni yang berarti. 
Nggak percaya? Oke coba kita bayangkan. 
Untuk mencobanya dibutuhkan ketenangan dan sedikit imaajinaasi. *ala spongebob yang ngomong ke patrick* *Kemudian muncul pelangi dari atas kepala*
Dan habis itu, silahkan merem. 
Eh tunggu tunggu.. Kalo merem gimana bisa ngebacanya deh? -__-

Oke ini instruksi yang bener. 
Silahkan baca kalimat-kalimat di bawah ini, dan setelah itu..coba bayangkan dan rasakan...satu detik dua detik..setelah baca satu kalimat, silahkan merem, dan imajinasikan posisimu ada disana.. 
Baca ke kalimat selanjutnya, merem lagi, bayangkan lagi, dan seterusnya.. Selamat mencoba! 

#1. Minggu Pagi di Dapur 
Dengarkan suara panci yang berbunyi ketika kamu menaruhnya di atas kompor gas

Dengarkan suara kompor gas ketika kamu menyalakannya

Suara air ketika kamu menuangkannya ke panci

Suara air yang mendidih ketika kamu merebusnya

Suara air yang menetes di api karena terlalu luber

Suara kamu mematikan kompor

...

Kemudian kamu mengambil cangkir

...

Suara cangkir yang gemeretak beradu dengan cawan di bawahnya

Suara toples gula, toples kopi, dan toples krimer ketika kamu membukanya satu persatu

Suara kamu mengambil satu buah sendok di rak yang berisi puluhan sendok

Suara butiran gula yang jatuh ketika kamu menyendokkannya ke dalam cangkir

Suara serbuk-serbuk kopi yang jatuh ketika kamu menyendokkannya ke dalam cangkir

Suara serbuk-serbuk krimer yang jatuh ketika kamu menyendokkannya ke dalam cangkir

...

Kemudian kamu menuangkan airnya

...

Suara panci ketika diangkat dari kompor, dan meninggalkan sisa-sisa air panas yang menetes

Suara air panas yang beradu dengan kopi, gula, dan krimer ketika kamu menuangkannya

Suara kopi, gula, krimer, air, sendok, dan cangkir ketika kamu mengaduknya

Suara kopi, gula, krimer, dan air panas yang sudah bercampur menjadi satu dan menghasilkan buih-buih 
lembut di atasnya

...

Berjalanlah ke meja makan

...

Suara kamu mengangkat cawan dan cangkirnya dari meja makan yang terbuat dari kaca

Suara kamu meniup-niup uap panas kopi krimernya

Suara kamu menyeruput kopi dari ujung cangkirnya

Dan suara cangkir dan cawan ketika kamu meletakkannya kembali ke meja makan.

...

Selesai
...

Gimana? Berhasil enggak? Buat yang udah berhasil, selamat!
Buat yang belum, kita coba lagi yuk minggu depan!
Minggu depan kita berada dimana ya? Di pasar? Di Lapangan Tenis? Di Area Carfreeday?
Oke kita tunggu aja minggu depan
InsyaAllah serial ini akan ada setiap minggu pagi :)) 
See ya! 
...
Bersambung





2 comments:

Cerpen Horor Pertamaku

08.51 Dea Maesita 7 Comments


Gara-gara efek twitter, akhir-akhir ini aku jadi sering melek malem. Daripada nggak ada kerjaan, biasanya sih aku ikutan nulis flash fiction kayak @fiksimini ataupun @hororhore. Dan memang, seringnya kontes menulis mini-minian itu adanya ya pas tengah malem. Mungkin karena inspirasi buat penulis itu datengnya pas tengah malem kali ya.
Kalau fiksimini, aku sih nggak begitu jago sebenernya. Udah meres otak sampe segimanapun juga hasil tulisanku kayak gitu-gitu aja. Aku sih lebih suka nulis di hororhore. Flashfiction yang mengusung tajuk : bergidik dalam tiga detik ini, sepertinya lebih pas kalo buat orang seperti aku yang lebih suka baca novel ber-genre misteri dan psikologi kayak serial Hannibal Lecter-nya Thomas Harris. Awalnya sih pertama kali baca novelnya Thomas Harris waktu jaman kelas 2 SMA di perpustakaan sekolah judulnya Red Dragon, dan sejak saat itu aku jadi suka sama jalan cerita sang psikopat yang misterius. Asal bisa bawa diri aja deh, jangan sampe masuk ke dalam ceritanya dan berubah menjadi psikopat beneran :D Oya founder hororhore ini orang Semarang loh, yaitu Mas Garna Raditja.
Lagi suka-sukanya nulis genre horror, eh ternyata @Kancutkeblenger, komunitas blogger yang didirikan oleh Kak Irvina Lioni ini ternyata agi bikin kontes nulis juga. Sebenernya sih kontes nulisnya udah ditutup awal November kemarin. Tapi berhubung yang nulis genre horror, friendship, sama family masih dikit, akhirnya kontesnya diperpanjang sampe 10 November :D lucky me.. Ini cerpen horror pertamaku. Hehehe. Maaf yaa kalo aneh :P Selamat membacaa!

Attention! Latar dan tokoh di cerita ini adalah fiksi belaka. Tempat dan cerita kejadian bukanlah merupakan suatu legenda. Sebelum membaca, disarankan membaca bismillah, ambil nafas yang panjaaaang daaaaan yak! Lomba dayung segera dimulai! Selamat menikmati alur seram cerita ini. Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!

Sneak a Peak :


FESTIVAL DAYUNG YANG MENGASYIKKAN
“Selamat Datang di Festival Dayung Telogo Jiwo Tahun 2012”. Sebuah spanduk besar terpampang di gapura desa yang berhawa dingin di ujung utara Jawa Tengah. Di desa itu, festival dayung diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Lomba dayung tahunan itu dilaksanakan pada malam satu suro. Malam yang dikenal sebagai malam keramat, terutama bagi masyarakat Jawa. Namun, karena sudah dilaksanakan secara turun-temurun dari tahun ke tahun, acara ini pun tetap terlaksana, meskipun seringkali dalam pelaksanaannya banyak kejadian aneh yang meliputinya.
Danau Telogo Jiwo adalah tempat untuk melaksanakan festival ini. Meskipun letaknya yang terpencil dan akses jalannya sulit untuk dilalui, puluhan tim selalu antusias untuk mengayuh dayung di danau ini. Terletak di kawasan Gunung Muria, salah satu dataran tinggi di Karesidenan Pati, hawa seram dan mistis pun kerap kali hadir menyelimuti peserta lomba. Bagaimana tidak? Di danau Telogo Jiwo itu, dulunya terdapat sebuah cerita horor yang sampai saat ini masih dipercaya. Danau buatan ini dulunya dibangun oleh Pemerintah Belanda pada awal tahun 60-an, ketika kawasan ini dilanda bencana kekeringan. Kabarnya, banyak pekerja yang meninggal pada saat proses pembuatan danau ini. Selain itu, ada pula yang meninggal pada saat mengikuti lomba dayung. Aku pun tak menghiraukan cerita itu sampai pada suatu ketika, Kakekku sendiri yang menceritakannya.
Ati-ati yo Nang, ning telogo kuwi, mbiyen ono bocah lanang sing mati goro-goro melu lomban dayung. Kowe ning kono ora usah macem-macem”, Pesan Kakekku dengan nada khawatir. Yang artinya: “Hati-hati ya Nak, di telaga itu, dulunya ada anak laki-laki yang mati gara-gara ikut lomba dayung”.
“Ah, tenang saja Kek. Aku akan baik-baik saja”, kataku dengan lantang.
“Oh iya Kek. Aku disini jadi kapten tim. Doakan menang ya?”, tambahku.
Mendengar kata kapten tim, tampaknya semakin bertambah rasa khawatir kakek. Ada cerita yang masih disembunyikan tanpa aku harus tahu. “Mungkin kakek hanya tak mau aku merasa takut sebelum aku menyelesaikan lomba ini”, hiburku dalam hati.
Sore itu aku berangkat dengan tim dari SMA Harapan Bangsa dengan menggunakan bus sekolah. Setelah tiba, bus kami diparkir di halaman balai desa setempat. Memang danau itu hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Itupun gelap gulita karena tak ada lampu penerangan jalan. Semak belukar dan tanah yang licin karena hujan semakin menyulitkan kami untuk mencapai lokasi dengan tepat waktu. Belum-belum kami sudah ketakutan karena kabut sisa hujan seharian semakin menebal. Aryo dan Dimas, anggota timku yang paling penakut pun dibuat merinding oleh suasana horor ini. “Lang, pulang aja yuk. Aku kebelet pipis nih”, rengek Aryo. “Iya Lang, aku juga nih. Ngeri banget sih tempatnya. Tau gini aku nggak usah ikut deh hiiii”, tambah Dimas. Akupun yakin, sebenarnya kami bertujuh ini semuanya ketakutan, tapi sebagai kapten tim, tentu saja aku ber-akting seakan-akan tak takut apa-apa.
Tiba-tiba, gubrakkk! Dino yang bertubuh gembul jatuh tersungkur. “Hati-hati dong makanya. Jelas-jelas ada batu. Kok masih aja ditendang? Bikin kaget aja kamu!”,bentak Aryo. “Eh tung-gu tung-gu tte te-man ttte-man”, kata Dimas dengan terbata-bata. “Iiii tu, i-tu bbu bukan bba bba-tu, ta tta-pi, kke ke-pa kke-pa-la”, sambung Dimas. “Hah? Kepala?!”, kami ber-enam kompak ternganga. Sontak kami berlari gonjang-ganjing tanpa memerdulikan semak belukar yang ada. Dan kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan dengan lengkap, meski tetap dihantui oleh perasaan takut setelah perjalanan mengerikan tadi.
Acara diawali dengan ritual doa bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Bupati. Baru setelah itu, lomba dayung dimulai. Kami pun bersiap dengan kaos berwarna merah dengan tulisan “Harapan Jaya” di belakangnya. Iya, itulah seragam kebanggaan tim kami. Aku dan timku sudah bersiap sejak semenit yang lalu di atas perahu kayuh yang dibuat sederhana dari kayu, beserta dayung yang juga terbuat dari kayu, masing-masing di tangan. Sayup-sayup kudengar Bapak Bupati meneriakkan kata-kata motivasi, dan yak! Suasana menjadi gelap!Llistriknya mati Saudara-saudara!
Penonton lomba yang didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak perempuan pun menjerit-jerit ketika acara yang tadinya terang benderang oleh lampu-lampu warna-warni, mendadak menjadi gelap gulita.”Hidupkan gensetnya!!!”,seru Pak Bupati kepada panitia lomba. Aku dan timku yang sudah siap di atas perahu-pun saling berpegangan dan mengucap doa sekedarnya. “Tuhan, kejadian apa lagi ini yang akan terjadi?”,rintih Dino yang masih terbayang-bayang ketika tersandung oleh hantu kepala misterius tadi.
Sepuluh menit kemudian, genset berhasil dinyalakan. Lampu hias warna-warni pun mulai berpendar kembali, menerangi di setiap sudut area lomba. Hanya panggung tempat Bapak Bupati berpidato lah yang nampak agak berbeda. Lampu neon berukuran satu meter sebanyak tiga buah itu berhasil membuat pria nomor satu di Kabupaten ini tampak paling mencolok. “Alhamdulillah”,seruku mengucapkan syukur ketika lampu kembali menyala. “Ayo kita bersiap Super Team!”,aku mencoba untuk menyemangati teman-teman setimku. “Iya”,jawab mereka. “Hei kenapa lemas sekali? Seperti bukan manusia saja kalian ini! Ayo semangat dong!”,seruku kembali.
Aku tak terlalu menghiraukan mereka dan berfokus untuk mendengarkan aba-aba Bapak Bupati dari kejauhan. “Sial. Kenapa kita dapat jatah yang paling pinggir ya?”,rutukku.  “Bersiaaaap. Satu, dua, tiga, yak!”,suara lelaki tua itu terdengar jelas di telingaku. Dan kemudian suara kanan!, kiri!, kanan!, kiri!, mulai diteriakkan oleh masing-masing tim untuk mensinkronkan gerakan antara pendayung yang ada di sebelah kanan dengan pendayung di sebelah kiri. Suara riuh penonton yang menyemangati membuatku semakin bersemangat.
Tak terasa perahu kami sudah melewati batas seperempat danau. Itu artinya, tinggal tiga perempat perjalanan lagi dan tim kami akan sampai di garis finish. Karena penasaran, kutengok tim-tim yang lain. “Ternyata tim kita berada di urutan paling depan teman-teman”,sontakku girang. “Ayo lebih kencang lagi mendayungnya!”,seruku kepada mereka. “Aku bahkan tak tahu lagi tangan kiriku hilang dimana”,kudengar sepertinya Dimas yang mengatakan hal itu dengan mulut yang menggumam. “Ah jangan bercanda di saat yang seperti ini kamu Dim”,kataku sambil tak menghiraukannya.
Ketika separuh perjalanan terlampaui, aku baru menyadari bahwa teman-temanku telah berganti kostum. Maklum, sebagai kapten tim, aku berada di ujung depan perahu. Dan keenam anggota tim berada di belakangku. Dan ketika aku menengok, “Lho, kok kalian pakai seragam yang warna hijau? Bukannya tadi kita pakai yang warna merah ya?”,tanyaku kepada mereka. “Dan.. dan kenapa seragam kalian bertuliskan SMA Unggul Jaya? Bukan Harapan Jaya?”,tanyaku semakin mencurigai mereka. “Ah ini..tadi seragam kami basah ketika sebelum mulai lomba. Jadi kami pinjam kostum saja ke tim yang lain”, kata salah satu diantara mereka. “Ooh, begitu tho”,akupun lega mendengar penjelasan mereka.
Hawa dingin dan seram mulai menyergapku, dan tiba-tiba terdengar suara laki-laki paruh baya yang merintih seakan meminta pertolongan. “Tolong aku Mas. Tolong aku”. Suaranya berasal dari belakang punggungku. Dengan memberanikan diri, aku menengok ke belakang. Dan ternyata, yang tadinya perahu ini kami naiki bertujuh, sekarang tidak ada siapa-siapa melainkan aku sendirian di atasnya. “Jadi tadi itu?! Aaaaaa!”,aku berteriak ketakutan. Tim lain pun menghentikan perahunya ketika mendengarku berteriak.
            Dari kejauhan kulihat penonton dan teman-teman setimku meneriaki-ku dari garis start. Ternyata teman-temanku masih ada disana, mengenakan seragam tim berwarna merah. Dan barulah aku menyadari kalau sedari tadi, aku mendayung bersama tim Unggul Jaya. Tim yang kabarnya tewas karena tenggelam ketika mengikuti lomba ini sekitar puluhan tahun yang lalu. Aku pun semakin bergidik ngeri. Kemudian datanglah kapal boats menjemputku di tengah-tengah danau, meninggalkan perahu kayu beserta dayung-dayungnya disana. Sesampainya di daratan, kupeluk teman-teman beserta guru pendampingku satu per satu. “Aku takut sekali, kalian menghilang kemana?”,tanyaku sambil merintih ketakutan. “Lho kan kami tadi disuruh kumpul ke dekat panggung ketika listrik mati Lang. Kami sudah manggil-manggil kamu. Tapi kamunya masih tetep di atas perahu”,bela Aryo.
Sesampainya di rumah, kuceritakan kejadian mengerikan ini kepada kakekku. Air mata beliau kemudian menetes. Dan barulah aku tahu, kalau yang meninggal disana puluhan tahun yang lalu adalah… ayah kandungku.
                                                                                                                                   

7 comments:

Bukan Putri yang Tertukar

09.06 Dea Maesita 0 Comments

"Di kehidupan yang lain, kamu ingin jadi apa?", kata Joon Seuh kepada Eun Suh. 
"Aku ingin menjadi pohon, karena ia hanya akan setia pada satu tempat saja".

Itu adalah cuplikan dialog dari drama Korea Endless Love yang aku tonton semalam di salah satu stasiun televisi. Kali ini aku nonton sendirian di rumah, bukan di kos.

Biasanya lima belas menit sebelum drama ini ditayangkan, anak-anak kos udah berjejer rapi di kamarnya Ivon buat nonton bareng. Beda banget sih emang, kalo di kontrakan cowok, biasanya nonton barengnya ya kalo ada acara bola. Eh kalo di kosan cewek, nonton barengnya ya kalo ada drama korea atau acara gosip gitu :p  

Karena ditayangin pada jam-jam primetime, walhasil akupun jarang ngelewatin episode demi episodenya. Sebenernya sih dulu drama korea ini udah pernah ditayangin beberapa kali di Indonesia, yakni pada tahun 2002, 2003, dan 2006. Jaman-jaman SD-SMP lah. Tapi jujur, aku belum pernah nonton satu episode-pun dari endless love ini. Kata Ayuk sih, ceritanya nggak jauh beda sama sinetron kondang Indonesia yang judulnya Putri yang Tertukar, :D Tapi menurutku, mellow nya endless love ini lebih nampol dapetnya. Mood saat nonton pun berubah jadi sendu sejak pada menit pertama, karena theme song openingnya aja udah bikin hati mendayu-dayu :') 


opening theme song endless love : reason

Ternyata pertanyaan yang sama pun ditujukan pada Shin Yoo Mi, tunangan Joon Seuh. 
Katanya sih gara-gara pertanyaan ini, mereka akhirnya jadian. 
Dan Yoo Mi pun menjawab hal yang sama. "Aku ingin jadi pohon". 

Iya juga sih, pohon itu nggak cepet mati, kokoh, dan melindungi. Coba kalo mereka menjawab ingin jadi kucing. Kan gampang mati tuh? ketabrak mobil, kecemplung sumur, paling-paling umurnya cuma beberapa tahun. Coba kalo jadi pohon, sampe ratusan tahun deh :') 

pic taken from : source
Berandai-andai, misalnya jadi Eun Seuh, aku jadi apa ya? emmmm
Aku ingin jadi jendela. Sudah kubilang berapa kali? aku sangat mencintai jendela.
Segala sumber inspirasiku ada di sana.
Jadi, sudah jangan tanya mengapa. :)
Bukankah cinta yang sesungguhnya itu tak perlu memberikan alasan mengapa?
Dan aku mencintai jendela tanpa alasan.

Tapi eh, bukannya wujud reinkarnasi itu harus jadi makhluk hidup ya? Tapi jendela? |

0 comments:

Nguping-Ngupingan ala Dea

10.01 Dea Maesita 0 Comments

Ceritanya dulu suka banget kepoin blognya Nguping Jakarta :)
Percakapan fatal antara dua makhluk urban di kota metropolitan, bisa dikemas dengan apik dan membuat siapapun tertawa saat membacanya. Saking ruwetnya pikiran dengan epic nya ibukota kali yaah, jadinya mulutpun bisa jadi belibet ruwet. hihi


Cerita nguping-ngupingan ini diambil dari sisa-sisa memori di otak yang pernah Dea dengar :p

Semoga enggak garing!!!


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nguping #1


Suara di telepon

Cowok : Halo, eh kamu masih di kampus? Oh iya aku lupa. Kamu kan hari ini kuliah striptis dari pagi
              sampe sore yaa?
Cewek : Maksudnya stripping? -__- yakali gue bakalan jadi satu-satunya anak rohis yang jago dugem.


Tempat print-printan di area kampus. Didengar oleh mahasiswa laki-laki yang berniat untuk pindah jurusan.




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nguping #2
Bapak : Widiih, sepatunya baru. Mereknya konversi pula. Banyak duit nih.
Anak   : Nggak mahal kok Pak. Kemarin pas beli, nggak pake selangnya.


Di rumah. Didengar oleh ibu rumah tangga yang kemudian berpikiran untuk membeli tabung gas di toko sepatu.




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nguping #3
Anak : Bu, kalau mobil baru itu nggak boleh dipakai buat jalan-jalan dulu ya? Gara-gara belum ada plat 
           nomornya gitu?
Ibu    : Belum boleh, nanti dihukum pak polisi, nanti bisa dipenjara.
Anak : Nggak enak dong bu kalo dipenjara, nanti disuapin sama makanan yang nggak enak-nggak enak.
           iihhh


Di rumah. Pemikiran anak umur tiga tahun yang membayangkan bahwa penjara adalah semacam warung makan yang menunya cuma nasi sama tempe.

0 comments:

Kartupos Kabayan Series - November Edition

14.51 Dea Maesita 0 Comments

Inspirasi kali ini muncul dari peristiwa yang sederhana, se-sederhana cintaku kepadamu #tsaaah . 
Oke #abaikan saja saudara-saudara!

Jadi ceritanya, liburan idul adha kemarin, aku pulang ke rumah. Seperti biasa, transportasi publik selalu penuh pada momen-momen mudik seperti waktu itu. Planningnya sih, malam takbiran harus udah duduk manis di rumah. Tapi nyatanya, jam delapan malem aku baru sampai di rumah. 
Bukannya istirahat karena kecapekan, aku malah begadang sampe larut malem buat belajar (baca: twitteran). Akhirnya, besoknya aku nggak bisa bangun pagi buat pergi shalat ied ke masjid. *Maafin Dea Ya Allah* . Oke, sebagai calon istri idaman, aku bangun pukul enam sembilan pagi! (6 sama 9 beda dikit lah yaa #ngeles)

Karena Om sama Tante yang dari Tangerang mau dateng ke rumah, jadilah aku ngebantuin mama buat bersih-bersih rumah. Nah! ini baru contoh calon istri idaman :p 
FYI aja sih, kalo pulang ke rumah, biasanya aku nggak tidur di kamarku sendiri, jadilah kamarku penuh dengan debu-debu yang berkerumun (oke, apa itu bahasa berkerumun de?). Apalagi rak koleksi buku dan komik, wah parah banget kotornyah. 

Lagi asik-asiknya ngebersihin koleksi buku, eh tiba-tiba keponakanku yang gagah perkasa layaknya satria (emang namanya Satria), dateng sama ibunya. 

"Mbak Deaaa (baca dengan nada mirip iklan oreo)" . 
"Iyaaa", jawabku 
"Mbaaak, laptopnya manaa? aku mau main Mario Bros :(" 
"Mbak Dea lagi sibuk bersih-bersih, udah kesana aja!" (silahkan bayangin gaya ngusirku yang kayak ngusir pengamen dengan alasan nggak ada uang receh)
"Yaaah :("

Lalu dateng lah adekku, Herdian, yang kemudian dengan "sok bijaknya" nasehatin si Satria.
"Heh Satria, kamu tuh masih umur tiga tahun, udah kecanduan main game. Mau jadi apa kamu? Mau jadi kayak Mas Dian?", ini pengakuan adekku yang seorang gamer sejati. Jarang-jarang kan ada gamer yang nasehatin calon gamer kayak gini?

Aku pun dengan santainya ngelanjutin bersih-bersih koleksi buku, tanpa mempedulikan Satria yang udah ngambek tingkat Mobil-Vewe-yang-udah-nggak-pernah-dipake-seminggu. Di sela-sela tumpukan buku itu, aku nemuin buku cerita anak-anak yang kubeli entah kapan. Judulnya Ayam untuk Bapak Gubernur, Seri Kabayan. Lumayan nih, bisa bikin Satria nggak ngambek lagi, pikirku.

"Satriaa, nih Mbak Dea kasih buku cerita ajaa, daripada main game terus kan, mendingan membaca", sambil nyodorin buku cerita ke Satria.
"Ayo dibaca, di-eja satu-satu", kata Ibunya Satria.
"Nggak maauu bacaa! maluu", kata Satria
"Lah kok malu?", kata Ibu Satria.

Kreeek! Kreeek! 
Buku ceritanya disobek-sobek saudara-saudara! :(
Oke, si Satria kini jadi ngambek tingkat Mobil-Vewe-yang-nggak-pernah-diservisin-setahun!

Akupun beringsut, mengambil kantong plastik dan memasukkan buku cerita yang sudah di robek-robek oleh Satria itu, dan berniat untuk membuangnya ke tong sampah. 
Eits dan tiba-tiba muncullah ideku *cling*
Sayang juga nih kalo dibuang, mending dibuat jadi "sesuatu" aja.
Lalu terpikirlah ide dalam sepersekian detik untuk membuat robekan-robekan buku cerita kanak-kanak itu menjadi sebuah kolase dalam bentuk kartupos. 

Setelah Satria pulang, barulah aku beraksi! Dengan peralatan dan bahan-bahan seadanya (Lem, Gunting, Kertas Kartupos, Spidol, robekan buku cerita, serta dengan semangat yang membara), akhirnya kuputuskan untuk membuat lima buah kartupos edisi Kabayan Series ini. 
Kupilih-pilih robekan-robekan buku cerita itu yang masih pantas untuk dibuat kolase, dan kemudian menyusunnya menjadi lima judul yang berbeda, dengan tema yang sama.


Buku cerita yang dibinasakan oleh Satria

Dan... dengan sedikit sentuhan kreatifitas, berubahlah sobekan-sobekan kertas itu menjadi... 


Cardtopost , kabayan series (November Edition)



Kartuposku ada lima, rupa-rupa warnanya.... syalalala. *nyanyi dengan nada fales*
Dipamerin satu-satu ah :))

#1. Title : POLOS
"Kata orang, diam ibarat emas. Nah aku mau mencoba, siapa tahu dapat emas"
(Kalau beneran gitu, aku udah dapet emas seribu ton kali yah -__-)



#2. Title : Untitled 
"Kabayan adalah tokoh cerita rakyat Sunda yang sangat terkenal. Ia jenaka, cerdik, sekaligus b*d*h. Karena perangainya yang khas itu, kejadian-kejadian lucu di masyarakat Sunda sering dikaitkan dengan tokoh ini".


#3. Kabayan Versi Galau
Siapa bilang tokoh cerita rakyat nggak bisa galau? :p Manusiawi banget ya emang. Yang udah berkeluarga kayak Kabayan-Iteung aja bisa galau, apalagi yang jomblo kayak kamu mblo! *dikeplak*
"Iteng jadi serba salah. Kabayan sangat berubah. Tapi, kenapa tidak terus terang saja?. Iteng hanya bisa menangis memikirkan suaminya".


#4. Title: Untitled
Kartupos seri ke-empat ini ceritanya tentang tingkah polah kucingnya kabayan yang menjadi tokoh figuran di buku cerita ini. Semoga yang nerima kartupos ini suka sama kucing yah :3 
"Hai kenalin, aku kucing peliharaannya Kang Kabayan. Aku imut kan? Tapi aku nggak tahu namaku siapa. hiks. Kamu tahu?"

#5. Title : Seri Kabayan
Kartupos ke-lima ini sebagai penutup edisi Kabayan Series! Yayy.
"Cerita-cerita tentang Kabayan tak terhitung jumlahnya, dan sampai kini masih digemari karena sifatnya yang menghibur". 


Makasih udah nyimak. Kartupos edisi selanjutnya, insyaAllah mau dibikin dari barang-barang bekas. Inspired by Fanniy . Soalnya kemarin habis nerima kartupos edisi barang bekas dari dia. Trus jadi kepengen mbuat juga :)

0 comments:

Jarak

14.16 Dea Maesita 0 Comments

Dan jarak terjauh saat ini adalah "Aku-Kamu".
Bukan Kutub Utara-Kutub Selatan.
Apalagi Merkurius-Pluto.

Dan jarak itu hanya dapat dihapus hanya dengan satu kata.
Sesederhana itu?
Iya
Dan satu kata itu adalah MAAF.



0 comments: