Milea, Suara dari Dilan (Review Buku)


Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance
Kategori : Young Adult
Terbit : 2016
Tebal : 360 hlm
Harga : 84.000

“Baik buruk yang aku dapati, hidup ini berwarna. Tiap warna, masing-masing memiliki nilai tambah. Aku harus berpikir pada hal-hal yang aku suka kalau aku ingin menjadi baik pada apa yang aku rasakan” – Dilan.
Tentang Buku
Sama seperti dua novel sebelumnya, buku ini masih bercerita tentang kisah asmara antara Milea dan Dilan ketika duduk di bangku SMA sampai kuliah pada tahun sembilan puluhan di Bandung. Perbedaannya, jika pada “Dia adalah Dilanku Tahun 1990” (Novel pertama) dan “Dia adalah Dilanku Tahun 1991” (Novel ke-dua) ditulis dari sudut pandang Milea, novel ke-tiga ini diceritakan berdasarkan sudut pandang dari Dilan. 
Membaca buku ini semacam melihat kehidupan nyata di depan saya: memahami realita dari dua sudut pandang, laki-laki  dan perempuan. Sehari-harinya saya sendiri hampir selalu jadi orang yang tak memihak. Netral. Mendengarkan cerita dari pihak satu, lalu mendengarkan cerita dari pihak yang lainnya tanpa harus membenarkan dan menyalahkan siapa. Melalui serial novel Dilan yang ditulis oleh Pidi Baiq ini, saya maupun semua pembaca setia ketiga novel Dilan ini seakan memperoleh keadilan untuk mendengarkan kata hati dari pihak Dilan dan juga dari pihak Milea. Menyenangkan ketika rasa empati kita seakan dipermainkan untuk menjadi Dilan dan juga Milea. Menjadi Milea yang dengan segala kekhawatirannya, kerinduannya, kepeduliannya, dan ketenarannya pada buku pertama dan ke-dua. Lalu menjadi Dilan dengan segala kecuekannya, keusilannya, dan kepedihannya pada buku ke-tiga. 
Membaca novel “Milea Suara Dari Dilan” ini membuat saya tak se-berbunga-bunga ketika membaca novelnya yang pertama (Mungkin efek setelah membaca buku ke-duanya yang berakhir dengan sedih). Buku ini juga mengungkap kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan Dilan sehari-hari. Ketika dia ngeband sampai tengah malam untuk mengobati patah hati, ketika dia menghabiskan waktu dengan membaca buku untuk melawan rindu. Walaupun ada beberapa bagian awal buku yang memberikan flashback sehingga kita seakan-akan membaca hal yang sama pada novel sebelumnya, tapi ada beberapa part di tengah s.d. akhirnya yang menceritakan hal-hal yang tak pernah dibahas sebelumnya. Seperti ketika Dilan mendaftar kuliah di Jogja dan bagaimana ia merindukan Milea selama di perjalanan Jakarta-Jogja. Kereta api memang selalu bisa membuat perindu jadi makin tersiksa ya? *maaf curhat* Serta terungkap juga siapa wanita yang menemani Dilan di pemakaman, yang membuat Milea menjadi pupus untuk meraih cintanya kembali dari Dilan. Jeng jeng! I’m not gonna tell you, though! :p 
Saya bahkan tidak tahu mengapa saya begitu menyukai buku ini, sampai dengan relanya menyisihkan uang jajan untuk memesan PO-nya. Ajaib memang. Kasusnya hampir mirip ketika saya menyukai AADC (Ada Apa Dengan Cinta). Ceritanya klise, bercerita tentang kisah-kasih anak SMA. Udah, gitu aja. Namun entah faktor X apa yang membuat saya rela menontonnya berulang kali. 
Tentang CD
Saya sendiri membeli buku ini secara PO di salah satu toko buku online di Bandung seharga Rp. 84.000 (Buku + TTD + CD) dengan ongkir ke Jakarta Rp. 10.000. Sempat kecewa sih karena jadwal pengiriman mundur (yang seharusnya tanggal 16 Agustus seingat saya), menjadi 29 Agustus 2016. Namun setelah menyelidiki di postingan-postingan instagramnya Penerbit Mizan, terjawab sudah mengapa bisa terjadi keterlambatan. Penjualan PO-nya membludak! Tak hanya digelar secara resmi oleh Penerbit Mizan, ada juga beberapa toko buku online bahkan e-commerce yang membuka PO-nya. Tapi semua kekecewaan itu terobati ketika tepat pada 29 Agustus 2016 kemarin bukunya sampai ke tangan saya!
Oya, bonus CD-nya berisi enam lagu yang sendu-sendu:
1. Voor Dilan #1: Kamulah Mauku
2. Voor Dilan #II: Itu Akan Selalu
3. Voor Dilan #III: Dulu Kita Masih Remaja
4. Voor Dilan #IV: Kaulah Ahlinya Bagiku
5. Voor Dilan #V: Di Mana Kamu
6. Voor Dilan #VI: Kemudian Ini
Kalau nggak salah, di youtube juga ada sih video klipnya. Lagu-lagunya yang sendu bikin kita jadi flashback semua kenangan antara Dilan dan Milea. 
Ada yang udah baca? Gimana pendapat kalian tentang buku ini?
Buat yang belum baca, selamat penasaran yhaa~

Perjalanan Elok dan Berkelok di Bali Timur


Pernah ngerasa patah hati karena harus meninggalkan tempat tertentu untuk melanjutkan perjalanan/kehidupan yang selanjutnya? Itulah yang kami rasakan ketika harus meninggalkan Nusa Penida saat baru mulai menikmati keelokannya. Setelah satu hari berada di pulau ini, mau tidak mau kami harus menyeberang ke Pulau Bali (Pulau utama). 

Perjalanan dari Nusa Penida ke Pesinggahan
Kami menyeberang dari Pelabuhan Buyuk (Nusa Penida) menuju Pelabuhan Pesinggahan (Bali Timur), seperti yang sudah saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Kami berangkat menggunakan Caspla Boat dengan biaya Rp. 50.000. Ternyata kami berangkat bersama rombongan calon pengantin wanita yang kami tebak akan melangsungkan upacara adat. Mereka menggunakan baju adat lengkap dengan riasan rapi, plus barang-barang yang ditaruh di dalam keranjang bambu. Praktis, saya dan Tia menjadi satu-satunya turis di dalam perahu boat itu.

Perjalanan dari Pesinggahan ke Candidasa
Sesampainya di Pelabuhan Pesinggahan, Klungkung, Bali. Kami cukup berjalan kaki +- 5 menit untuk menuju jalan raya, di sebuah pertigaan besar dekat Goa Lawah. Tia langsung sigap memesan Grab Car. Namun pemesanan tersebut tidak berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang kami bayangkan. Ternyata armada Grab di Bali tidak sebanyak di Jakarta, sehingga kami harus menunggu lamaaa sekali. Masih untung kalau menunggu lama tapi drivernya tau jalan. Nah ini, kami harus menunggu lama tapi drivernya masih pake nyasar ketika ingin menjemput kami. Akhirnya kami sepakat membatalkan pesanan dan sepakat untuk naik angkot. Apa? Iya. Kami jalan-jalan di Bali naik angkot! :p 

Di dalam angkot menuju Candidasa, Bali Timur
Beruntungnya kami sempat mengobrol dengan warga asli Klungkung ketika di atas perahu boat. Jadi, kami sudah mempunyai gambaran beberapa alternatif transportasi selain Grab/Gojek yang bisa digunakan untuk sampai ke Candidasa, tujuan perjalanan kami selanjutnya. Saya dan Tia naik angkot (lupa jurusan apa, namanya susah euy) di kursi paling depan bersama Pak Supir. Syukurlah kami mendapatkan supir yang baik dan tahu letak hotel yang akan kami tuju. Beliau juga sempat kaget karena mengetahui bahwa kami hanya pergi ngebolang berdua, mana cewe-cewe pula.

“Ooh. The Natia Seaside Hotel? Iya bapak tau. Itu dekat sekali dengan rumah bapak. Jangan khawatir, nanti bapak turunkan di depan hotelnya persis”

Ternyata jarak menuju Candidasa lumayan jauh juga. Tapi karena pemandangannya yang indaaah sekali, perjalanan jadi nggak kerasa. Kami disuguhi pemandangan pantai + perbukitan + tebing dalam satu waktu. Nggak heran kalau sinyal handphone + sinyal di sini buruk sekali. Akhirnya kami turun persis di depan hotel dengan membayar Rp. 20.000 untuk 2 orang. Ngga tau biaya aslinya berapa, tapi kami menyodorkan uang Rp. 20.000 dan bapaknya menerima-menerima saja. Kalau tidak salah biaya menggunakan Grab pada saat itu sekitar Rp. 50.000, setidaknya kami hemat ongkos Rp. 30.000 karena tidak jadi naik Grab dan memilih untuk menggunakan angkot. 

Fyi harga hotel di Candidasa ini mahal-mahal sekali. Beruntunglah kami menemukan hotel The Natia dengan harga Rp. 320.000 semalam (sudah termasuk sarapan). Begitu sampai, saya dan Tia langsung jatuh cinta karena pemandangannya yang indah (langsung menghadap laut) dan kamarnya yang luas. Kasurnya bahkan muat untuk bertiga, karena ada Rofida yang datang dari Bali Utara untuk menemui kami dan ikut menginap. Rofida adalah sahabat pena asal Yogyakarta yang saya kenal melalui komunitas Cardtopost. Pada waktu itu dia sedang bekerja di Bali Utara dan dengan senang hati menyusul kami ke Bali Timur untuk menjadi teman perjalanan. 
Pertama kali bertemu Rofida (Lokasi: Resto Pizza di Candidasa)
Selepas ashar, kami singgah sebentar di resto pizza tepi pantai yang ternyata zonk. Kami pikir restonya ramai karena ada banyak sekali motor. Ternyata ketika masuk, kami menjadi satu-satunya grup yang makan di sana. Baru setelah itu kami tau bahwa motor-motor di depan resto adalah motor milik karyawan mereka yang bejibun! 

Berwisata Budaya Menuju Desa Adat Tenganan
Setelah kenyang, kami sepakat menuju Desa Adat Tenganan dengan menggunakan motor sewaan seharga Rp. 50.000 sehari. Ternyata lokasinya tak jauh, hanya sekitar 15 menit dari pusat Candidasa. Untuk masuknya tidak dikenakan tiket. Kami hanya perlu memberi donasi sebagai penggantinya. Rofida yang memang bekerja sebagai arsitek, dengan tekun memotret dan mengamati setiap bangunan yang ada di desa ini. Sedangkan saya dan Tia sibuk melihat-lihat sepintas dan lebih menikmati suasana yang cerah sekali pada sore itu, sambil sesekali selfie tentunya. Hehehe.

Pintu Masuk Desa Adat Tenganan
Sore hari menjadi pilihan yang pas untuk bertandang ke sana karena pada waktu-waktu itulah pemilik-pemilik rumah banyak yang bersantai sore di depan rumah mereka. Hampir semua warga di sana menggantungkan hidup dengan membuat kerajinan tangan. Di kanan-kiri jalan setapak, ada beberapa rumah warga yang bahkan disulap sekaligus menjadi toko suvenir. Saking artsy-nya, aya-ayam di sini juga diwarna-warnai biar makin cantik! :p 

Melepas Sore di Pantai Bugbug
Karena jalan-jalan ke Desa Adat saja kami rasa belum cukup, akhirnya kami bertiga pergi ke Pantai Bugbug sesuai panduan Rofida. Perjalanan menuju pantai ini ternyata unpredictable, karena kami harus melewati jalanan berkelok tajam dan naik-turun seperti hendak menuju gunung. Sesampainya di sana, pantainya memang ramai sekali, tapi bukan ramai dengan turis. Melainkan ramai dengan warga setempat yang beraktivitas, anak-anak yang bermain layang-layang, dan bapak-bapak nelayan. 

Saya dan Rofida menikmati sepanjang pantai berdua, sedangkan Tia memilih menunggui motor saja. Alasannya, ia tak ingin mengotori sepatunya dengan pasir pantai karena pada saat itu dia memang menggunakan sepatu yang air free (ada lubang udara di samping/bawahnya). Pada saat itu kurang lebih pukul setengah enam sore, langit masih cerah dan masih banyak sekali warga yang menikmati pantai. Saya dan Rofida berjalan semakin ke ujung untuk berfoto-foto hingga kami tak sadar bahwa langit mulai gelap. Anehnya ketika kami berbalik, pantai sudah sangat sepi. Kami pun cepat-cepat berjalan menuju tempat awal agar Tia tidak kelewat shalat maghrib (Pada saat itu saya dan Rofida sedang berhalangan). Apa yang terjadi setelah ini adalah pengalaman yang sebenarnya takut untuk saya ingat-ingat kembali. Iya, ini pertama kalinya saya mengalami kejadian aneh ketika sedang travelling!

Saya dan Rofida tidak bisa menemukan tempat parkir, padahal pantai itu bentuknya hanya sederet, dari ujung kiri ke ujung kanannya bisa dilihat hanya dengan pandangan mata biasa. Di ujung kiri ada beberapa batu (pulau kecil) di tengah laut dan di ujung kanannya juga ada penanda serupa. Hari semakin gelap, saya dan Rofida semakin panik karena tak ada penerangan sama sekali di pantai itu. Akhirnya kami bertemu dengan satu-satunya ibu penambang batu. Akhirnya kami memberanikan diri bertanya...

“Permisi.. Ibu tahu di mana letak tempat parkir motor?”

“Parkir motor apa ya, Mbak? Di sini tidak ada parkir motor”

Saya dan Rofida bertambah curiga. “Perasaan tadi kita nggak ngelewatin jalan berbatu kayak gini deh?”

“Iya betul. Tapi kita masih di pantai ini kan? Nggak pindah ke dimensi yang lain kan? Tuh, kita masih ada di antara pulau batu di ujung kiri dan pulau batu di ujung kanan”, kata saya sambil menunjuk ujung kiri dan ujung kanan pantai. Sambil mengingat film horror yang pernah saya tonton, Keramat.

Batu penanda ujung kiri pantai
Batu penanda ujung kanan pantai

Akhirnya kami menghampiri dua orang lelaki dan menanyakan hal serupa: di mana letak parkir motor. Tapi menyebalkan sekali! Di tengah kondisi panik dan bingung seperti itu, mereka berdua justru menertawai kami. Akhirnya kami meninggalkan mereka berdua sambil tetap hopeless. Di saat itulah saya memutuskan berdoa, menenangkan diri untuk bisa berpikir jernih. Saya berjalan menggenggam tangan Rofida. Kata Rofida, saya sempat menggenggam tangan Rofida sangat kuat, lalu kembali melemah. Padahal seingat saya, saya menggenggam dengan biasa saja. Jeng jeng!

Beberapa menit setelah kejadian itulah kami mendapatkan petunjuk. Kami menemukan sederetan rumah warga dan memutuskan untuk bertanya kepada seorang ibu denganmenanyakan hal yang masih sama: di mana letak parkiran motor. Akhirnya ibu itu tersenyum, mengetahui bahwa kami telah melalui kejadian yang sulit. Beliau juga bercerita hal serupa. Katanya, beberapa minggu yang lalu beliau juga pernah ditanya oleh turis India yang juga tersesat. Persis seperti kejadian yang Rofida dan saya alami. 

“Ayuk, ibu antarkan. Nggak apa-apa, mungkin mbak-mbak ini cuma pangling sama jalannya”, kata beliau menghibur kami.

Akhirnya kami tiba di parkir motor dengan selamat. Di sana kami bertemu dengan Tia kembali sambil meminta maaf karena sudah membiarkan dia menunggu sendirian di atas motor dalam waktu yang sangat lama. 

“Aku sebenernya tadi tuh ngeliat kalian. Kalian nggak belok ke parkiran sini, eh justru ngeloyor aja ke ujung pantai sana”, kata Tia setengah marah

“Kok nggak dipanggil?”, balas saya sambil masih meratapi nasib.

Akhirnya kami mengakhiri perdebatan dengan pulang menuju hotel. Sesampainya di hotel, Tia menyuruh saya untuk langsung masuk ke kamar mandi untuk keramas dan berwudhu. Bagaimanapun juga, saya merasa dan dirasa menjadi penyebab utama peristiwa aneh ini karena saya sedang menstruasi pada saat itu. Padahal saya tidak melakukan hal yang aneh-aneh sih.

Malam itu kami bertiga tidur berdempet-dempetan, masih agak parno dengan kejadian yang kami alami sesorean. Saya bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan Tia tak bisa tidur. Entah, Rofida...

Paginya Rofida izin pulang ke Bali Utara untuk kembali bekerja. Sementara saya dan Tia menikmati sunrise di invisible pool yang tersedia di hotel kami menginap. Rasanya sia-sia jika pergi ke Bali Timur tanpa menikmati matahari terbit. Kami yang pada saat itu bangun jam enam pagi pun langsung bergegas menuju tepi kolam. Ternyata matahari belum nampak dan langit belum terang-terang sekali. 
Catching the sunrise di Candidasa
Begitulah cerita unforgettable yang kami alami di Bali Timur. Di pagi itu, kami bersiap meninggalkan Candidasa untuk menuju tujuan terakhir kami yaitu Ubud. Simak postingan selanjutnya ya! 

Biaya perjalanan (untuk 2 orang):
Angkot (Pesinggahan-Candidasa): Rp. 20.000
Sewa motor (termasuk bensin): Rp. 50.000
Tiket masuk desa adat: Rp. xxx (donasi)
Hotel The Natia Seaside: Rp. 320.000

TOTAL: Rp. +- Rp. 400.000 sekian



Hitam di Jingga



Lelaki bermata coklat itu menatap bayangannya pada tornado legam yang diciptakannya sendiri di pantry. Kopi hitam pukul sebelas, satu-satunya teman yang memaksanya terjaga untuk menyelesaikan tenggat pada malam keempat. Bagaimanapun juga, berita yang dibacanya di surat kabar tadi siang cukup membuat keningnya pening. “Seorang Copy Writer tewas akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman bersuplemen dan lembur selama tiga malam.” Maut masih menjadi takdir orang lain, belum giliranku. Ia meneguk kopinya dalam satu tegukan. Menjilati ampasnya sampai ke pelipiran.

Copy Writer yang belum juga menyelesaikan tenggatnya pada malam keempat itu bernama Raga. Ia bekerja di salah satu kantor digital agency di kawasan Blok M, tempat di mana kreativitas dipuja-puja, kantor yang dipenuhi pekerja dengan otak-otak kanan yang lebih dominan jika dibandingkan dengan bagian otak lainnya. Di kantor itu, Raga mendapatkan julukan Pangeran Kopi. Bukan hanya karena jabatannya sebagai anak copy (baca: kopi), tapi karena ia juga sangat mencintai kopi lebih dari apapun. 

Anehnya, meskipun dapur di kantornya penuh dengan susu, teh, es krim, vodka, bir, dan beraneka minuman lainnya, hanya ada satu jenis minuman yang selama belasan tahun ini telah dengan setia disesap Raga; Kopi Gayo dari Aceh. Ia tak pernah mengungkap perihal keterikatan batin ini kepada siapapun, bahkan kepada Pongki, sahabatnya sendiri. Pernah pada suatu hari, Pongki yang bekerja sebagai travel writer membawakannya kopi dari tempat yang baru dikunjunginya. Dengan wajah berbinar-binar sepulang kerja (alias liburan), Pongki mendatangi Raga. 

“Nih, Bro. Gue bawain kopi dari Mandailing, Belitong, dan satu lagi dari Lampung. Gimana, Bro? Lo pasti seneng banget kan? Saking senengnya Lo pasti mau meluk gue kan?”

Raga betulan memeluk Pongki. Namun sampai sekarang, kopi-kopi itu hanya mendiami toples yang tak pernah ia sentuh. 

Pengalaman mencicipi kopi yang membuatnya hidup itu dimulai ketika Raga masih duduk di kelas 5 SD. Pada saat itu pamannya pulang dinas dari Takengon. Pergi meriset penyakit yang menyerang tanaman kopi organik, katanya. Raga sendiri baru tahu bahwa tanaman juga bisa sakit. Maklum, di sekolah, ia memang lebih menyukai pelajaran Bahasa Indonesia ketimbang IPA. 

Dari semua oleh-oleh yang dibawakan paman untuk keluarganya, ada satu benda yang paling menarik perhatian Raga; satu bungkus Kopi Gayo asli, yang sebetulnya dibawakan paman untuk Ayah Raga. Ia sendiri mendapatkan oleh-oleh peci bordir khas Aceh, namun wangi dan serbuk-serbuk kopi itu lebih membuatnya jatuh cinta ketimbang sulaman-sulaman benang putih yang menghiasi kain beludru hitam. Namun sayang, hati kecilnya harus patah ketika ibu membawa bungkusan itu ke dapur. Selama ini ibunya memang tak pernah mengizinkan Raga minum kopi. Alasannya, ia belum cukup dewasa untuk hal ini. 

Namun rasa penasaran Raga ternyata mengalahkan segalanya. Setelah mengintip ayah dan ibunya tertidur pulas, dengan hati-hati ia mengendap-endap ke dapur. Ia merasakan ada sesuatu magis yang menembus jiwanya. Mungkin dewa kopi telah merestuiku malam ini, batinnya dalam hati. Semenjak saat itu Raga tak pernah absen berlangganan Kopi Gayo dari kiriman rekan pamannya, tentu saja dengan dibumbui sedikit kucing-kucingan agar tak ketahuan.

Pemilik kebun kopi sendiri itu bernama Abduh, penduduk asli Takengon, Aceh Tengah, yang sudah berbisnis komoditi kopi secara turun-temurun. Ia tinggal berdua dengan satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya bernama Jingga. Sebagai gadis yang tinggal di daerah perbatasan negara, ia menerima banyak sekali tawaran beasiswa dari sekolahnya. Ia tak hanya selalu mendapatkan ranking pertama di kelas, ia juga memenangkan berbagai macam lomba baik di tingkat daerah maupun provinsi. Namun tekad Jingga selalu bulat. Ia memilih untuk membantu ayahnya berkebun dibandingkan meneruskan pendidikan ke Pulau Jawa. 

Pada awalnya banyak pihak yang menyayangkan hal tersebut, termasuk guru-guru, tetangga, dan tentu juga ayahnya. Bagaimanapun juga, mereka menginginkan Jingga untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, tidak seperti ayahnya yang hanya lulusan SMA dan berbisnis dengan kemampuan yang seadanya. Namun lambat laun, mereka semua akhirnya bisa menerima hal tersebut. Terlebih ketika bisnis ayahnya melaju lebih pesat semenjak keterlibatan Jingga di dalamnya. Dengan kemampuan bahasa inggris dan berrelasi yang baik, Jingga berhasil mengembangkan bisnis ayahnya dengan mengekspor berton-ton kopi ke Amerika setiap musim panen. Sebuah rekor baru dalam bidang komoditi kopi di Takengon karena sebelumnya tak pernah ada yang berhasil menembus pasar Amerika. 

Gadis berrambut ikal ini punya kebiasaan unik tiap pagi yaitu menyiumi pohon kopi yang terletak paling dekat dari teras rumahnya. Jingga tumbuh bersama pohon itu. Ketika masih duduk di bangku TK, ayahnya menanam pohon itu dari sebuah batang berukuran 15 senti. Kini sang pohon sudah berukuran 2-3 meter, cukup matang untuk melahirkan biji-biji kopi terbaik setelah dirawat dengan penuh kasih. Tidak lupa, ia juga selalu menyisakan stok 200 gram Kopi Gayo setiap bulannya kepada pelanggan tetap ayahnya yang ada di Jakarta.

“Yah, kenapa kopi kita tidak diekspor semua saja? Toh kalau dihitung-hitung harganya jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan harga yang ayah berikan kepada pelanggan ayah itu”, protes Jingga pada suatu senja.

“Tak bisa, Nak. Pelanggan kita ini orang yang spesial, keponakan dari Oom Ajun yang telah berjasa menyelamatkan kebun kita dari hama penyakit berpuluh-puluh tahun yang lalu. Lagipula, masa’ kita membiarkan orang dari negara lain mencicipi kenikmatan dari apa yang kita tanam di negeri sendiri, sedangkan kita tak membiarkan masyarakat di bumi pertiwi untuk menikmatinya? Kita tak boleh serakah, Nak. Atau kita akan mati dengan sia-sia.”

Jawaban ayahnya membuat Jingga tersenyum. Entah mana alasan yang lebih berpengaruh, mengetahui kalau ternyata yang menjadi pelanggannya adalah keponakan Oom Ajun, atau karena pernyataan penuh nasionalisme yang dilontarkan oleh Ayahnya.

“Seperti apa orangnya, Yah? Apakah mirip dengan Oom Ajun? Putih, tinggi, dan punya tawa yang juga ramah?”, tanya Jingga penuh selidik kepada ayahnya. Sepertinya alasan pertama lebih berpengaruh.

Berminggu-minggu kemudian Jingga tak pernah absen membayangkan bagaimana kopi ini menemani pria itu sehari-hari. Menebak-nebak, apakah jauh di Ibukota sana, ia meramu kopinya sendiri, mungkin pembantunya, atau malah istrinya? Pikiran-pikiran kecil itu membuat Jingga sedih, hingga pada suatu hari ia mendapatkan mimpi. Ia bermimpi bertemu dengan pria itu di kebun belakang sungai. Pria itu menjabat tangannya, hangat. Tak ada cincin yang melekat pada sepuluh jari pria itu. Semenjak saat itu, secercah harapan muncul di benak Jingga. 

Jarum jam menunjukkan pukul delapan ketika Jihan selesai berkeliling untuk memastikan tak ada pemetik kopi yang tak datang. Sambil termenung, ia membayangkan lelaki itu yang mungkin sedang mengutuk macetnya jalanan Jakarta. 

“Yah, siapapun dia, kenapa bisa sesetia itu dengan kopi hasil kebun kita ya?”, tanya Jingga sambil berpura-pura membolak-balik majalah dengan cepat. Gugup. 

“Pas sekali kamu menanyakan hal itu, Nak. Kemarin pagi ketika ayah hendak pergi ke masjid, ada nomor panggilan tak dikenal yang muncul di layar ponsel ayah. Ternyata ia adalah Raga, keponakan Oom Ajun yang menjadi pelanggan kita. Dia juga persis menanyakan hal seperti apa yang kamu tanyakan ke ayah. Ia bilang, ia tak tahu mengapa bisa dengan setianya ia meminum kopi kita selama berbelas-belas tahun. Oya, prediksimu juga benar, ia mempunyai tawa yang juga ramah.”

“Benarkah? Ayah, bagaimana kalau Jingga saja yang mengantarkan kopi ini ke Jakarta? Ayah punya alamat lengkapnya kan?”  

“Tentu saja. Tapi Ayah pikir kamu tak pernah ingin meninggalkan kebun ini, Nak. Boleh saja, kalau itu baik untukmu”, jawab Ayah Jingga sambil tersenyum. Bagaimanapun, ia juga pernah muda. Dan pancaran di mata Jingga saat ini mengingatkannya pada tatapan istrinya ketika mereka berdua sedang jatuh cinta. 

Sebuah gedung di Blok M lantai 12. Raga masih terjebak di ruangan meeting ketika perempuan itu tiba di meja resepsionis. Sudah pukul lima sore lebih, tapi belum juga ada tanda kapan briefing itu selesai. 

“Kenapa nggak ditaruh di meja gue aja sih paketnya?”, kata Raga ketika Office Boy mengingatkannya tentang tamu tak dikenal yang masih setia menunggunya di lobby untuk mengantarkan kopi. Bagaimanapun juga Raga tak enak hati karena telah membiarkan orang itu menunggu lama. Selain benci menunggu, ia juga tak pernah suka ditunggu. 

“Saya ingin bertemu langsung dengan orang yang sangat setia meminum kopi dari kebun saya”, jawab Jingga dengan lantang. Raga merasa semakin berdosa karena telah membiarkan omelan yang ditujukannya ke OB malah sampai ke telinga tamunya sendiri. 

“Jadi kamu jauh-jauh ke sini untuk mengantarkan ini? Untuk menebus rasa nggak enak hati saya, bagaimana kalau saya ajak kamu berkelilng Jakarta? Di dekat sini ada tempat makan yang asyik, namanya Gultik.” Briefing selama lima jam telah membuatnya lapar maksimal.

“Gultik? Gulai Itik? Terima kasih, tapi saya tidak makan itik.” 
Jawaban Jingga membuat Raga terpingkal-pingkal. 

“Kamu kebanyakan dengerin musik dangdut sih. Gultik itu bukan Gulai Itik, tapi singkatan dari Gulai Tikungan. Letaknya ada di situ tuh, tepat di dekat belokan.” 
Penjelasan Raga langsung disambut dengan bunyi “Oooh” yang panjang dari mulut Jingga. 

Mereka bercanda sepanjang malam, menyusuri liku jalanan Jakarta sambil tak berhenti menebar tawa. Namun seperti kehidupan yang juga fana, kebahagiaan itu hanya berlangsung sekejap. Seperti sapu lidi yang sudah berusaha disusun dengan rapi sekali, lalu ambyar ketika tali terputus dari ikatan.

“Bulan depan tidak usah mengirim kopi-kopi lagi ya. Saya mau stop dikirimi kopi” 

Satu kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Raga. Jingga tak bertanya mengapa. Ia hanya tersenyum sambil menarik koper menjauh dari pria yang diidamkannya, mengutuki dirinya sendiri mengapa hatinya bisa sebodoh itu dicandui oleh seorang pecandu kopi yang baru ia kenal kurang dari sehari. Namun sama halnya dengan kebahagiaan, kesedihan Jingga juga tak terjadi berlarut-larut lamanya. Jingga sedang sibuk mengurus panen raya di awal April ketika lelaki itu datang. 

“Kenapa tak bilang kalau saya sedang tidak bisa diganggu saja? Biar ia datang bertamu di lain hari”, omel Jingga kepada anak buahnya yang memberitahukan bahwa ada tamu yang memaksa ingin bertemu.

“Saya datang untuk bertemu dengan orang yang dengan rela mempercayakan kopi-kopinya kepada saya. Nggak boleh?, jawab Raga dengan lantang. Rupanya omelan Jingga terdengar nyaring di telinga Raga.

“Jadi ini alasan kamu bilang ingin stop dikirimi kopi? Agar bisa datang untuk mengambil kopinya sendiri?”

Raga tak menjawab, tapi kedua tangannya spontan merentang dan kemudian memeluk Jingga. Di sini, di perbukitan Amor, Takengon, Aceh Tengah, buih-buih cinta semakin meriah. Jingga mempersilakan Raga duduk di teras sambil menceritakan kebun kopi yang dibanggakannya. Kabut dingin menyeruap kulit. Jingga pamit masuk ke rumah untuk membuatkannya secangkir kopi yang baru matang dari mesin gilingan. Tak lama kemudian ia datang sambil membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul.

“Cara minum kopi di sini berbeda dengan Jakarta. Kopinya harus langsung diminum agar hawa panasnya tak menguap dikalahkan oleh dinginnya cuaca”, kata Jingga menasehati, yang kemudian diikuti dengan anggukan Raga.

“Mungkin itu juga sebuah metafora bahwa saya juga tak boleh lama-lama mengungkapkan cinta agar orang yang saya suka tak kecewa menunggu saya”, goda Raga sambil menatap dalam mata Jingga.
Terkadang kita tak tahu siapa dan di mana orang yang menikmati sesuatu yang kita hasilkan dengan penuh cinta. Tapi percayalah, semua akan tiba pada waktu yang tepat ketika kita sudah memiliki hak untuk mengetahuinya. 

TAMAT


(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com)

Pesona di Balik Ketenangan Nusa Penida

Beberapa dari kamu mungkin ada yang satu tipikal dengan saya – jarang pergi traveling ke tempat-tempat jauh karena datang ke tempat-tempat seru di dalam kota saja sudah bisa menghilangkan kepenatan yang ada. Namun ketika coffee shops, galleries, toko buku, dan taman-taman di dalam kota sudah tidak bisa lagi menampung jenuh, tak ada salahnya kan, bepergian ke tempat yang jauh?

Bali, menurut kami (Saya dan Tia), pun bukan tempat yang terlalu jauh. Setidaknya hampir setiap orang pernah ke sana. Terhitung empat tahun yang lalu saya juga pernah menyambangi Bali, namun bersama tour darma wisata yang hanya mengunjungi tempat-tempat mainstream seperti rombongan wisata pada umumnya. Sedangkan saya dan Tia ingin menyambangi tempat-tempat yang agak berbeda. 

Cuma berdua? Iya. Rencana kami yang bisa dibilang cukup dadakan ini membuat teman-teman yang lain tidak bisa bergabung karena sudah mempunyai rencana yang lain. Kami baru mempersiapkan segala sesuatu (itinerary, memutuskan tempat menginap, transportasi yang akan digunakan, dll) pada tanggal 9 Maret 2016. Sedangkan rencana kami berangkat adalah 26 Maret 2016. Saya yang penat dengan pekerjaan kantor dan Tia yang galau gara-gara ujian IELTS dan aplikasi beasiswanya membuat kami nekat berangkat dalam rencana traveling yang hanya butuh waktu dua minggu untuk merencanakannya.

Oya, beberapa part dari perjalanan ini juga sudah pernah saya share ceritanya di instagram. Namun, tentu saja ada the untold stories yang terlalu panjang jika saya menceritakannya di sana. Mari kita mulai cerita perjalanan yang lebih lengkapnya!

Keberangkatan dari Tangerang ke Bali
Karena flight yang cukup pagi, maka saya memutuskan menginap di rumah Tia agar subuhnya bisa berangkat ke airport bersama-sama. Setelah salat subuh, kami langsung memesan taksi dan berangkat dari Ciledug menuju Soekarno Hatta dengan ongkos Rp. 150.000 (argo taksi plus karcis masuk tol). Tak terlalu jauh ternyata, jalanan juga masih sepi sekali. Setelah itu kami naik pesawat Lion Air menuju Bandara Ngurah Rai. Banyak teman yang menyangka kalau biaya pesawat kami mahal sekali karena jadwal kami pergi liburan adalah ketika liburan panjang Paskah. Kami punya trik untuk menyiasatinya. Ketika orang kebayanyakan berangkat bepergian pada Jumat dan pulang pada Minggunya, kami memundurkan jadwal satu hari saja agar tidak mendapatkan harga tinggi pada tiket pesawatnya, yaitu berangkat pada Sabtu, lalu pulang pada Selasa siangnya. Memang, kami harus mengambil tambahan cuti kantor dua hari. Namun kami bisa mendapatkan harga Rp. 800.000 untuk pulang-pergi Jakarta-Bali & Bali-Jakarta!

Sesampainya di Bali
Kami tiba tepat waktu dan siap menuju tempat tujuan pertama kami yaitu pelabuhan Sanur. Kami memutuskan menggunakan jasa taksi resmi bandara dengan fixed price sebesar Rp. 150.000. Sebelumnya kami mendapatkan info bahwa taksi resmi inilah satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan menuju Sanur karena Grab, Uber, dan taksi-taksi lainnya tidak diperkenankan memasuki bandara. Kalau ingin mencari moda transportasi lainnya, kita harus berjalan kaki keluar bandara. Sedangkan pada saat itu kami terburu-buru ingin mengejar penyebarangan pagi di pelabuhan Sanur.

Menyeberang dari Pelabuhan Sanur ke Pelabuhan Nyuh Nusa Penida 
Kami diantarkan oleh supir taksi kami ke loket langganannya. Namun sayang, ternyata perahunya sudah lebih dahulu menyeberang sebelum kami tiba. Setelah Bapak Supir Taksi pergi, kami pun bengong berdua dan ketika itulah calo itu mendatangi kami. Bapak-bapak berperawakan tinggi besar yang jari-jarinya dipenuhi batu akik itu memaksa kami menggunakan jasanya, padahal kami sudah mengatakan tidak usah. Pada awalnya dia menawarkan tiket Maruti Express seharga Rp. 150.000 per tiketnya, namun akhirnya dia melepas dengan harga Rp. 100.000 per tiket. FYI, harga sebenarnya adalah Rp. 75.000, jadi kami rugi Rp. 25.000. Namun tidak apa-apa, hal ini menjadi pelajaran bagi kami agar tak mudah percaya dengan sembarang orang nantinya. Bagaimanapun juga, perjalanan kami ini barulah permulaan.

Maruti Express (Sanur - Nusa Penida)
Sesampainya di Pelabuhan Nyuh Nusa Penida
Dalam bayangan kami, di Pelabuhan Nyuh ini bakalan ada banyak orang yang mengerubuti kami menawarkan jasa sewa sepeda motor. Tapi kenyataannya, hanya ada satu orang bapak yang mendatangi kami. Dia menawarkan harga sebesar Rp. 100.000 lalu kami tawar menjadi Rp. 75.000. Si Bapak menyerahkan motornya kepada kami.

"Lah, spionnya mana, Pak?", tanya saya yang sok tertib padahal kalo di Jakarta nggak tertib-tertib amat; masih sering nebeng nggak pake helm dan kadang melawan arus. Akhirnya Si Bapak mengeluarkan spionnya dari dalam jok, itupun cuma dipasang satu di sebelah kanan.

Beberapa menit kemudian saya protes lagi. "Helmnya mana, Pak?"
"Nggak usah pakai helm nggak apa-apa, Mbak. Nanti kalau dimarahin polisi, bilang saja kalau nyewanya di Pak xxx. Semua polisi di sini juga kenal".

Berkeliling Nusa Penida dengan Motor Sewaan
Setelah motor sudah di tangan, barulah kita sadar di sepanjang perjalanan nggak ada yang pake helm! Pantas saja Pak xxx berani bilang seperti itu. Boro-boro liat polisi nilang, mobil yang lewat saja bisa diitung pake tangan :")

Menginap di Full Moon Inn Nusa Penida
Kami tiba dengan tenang di Nusa Penida karena pada jauh-jauh hari sebelumnya sudah memesan penginapan melalui booking.com. Namun ternyata setelah sampai di penginapannya, ownernya tidak ada di tempat dan sepertinya kami akan disuruh menunggu lama. Karena belum melakukan pembayaran sama sekali, akhirnya kami membatalkan pemesanan penginapan itu, lalu mencari penginapan lain secara on the spot. Akhirnya kami memutuskan menginap di Full Moon, bungallow di tengah-tengah kebun kelapa Banjar Ped yang teduh dengan harga Rp. 200.000 per malamnya. Pada saat kami tiba, ada banyak sekali perempuan & pemuda sebaya yang membawa papan surfing. Ternyata kami baru tahu bahwa penginapan kami juga menyediakan jasa tour keliling Nusa Penida. Mereka juga sempat menawari jasanya kepada kami. Namun saya dan Tia memutuskan untuk mengelilingi pulau ini hanya berdua, tanpa menggunakan jasa dari mereka. 

Istirahat Siang di Full Moon Bungalow Nusa Penida

Berangkat Menuju Pasih U’ug dan Angels’ Billabong
Berbekal peta manual yang digambar dengan tangan oleh Bli Arcana, resepsionis yang ada di penginapan, kami berangkat menuju Pasih U’ug dan Angel’s Billabong. Kami cukup was-was karena cuaca cukup mendung dan kami berangkat pukul 15.30 WITA, sangat sore untuk memulai sebuah adventure hanya dengan berbekal sebuah peta. Layaknya sebuah team, kami bagi-bagi tugas. Tia yang menyetir selama perjalanan dan saya yang menjadi pemandu arahnya. Tak jarang kami nyasar, namun kami bisa menemukan warung/petani/rumah-rumah penduduk yang masih bisa ditanya. Untungnya juga, di pulau ini saya masih bisa membedakan mana arah utara, timur, barat, dan selatan tanpa bantuan kompas.

"Siaul Lo, De!", ekspresi Tia waktu saya sibuk ngejepret dia padahal do'i lagi konsen-konsennya nyetir di jalanan yang berpasir kemudian melihat saya ngacir. Jalanan yang naik-turun, berpasir, dan menembus hutan ini membuat perjalanan kami ke Pasih U'ug dan Angel's Billabong menjadi terhambat. Saya pun harus rela turun dari motor, membiarkan Tia nyetir motornya sendirian, saya jalan kaki sampe ke tempat yang aspalnya normal, lalu naik ke motor lagi sampai beberapa kali. Buat yang penasaran, cek tracknya di google streetmap deh. Pertama kali liat tracknya di google saja saya sudah merinding. 

Jalanan Berpasir dan Tidak Rata Menuju Pasih U'ug
Awalnya sempat tergesa-gesa karena kami baru sampai di lokasi hampir jam lima sore setelah 1,5 jam perjalanan menggunakan motor. Tapi ternyata banyak juga orang yang masih di sana, suasananya juga belum gelap sama sekali. 

Menikmati Angel’s Billabong, Pasih U’ug dan Tebing-tebing
Alam bawah sadar lah yang membawa saya jauh ke sini, Pasih U'ug a.k.a Pasih Uwug. Jadi begini ceritanya... Di kantor ada kalender meja yang tiap hari saya hadapi dan saya bolak-balik karena pekerjaan saya berkaitan dengan schedule men-schedule. Kalender di masing-masing bulannya ada foto obyek wisata dari seluruh Indonesia, dan Pasih U’ug merupakan salah satunya. Saya baru sadar ketika H-2 mau berangkat, ternyata foto di kalender bulan Maret adalah Pasih U’ug yang memang ada di list itinerary kami! Begitu nyampe lokasinya langsung histeris "Ini nih yang ada di kalender meja gue!". Lubang yang ada di tengah-tengah yang seakan membentuk jembatan ini merupakan akibat dari penggerusan air laut. Tak hanya sibuk foto-foto, kami juga sempat mengobrol dengan travelers yang lain, termasuk pasangan suami-istri yang dua-duanya merupakan fotografer. Oya, kalau ke sini, jangan takut juga untuk menengok kubangan yang ada di dalam Pasih U’ug ini. Airnya jernih dan ikannya banyak sekali!

Pasih U'ug. Can you see me right there?:p
Angel's Billabong a.k.a Kolam Bidadari ini letaknya cuma beberapa ratus meter setelah Pasih U'ug. Untuk menuju ke situ tidak ada papan petunjuk jalannya, jadi jangan harap menemukan lokasinya secara mandiri, at least pake nanya sama tourist lainnya deh. Infinity pool yang di bawah itu terbentuk alami karena air pasang yang mengisi cekungan. Dasar kolamnya bening sekali, cocok buat berenang dan ngambang-ngambang. Sayangnya saya nggak bisa berenang plus males harus turun dari tebing sedalam 3-5 meter dari tempat saya duduk ini.

Angels' Billabong a.k.a Kolam Bidadari
Tebing yang tidak ada namanya ini kami temukan tak jauh dari Angels’ Billabong. Betul-betul ngawur karena cuma kami berdua yang ada di sana sore tadi, mungkin kayak gitu kali ya sewaktu Columbus menemukan Benua Amerika :p Warnanya mengingatkan kami dengan milkshake warna biru, membuat kagum sekaligus haus di saat yang bersamaan. Setelah lega mendapatkan 3 objek wisata dalam waktu yang bersamaan, kami memutuskan untuk pulang. Kami cabut dari lokasi pukul enam enam sore lebih, tapi say whaat? Masih lumayan terang lho! Sampai sekarang kami masih tidak percaya sudah melewati pengalaman itu semua padahal cuma berdua dan cewe-cewe. Meskipun merasakan hal-hal yang agak ganjil selama perjalanan pulang, beruntungnya nggak ada hal yang buruk menimpa kami, cuma keesokan paginya ban motor kami bocor sih. Jeng jeng!

Tebing (Yang entah apa namanya) tapi bagus

Sarapan di The Gallery
Akhirnya kami menemukan tempat sarapan yang nyaman dan ternyata hanya berjarak satu meter dari tempat kami menginap. Untuk perihal makan, saya kompakan dengan Tia “Nggak doyan makan!”. Pada hari pertama sampai di Nusa Penida, kami hanya makan siang dengan beberapa keping biskuit yang kami beli dari swalayan kecil di dekat pasar. Untuk makan malamnya, saya hanya makan dengan omelet yang sudah pasti halal. Dan di hari ke-dua di Nusa Penida ini, saya sarapan dengan Banana Pancake dan Rosella Tea hangat di The Gallery.

Sarapan di The Gallery

Pemilik tempat sekaligus kokinya adalah Pak Mike, bule yang kemampuan Bahasa Indonesianya udah lancar sekali. Bunga Rosella dan beberapa bahan yang tersaji di rumah makan ini beliau tanam sendiri di kebun belakang rumah. Fix, setiap kali meminum teh rosella saya akan teringat dengan tempat ini. Ternyata bukan hanya local people yang level sincerity-nya tingkat dewa. Atau karena udah kelamaan tinggal di situ jadi sifatnya mengikuti local peoplenya kali ya? Beliau bahkan mengingatkan saya untuk cepat-cepat makan. "Nanti kalau lembek, pancakenya tidak enak”.

Gagal ke Bukit Atuh dan Tanglad (Bukit Teletubbies)
Pada hari ke-dua di Nusa Penida, seharusnya masih ada dua tempat tujuan lagi yang ingin kami capai yaitu Bukit Atuh (yang pemandangannya terkenal nggak beda jauh dengan Raja Ampat) dan Tanglad (Bukit Teletubbies). Namun ada tiga alasan yang membuat kami tak jadi pergi:
1. Ban motor kami masih bocor dan tambal ban baru buka pukul delapan pagi
2. Hujan
3. Tia sudah tidak sanggup menyetir di medan berat seperti perjalanan kemarin

Akhirnya kami merelakan dua tempat tujuan itu, lalu bergegas mengepak barang bawaan dan mencari tiket menyeberang ke Bali. 

Menyeberang dari Pelabuhan Buyuk Nusa Penida ke Pelabuhan Pesinggahan
Karena ingin melanjutkan perjalanan ke Bali Timur, kami tidak menyeberang ke Sanur, melainkan ke Pelabuhan Pesinggahan. Kami menaiki perahu Caspla Boat seharga Rp. 55.000 per orangnya. Sebetulnya kami bisa-bisa saja menyeberang ke Padang Bai dari pelabuhan Buyuk ini. Namun menurut saran dari Ibu-ibu di tempat kami menambal ban, kami disarankan menyeberang ke Pesinggahan saja daripada ke Padang Bai. “Dari pelabuhan Padang Bai, kamu harus naik ojek dulu ke luar pelabuhannya, baru kemudian bisa mencari transport. Tapi kalau di Pesinggahan, kamu hanya perlu jalan kaki 5 menit untuk bisa mencari transport”. Berbekal dari tips ibu itu lah akhirnya kami memutuskan menuju Pelabuhan Pesinggahan. Bersambung.

Caspla Boat (Buyuk - Pesinggahan)

P.S. Di postingan blog berikutnya saya akan menceritakan perjalanan selama di Bali Timur. Menyinggahi pantai yang masih tak banyak orang tahu dan Desa Adat Tenganan. Tunggu yaa! ;) 

Catatan Pengeluaran untuk 2 orang:
Taksi Ciledug – Bandara Soetta: Rp. 150.000
Pesawat Jakarta-Bali: Rp. 800.000
Taksi Ngurah Rai – Pelabuhan Sanur: Rp. 150.000
Maruti Express (Pelabuhan Sanur – Pelabuhan Nyuh): Rp. 200.000
Sewa motor + ongkos ojek bapaknya: Rp. 100.000
Bensin: Rp. 100.000
Penginapan Full Moon: Rp. 200.000
Makan 2x: Rp. 120.000
Tambal ban: Rp. 10.000
Caspla Boat (Pelabuhan Buyuk – Pelabuhan Pesinggahan: Rp. 110.000

TOTAL: Rp. 1.940.000 untuk 2 orang