#Essai 1 : Manajemen Lingkungan (09-11-11)

07.39 Dea Maesita 0 Comments

Potensi Polusi dan Kerusakan Lingkungan
Sebagai Akibat dari Adanya Industri Rokok
Oleh : Dea Martha Maesita

Abstract : Cigarettes is one of product from Indonesia that were producted in some town like Kudus and Malang. Altough cigarette manufacturer having an important part for our economics stability and absorbing labor in our country Indonesia, but it also making so many negative impacts for our environment and decreasing quality health for citizen. This situation must getting a special handling from our government, and also support from the citizen. This paper shows the possibilities from some facts that are happen in our environmental condition.

Key Words : Cigarette manufacturer , Pollution, Environment

PENDAHULUAN
Bumi tempat kita tinggal selama ini, terdiri dari empat lingkungan yakni biosfer, litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Lingkungan beserta seluruh makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia, merupakan ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai akal paling pandai diantara makhluk hidup lainnya, harus merawat dan menjaga alam supaya kualitas lingkungan hidup tidak semakin memburuk. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Manusia menggunakan sumber daya alam tanpa memperhatikan pemikiran ke depan, sehingga banyak terjadi kerusakan dan pencemaran di mana-mana. Hal tersebut semakin diperparah dengan banyaknya industri-industri di kota-kota dan bahkan sekarang merambah sampai ke desa-desa. Banyak dari industri tersebut letaknya berdampingan dengan pemukiman penduduk. Akibatnya, kegiatan industri tersebut baik pada proses produksinya (suara mesin, penjemuran bahan baku, lalu lalang truk pabrik) maupun saat pembuangan limbah (limbah cair, padat, gas) akan mengganggu kegiatan sehari-hari pemukiman penduduk serta kondisi lingkungan di sekitar industri tersebut. Sudah pasti bahwa dengan tercemarnya lingkungan penduduk itu, akan mengakibatkan kualitas kesehatan penduduk dan daya dukung lingkungan juga akan semakin menurun.

Udara (atmosfer) juga merupakan salah satu komponen yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Menurut (Sastrawijaya, 2009: hal 188 ) jika tidak ada udara, maka tidak akan ada angin, awan, hujan, dan api. Tanpa udara, suhu akan mengalami fluktuasi, antara 110°C pada siang hari, dan -185°C pada malam hari. Udara merupakan komponen yang tidak tampak, sehingga sering dianggap tidak ada. Di sekitar bumi kita, ada 5,8 miliar ton udara. Semakin jauh dari bumi, kerapatan udara semakin kecil. Setelah 10 km di luar bumi, kita tidak dapat hidup lagi. Di atas 12 km, lilin tidak dapat menyala lagi. Karena makhluk hidup bergantung pada selapis udara setebal 900 km. Ilmwan menduga bahwa 95% makhluk hidup di bumi didukung oleh lapisan udara setebal tiga km dari permukaan bumi.

Tanpa adanya udara, makhluk hidup tidak dapat bernafas. Udara yang berkualitas merupakan kebutuhan utama bagi makhluk hidup yang harus dipenuhi untuk melaksanakan kehidupannya sehari-hari. Udara juga merupakan faktor sebab akibat yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Polusi udara yang kian parah dengan semakin bertambahnya debu, partikel-partikel, asap dari cerobong pabrik, sisa pembakaran knalpot kendaraan bermotor, mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan manusia, terutama pada usia rentan seperti pada balita dan orang tua. Terutama jika mereka tinggal pada daerah dekat dengan perindustrian.
Salah satu contoh akibat polusi udara dari industri manufaktur tersebut diantaranya adalah pabrik rokok di Kabupaten Kudus yang pasti terdapat di setiap kecamatan, baik pabrik yang berskala kecil sampai pabrik yang berskala besar. Namun kemungkinan, yang menyebabkan timbulnya polusi lebih besar adalah pabrik rokok skala kecil/menengah. Karena pada umumnya pabrik rokok yang berskala besar sudah cenderung lebih paham untuk menangani masalah polusi supaya tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat di sekitarnya. Artikel ini akan membahas tentang potensi polusi yang dihasilkan oleh industri rokok yang ada di Kabupaten Kudus.

PEMBAHASAN
Seperti yang telah kita semua ketahui, perindustrian merupakan salah satu sektor yang menopang perekonomian dan kehidupan warga Kudus. Dan jenis komoditas yang bisa dikatakan berjasa terhadap kemakmuran kota ini adalah industri rokok yang tersebar secara merata di semua kecamatan, mulai dari kota dan sampai ke desa-desa. Menurut http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detailnews.php?id=11192, sektor industri menjadi penyangga utama perekonomian di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, karena kontribusinya mencapai 66,25 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kudus. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok kretek terbesar di Jawa Tengah. Jika dilihat dari jenis komoditasnya, perusahaan industri tembakau mendominasi dengan persentase sebesar 34,69 persen dari jumlah industri yang ada di Kudus. Adapun jumlah industri rokok di Kabupaten Kudus yang masih aktif beroperasi sebanyak 209 perusahaan.

Akhir-akhir ini banyak wacana yang membahas mengenai dampak negatif rokok terhadap kesehatan maupun terhadap lingkungan yang dilakukan oleh Pemerintah dan Lembaga NGO. Beberapa tahun kemarin, bahkan ada issue bahwa Lembaga Pemerintah yaitu MUI mengharamkan rokok bagi umat muslim di Indonesia karena dampak buruknya bagi kesehatan. Selain itu kampanye-kampanye juga dilakukan melalui berbagai media baik cetak, televise, maupun radio mengenai bahaya merokok. Kabar yang terbaru pada bulan November 2011 dikabarkan bahwa untuk membuat jera para perokok, maka kemasan rokok akan diberi gambar-gambar penyakit yang ditimbulkan oleh bahaya merokok. Dan satu bulan kemarin juga ditayangkan iklan layanan masyarakat yang cukup mengerikan, dimana iklan tersebut menayangkan organ-organ tubuh manusia (jantung, hati, paru-paru, dan lain-lain) yang sudah rusak karena kebiasaan merokok.

Meskipun dampak negatif dari merokok yang sebagaimana kita ketahui akan merusak kesehatan serta lingkungan, namun Pemerintah masih mengalami dilematika untuk membuat peraturan yang melarang industri rokok di Indonesia, karena hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif secara langsung maupun trickle down effect, dimana nantinya akan terjadi pengangguran besar-besaran dari ratusan ribu karyawan pabrik rokok, dan selain itu pendapatan negara juga akan berkurang secara drastis karena selama ini pajak cukai menyumbang jumlah nominal yang tidak sedikit bagi kas negara. Pembangunan-pembangunan yang membutuhkan sponsor dari pabrik rokok juga tidak dapat lagi dilakukan.

Dampak negatif rokok bagi kesehatan menurut (Kampa, Jurnal Environmental Pollution, No. 151. 2008: 362) Air pollution has both acute and chronic effects on human health, affecting a number of different systems and organs. It ranges from minor upper respiratory irritation to chronic respiratory and heart disease, lung cancer, acute respiratory infections in children and chronic bronchitis in adults, aggravating pre-existing heart and lung disease, or asthmatic attacks. In addition, short- and long-term exposures have also been linked with premature mortality and reduced life expectancy. Yang jika diartikan adalah Polusi udara mempunyai dua dampak yang akut dan kronis untuk kesehatan manusia, mempengaruhi beberapa sistem dan organ tubuh yang berbeda. Mula-mula berjarak dari iritasi kecil pada saluran pernafasan atas, kemudian menjadi pernafasan kronis dan penyakit hati, kanker paru-paru, infeksi pernafasan akut pada anak-anak dan bronchitis kronis pada orang dewasa, memperburuk kondisi penyakit hati dan paru-paru, atau serangan asma. Sebagai tambahannya, penemuan jangka pendek dan jangka panjang juga dikaitkan dengan kematian dini dan mengurangi tingkat harapan hidup.

Menurut (Sastrawijaya, 2009: hal 191-192 ), pencemaran udara ialah jika udara di atmosfer dicampuri dengan zat atau radiasi yang berpengaruh jelek terhadap organisme hidup. Jumlah pengotoran tersebut cukup banyak sehingga tidak dapat diabsorpsi atau dihilangkan. Pencemar udara dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu pergesekan permukaan, penguapan, dan yang terakhir adalah pembakaran. Sedangkan menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara, pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global. Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Berdasarkan kedua teori di atas, polusi udara yang ditimbulkan oleh industri rokok dapat dianalisa dengan memasukkan ke dalam kategori tertentu. Berdasarkan teori dari Sastrawijaya, polusi udara dari pabrik rokok dapat dimasukkan ke dalam kategori penguapan, karena polusi udara kemungkinan timbul saat proses penjemuran tembakau, dimana kandungan air dengan zat-zat tertentu yang terdapat pada daun tembakau menguap pada saat dijemur, dan kemudian dalam jumlah skala besar penjemuran akan mengakibatkan polusi pada daerah di sekitar tempat penjemuran. Pada pabrik dengan skala kecil, proses penjemuran tembakau dilakukan secara manual di bawah sinar matahari, sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi industri skala kecil-pun ikut merasakan dampaknya. Namun pada pabrik rokok yang berskala besar, proses pengeringan tembakau sudah dilakukan dengan menggunakan mesin tertentu sehingga hanya karyawan pabrik saja yang merasakan dampak dari pemrosesan tembakau tersebut.

Dampak negatif dari industri rokok ternyata tidak hanya menimbulkan polusi bagi udara, tetapi juga bagi tanah, air, dan bagi keberlanjutan kelestarian lingkungan. Mulai dari penanaman bahan baku, sampai pada saat rokok itu dikonsumsi dan dibuang, semuanya mempunyai potensi besar untuk membahayakan lingkungan. Pada saat penanaman bahan baku yakni tembakau, petani tembakau pasti menggunakan pestisida yang berbahaya bagi tanah, sehingga merusak unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah, dan pada akhirnya tanah yang merupakan bekas dari penanaman tembakau tersebut sulit untuk ditanami jenis tanaman lain. Selain itu, lahan yang digunakan untuk menanam tembakau juga seharusnya dapat ditanami oleh jenis tumbuhan lain yang lebih produktif seperti tanaman pangan.

Industri rokok juga membutuhkan banyak kertas yang digunakan sebagai bahan untuk membalut puntung rokok dan juga kertas untuk kemasan bungkus rokok. Kertas merupakan bahan setengah jadi yang bahan bakunya berasal dari pohon-pohon yang kemudian diolah menjadi bubur kertas, dan pada tahap akhir menjadi gulungan kertas. Untuk industri rokok dalam skala besar yang mungkin menghasilkan jutaan puntung rokok setiap harinya, penggunaan kertas sebagai salah satu bahan baku produksi pun diperkirakan tidak dalam jumlah sedikit. Hal tersebut juga membahayakan lingkungan kita terutama kelestarian hutan yang kondisinya semakin parah.

Pada saat rokok dikonsumsi oleh para perokok, asap beserta 4.000 zat mematikan di dalamnya jika dihirup akan menimbulkan bahaya bagi tiga kategori, yakni; kategori pertama yaitu si perokok itu sendiri, kategori kedua yaitu orang yang ikut menghirup asap rokok pada saat orang tersebut berada di dekat sang perokok, dan kategori ketiga yakni orang yang masuk ke dalam ruangan tertutup yang sebelumnya dipakai oleh orang yang merokok dan sisa-sisa bau rokok yang masih menempel pada ruangan tersebut juga diperkirakan masih berbahaya meskipun bukan berupa asap yang secara langsung dihirup.

Tidak hanya itu saja, pada saat rokok sudah habis disesap oleh para perokok, sisa-sisa puntung rokok juga mempunyai potensi pencemaran lingkungan. Menurut penelitian, puntung rokok merupakan salah satu bahan yang agak sulit untuk diuraikan oleh bakteri organik. Setidaknya, dibutuhkan waktu lima tahun untuk dapat membuat puntung rokok terurai menjadi tanah. Hal tersebut mengancam kebersihan lingkungan dimana mungkin terdapat jutaan puntung rokok yang dibuang setiap harinya oleh para perokok di Indonesia. Belum lagi para perokok yang ada di seluruh dunia.

Efek negatif industri rokok bagi lingkungan dapat dilihat dari limbah yang dihasilkan. Pada dasarnya industri rokok menghasilkan tiga jenis limbah yakni limbah padat, limbah gas, dan limbah cair. Limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik yaitu berupa pembuangan batang dan daun tembakau yang layu, berpenyakit. Selain itu, puntung dan bungkus rokok juga merupakan limbah padat yang dihasilkan oleh konsumen. Limbah gas yang dihasilkan oleh pabrik yaitu berupa penguapan pada saat penjemuran tembakau, dan limbah gas yang dihasilkan oleh konsumen yaitu berupa asap pada saat rokok itu dikonsumsi. Sedangkan limbah cair yaitu berupa sisa-sisa pestisida yang dibuang pada saat pencucian ulang daun tembakau.

Contoh nyatanya adalah sebagaimana dimuat pada harian Suara Merdeka 29 Juni 2009, dimana pada berita dengan judul “Sungai Brantas Tercemar Berat”, salah satu sungai yang mengalir di Kabupaten Malang, Jawa Timur itu diduga mengalami penurunan kualitas air menjadi kategori “D” dimana air itu hanya dapat dikonsumsi oleh hewan ternak. Hal tersebut disebabkan oleh limbah domestik rumah tangga yang menyumbang 40% terhadap pencemaran sungai ini, dan selebihnya adalah pencemaran yang berasal dari limbah industri, dimana terdapat 115 industri yang memanfaatkan sungai Brantas baik itu industri skala kecil maupun skala besar. Di Kabupaten Malang dari 1.104 industri di Kabupaten Malang hanya 185 atau 16,75% dilengkapi dengan Amdal. Industri yang belum melengkapi Amdal bergerak pada berbagai sektor di antaranya industri rokok, batik tulis, peternakan dan daur ulang kertas

PENUTUP
Berdasarkan berbagai uraian yang telah dijelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan industri yang sangat pesat, yang salah satu diantaranya yakni industri rokok, merupakan industri yang banyak menimbulkan ekses negatif baik bagi lingkungan maupun bagi kesehatan penduduk. Limbah padat, cair, dan gas yang dihasilkan oleh produsen maupun konsumen rokok, mempunyai potensi besar yang mengancam kebersihan lingkungan.

Pemerintah seharusnya mengambil tindakan tegas dalam melakukan usaha pengurangan jumlah produksi rokok di Indonesia. Meskipun banyak kendala yang dihadapi dan akan terjadi perubahan kondisi perekonomian di Indonesia, hal mengenai perbaikan kualitas lingkungan sepertinya lebih penting untuk ditindaklanjuti dibandingkan dengan hal lain. Selain itu dukungan dan inisiatif dari warga negara terutama bagi kalangan perokok juga sepertinya sangat dibutuhkan mengingat kondisi lingkungan yang semakin buruk sebagai akibat dari industri-industri tersebut.

Daftar Pustaka
Sastrawijaya, A. Tresna. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta
Marilena Kampa, Elias Castanas. Jurnal Environmental Pollution, No. 151. 2008
Suara Merdeka, 29 Juni 2009. (Sungai Brantas Tercemar Berat)
http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF
http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara
http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detailnews.php?id=11192

You Might Also Like

0 comments: