Gerakan Anti Hedon

13.50 Dea Maesita 0 Comments


Menjadi sederhana bukanlah tuntutan hidup, tetapi sebuah pilihan. (Dea’s quote)

Sebagai anak pertama, aku lahir di keluarga yang cukup dikenal di desa tempatku tinggal. Karena kakekku H. Mudhofir (alm) merupakan mantan kepala desa yang sangat dihormati oleh masyarakat.
Sedangkan nenekku Hj. Aminah (alm) merupakan Ketua PKK yang membuat kelompok PKK dari desa kami banyak memenangkan perlombaan sampai ke tingkat nasional pada rezim kepemimpinan Presiden Soeharto di kala itu.

Ibuku yang notabene seorang dokter, dan ayahku yang dulu pengusaha peternakan ayam, menjadikan aku hidup sebagai Dea kecil yang bahagia dan berkecukupan di zaman itu.
Namun, prinsip hidup sederhana yang selalu diajarkan semenjak aku kecil itulah yang membuatku lebih suka jika teman-teman mengetahui identitasku.

Salah satu orang yang berperan penting dalam penerapan prinsip tsb adalah alm.Kakekku. Beliau itu adalah orang yang sangat-sangat tidak ribet.
Apalagi jika dilihat dari penampilan beliau. Kemeja batik yang sudah robek-pun masih dipakainya ke acara kondangan. Sampai-sampai omongan tetangga pun ribut dimana-mana.

Begitu pula alm.kakekku H.Tayad.
Beliau yang mantan wedana dan mantan TNI, juga menanamkan sikap hidup yang tidak jauh berbeda.
Bahkan aku masih ingat peristiwa saat alm kakekku meninggal pada pertengahan Juli 2011 kemarin.
Sebelum jenazah kakekku diberangkatkan ke pemakaman, Pak Kyai memberikan wanti-wanti atau nasehat kepada keluarga besar kami dari anak sampai ke cucu-cucunya untuk tetap mewarisi pribadi beliau yang sederhana, meskipun sebenarnya harta beliau yang belakangan kuketahui setelah kakek meninggal, ternyata berlimpah-ruah.

Itu yang membuatku selalu berpikiran untuk “Jangan iri kepada teman yang hidupnya penuh dengan hedonisme. Ke kampus naik mobil, gaya pakaiannya selalu uptodate, nongkrong di restran tiap hari.. hssshhhh. Apa itu? Gaya hidup berlebihan yang tidak disukai Allah. Harusnya kamu ga boleh ngiri sama mereka de! Harusnya mereka yang ngiri sama kamu. Karena mental sederhana itu tidak bisa dicetak secara instan. Mentall itu harus ditanamkan sejak dari lahir. Dan tidak semua orang punya sifat seperti itu”

Namun terkadang pengaruh pergaulan sehari-hari juga lumayan berat bagiku untuk mempertahankan prinsip itu. Tapi aku akan terus fighting! Untuk mempertahankan prinsip itu. Wish I could spread this principe to anyone that are behind my side :))

You Might Also Like

0 comments: