Sepotong Kisah Tentang (Aku) Kaca Patri

11.55 Dea Maesita 0 Comments

Sepotong kaca runcing itu melukai kakiku. Sakit. Kubiarkan darah mengalir seadanya. Obat merah-pun hanya berfungsi untuk menutup luka kan? Karena aku tahu, bukan obat merah yang  kubutuhkan, melainkan seraut wajah panik saat mendapati kaki yang biasanya melangkah dengan riang di jalanan Tembalang, telah bersimbah darah. Lalu kubayangkan kamu bergegas lari ke mini-market yang letaknya tak jauh dari kosku untuk sekedar membeli plester luka tanpa infeksi, dengan nafas yang tersengal-sengal kamu menempelkan plester itu di luka-ku. "Bukankah itu hanya khayalmu belaka Dee?", rutukku dalam hati.

Kusimpan kaca itu di genggamanku. Tidak. Aku tidak dendam padanya. Biar aku bercermin darinya. Kaca itu adalah representasi dari diriku. Keras, kaca hanya dapat diluluhkan dalam suhu 2000 derajat celcius. Begitu halnya diriku. Bukan sembarang orang yang dapat meluluhkan hatiku. But, it was you, Mar...

Yogyakarta, siang hari yang terik itu. Kau begitu santai dengan sendal jepit warna kuning kesayanganmu, begitu kontras dengan wedges bunga-bunga yang kukenakan. Tapi entah, aku tetap tak dapat mengalahkan tingginya postur tubuhmu yang katamu mantan-pemain-basket-idola-tahun-2000an yang selalu kau gunakan untuk memperolokku. Oke, kamu menang :) 

Langkah kaki membawa kita ke sebuah jalan. Pusat kerajinan sepertinya. Di sebuah galeri yang ber-asitektur unik dan khas Jawa antik, kita berjalan bersampingan tanpa bergandengan tangan. "Bukan muhrim" kataku, dan kau pun sudah mulai dapat memahami apa yang menjadi aturan permainan kita.
"Sini Dee, cepetan!", dengan setengah berteriak kau memanggilku. Kudapati kamu tengah berdiri terpaku di depan kaca patri berukuran 1x1 meter berwarna hijau yang berukirkan burung merak itu. "Indah yaa?", tanyamu. "Cantik, begitu berwarna, bening, dan penuh imajinasi. Kaca itu seperti kamu", dengan senyum manis kau mengatakan itu padaku, Mar. Membuatku ingin mati saja. Mati dengan keindahan. Seandainya. Dan sudah pasti aku akan mati dengan tersenyum waktu itu kan? :)

Aku tetap diam tak bergeming. Aku tahu kamu sedang menunggu responku. 
"Aku setuju. Aku memang seperti kaca. Keras, rapuh, bahkan dapat melukai siapapun yang tidak hati-hati", kataku dengan datar. 
"Kamu memandangnya dari perspektif negatif, Dee. Dan aku memandangnya dari pandangan yang berbeda. Memang, kaca itu menakutkan, bagi orang yang tidak biasa menyentuhnya, akan melukai. Tapi coba kamu pikir. Orang yang mempunyai keyakinan bahwa kaca itu merupakan benda yang indah, pengrajin kaca itu misalnya, dia akan tetap menyukai kaca, meskipun terkadang terluka dalam proses pengerjaannya. Dia akan tetap tersenyum puas ketika kaca yang begitu polos, bening, telah berhasil diubahnya menjadi sebuah karya seni yang indah, meskipun terluka oleh serpihan kaca pada awalnya", debatmu.
"Emmm iya sih, tapi... ", aku tak mampu berkata-kata. Ada benarnya juga sih yang kamu katakan.
"Kamu harus berfikir positif atas dirimu sendiri Dee. Tak seharusnya kamu berfikiran negatif seperti tadi", bisikmu ke telingaku.
"Oke.. terima kasih atas wejangannya Mas-Mas Bijak", candaku sambil tersenyum lebar.

Krak! tak sengaja kuinjak pecahan kaca yang terletak tak jauh dari kaca patri bergambar burung merak itu. 
"Ya Allah, hati-hati Dee. Berdarah?". Tanpa tedeng aling-aling kamu meninggalkanku  bersama mbak-mbak penjaga galeri itu. Aku tak menangis. Hanya pucat. Aku memang takut dengan darah, dan kau sudah tahu itu. Mungkin itu sebabnya kamu bergegas pergi mencarikan penutup luka untukku.

Tak ada lima menit, kamu datang dengan wajah penuh keringat, sambil membawa bungkusan plastik, lengkap dengan alat-alat penyembuh luka yang kau beli di mini-market itu. 
"Ya ampun Mas, beli di mini-market? Kok endak bilang dulu? Itu kan jauh mas. Tau gitu tadi kan pinjem motor punya saya aja.", Kata mbak-mbak penjaga galeri dengan logat Jogja-nya yang kental. 
"Hehehehe, saya kan panik mbak", katamu sambil menempelkan plester-anti-infeksi yang pernah kubayangkan dulu.
"Tuh kan? Bahkan kamu tidak berhati-hati terhadap dirimu sendiri. Kaca kok bisa luka gara-gara kaca", sindirmu. 
"Ih biarin, dengan begini kan saya jadi tahu kalo kamu aslinya perhatian. Perhatian banget malah", Ledekku.
Mbak-mbak galeri-pun beringsut pergi meninggalkan kami berdua sambil nyengir-nyengir.

(Fiksi, 30-08-2012 , 11:52 AM)







You Might Also Like

0 comments: